
Semakin bertambahnya usia kandungan, berbagai keluhan silih berganti mengganggu kenyamananku. Entah saat pagi aku merasakan kepalaku berat seperti ada tumpukan kelapa menggelayut di sana.
Atau aku akan kesulitan meninggalkan tempat tidur karena merasa pusing. Belum selesai hanya dengan kepala yang terasa berat dan pusing. Malamnya aku harus menikmati nyeri di seluruh persendianku.
Inikah yang dinamakan nikmatnya akan menjadi seorang ibu? Sebelumnya aku bahkan tidak membayangkan akan merasakan hal-hal semacam ini saat mengandung. Kupikir wanita hamil hanya akan merasakan berat di perutnya karena berisi bayi.
Tapi nyatanya ada banyak kejutan yang tak terpikirkan olehku sama sekali. Setiap pukul satu malam aku selalu terbangun. Bukan untuk ke kamar mandi atau karena tenggorokanku yang kering kehausan. Aku justru merasa sudah cukup menikmati tidurku.
Padahal untuk bisa tidur dengan pulas aku harus melakukan banyak ritual terlebih dulu. Seperti minta dibacakan ayat suci oleh suamiku. Atau minta di usap bagian pinggangku. Belum lagi kalau kakiku terasa pegal, aku takkan canggung meminta Rio membawakan air hangat agar aku bisa merendam kaki.
Jika sudah terbangun seperti itu, aku biasanya sholat malam sendirian tanpa membangunkan suamiku. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Aku lebih memilih untuk menunggu sampai dia bangun sendiri karena Rio juga sudah memasang alarmnya.
Anehnya, untuk melanjutkan tidurku hingga fajar aku hanya perlu pelukan suamiku. Bukankah aku sangat merepotkan? Tapi suamiku begitu sabar menghadapiku.
Malam ini lebih aneh lagi. Sebab jarum jam masih menunjukkan pukul 11 malam. Itu berarti baru dua jam lalu aku memejamkan mata. Tapi kenapa aku sudah kembali terbangun? Kantukku bahkan sudah sirna hanya dengan menikmati tidur selama 2 jam.
Kusandarkan punggungku pada headboard sejenak aku terdiam. Mengingat banyak hal yang tengah aku rindukan. Aku ingin kembali ke toko, bertemu Lili, Mbak Nia, dan juga para pembeli yang silih berganti berkunjung untuk memboyong koleksi bajuku.
Aku rindu aktivitasku. Saat otakku sedang penuh memikirkan hal-hal yang kurindukan. Sesuatu tiba-tiba melintas di benakku dan menyingkirkan segalanya yang tadi berjejalan di dalam pikiranku.
Kenapa selarut ini aku mencium aroma daging bakar? Memangnya siapa yang sedang menggelar pesta barbeque di komplek perumahan ini?
Aku penasaran karena aroma daging yang terbang ke kamarku tiba-tiba itu membuat air liurku terus mengucur. Kusibak pelan tirai jendela. Dengan bantuan cahaya lampu balcon yang tak pernah aku padamkan, pandanganku menyapu seluruh daratan.
Tidak ada yang sedang menggelar pesta barbeque atau semacamnya. Lalu darimana asal aroma daging bakar ini? Bahkan harumnya uap daging yang terpanggang masih bisa aku cium.
Rasa penasaran semakin mendorongku untuk berbuat nekat. Akhirnya dengan berusaha agar tak menimbulkan suara yang bisa membangunkan suamiku, aku mendorong pelan jendela kaca yang sekaligus adalah rolling door akses menuju balcon.
Jalanan komplek nampak sepi. Tidak ada satupun manusia yang terlihat masih beraktivitas di luar rumah mereka. Tanah lapang yang tak terhindar dari jangkauan netraku juga nampak gelap dan kosong.
__ADS_1
Apa ini hanya halusinasiku saja? Aku masih berusaha mengendus aroma daging panggang, dan masih ada sama sekali belum menghilang.
Setelah berdiri agak lama dalam kebingungan. Gerobak tukang sate tiba-tiba saja melintas di jalanan komplek. Dari sanalah asal aroma daging bakar yang sedari tadi mengganggu indera penciumanku.
Reflek aku berteriak dengan keras dari atas balcon memanggil tukang sate yang sudah melintas depan rumah. "Tunggu, Bang! Beli …!" teriakku. Aku bahkan lupa kalau suamiku masih tertidur pulas. Akibatnya Rio kaget dan bangun untuk melihatku yang tiba-tiba berteriak dengan sangat keras.
"Umi mau kemana?" tanya Rio begitu melihatku berjalan meraih khimarku dan akan keluar kamar.
"Mau beli sate," jawabku tanpa menghentikan langkah sembari memakai jilbab.
"Stop!" cegah Rio saat aku meraih knop pintu.
"Kenapa? Abi mau juga? Oke, akan umi belikan juga. Jangan khawatir, umi tidak melupakan Abi," balasku.
"Bukan itu Sayang. Tunggu sebentar, abi akan ikut denganmu." Rio langsung bangun dan memakai sandalnya. Dia juga meraih jaket jeans hitam kesayangannya. Aku hanya diam terpaku melihatnya tanpa memutar knop pintu yang sedari tadi masih kupegangi.
Sampai di teras rumah, keadaan sekeliling nampak sangat sepi. Hanya ada suara jangkrik bersembunyi di balik rumput jepang yang menghampar di taman depan rumah.
Pintu gerbang masih tertutup rapat. TV di pos satpam nampak menyala, rupanya pak satpam sedang menonton siaran piala dunia. Pak satpam yang menyadari kedatanganku dan Rio langsung melangkah keluar dari pos, meninggalkan acara yang tengah asik ditontonnya.
"Mau kemana Mbak, Mas, malam-malam begini?" tanyanya dengan sopan padaku dan Rio.
"Bapak lihat ada tukang sate lewat sini? Ini … Indy ingin makan sate," tanya Rio sembari memberi penjelasan.
"Oh iya, betul. Barusan saja lewat depan rumah. Apa mau saya panggilkan saja, Mas?" tawarnya pada sang majikan.
"Boleh, suruh masuk ke dalam. Saya tunggu di teras." Rio kembali membawaku ke teras. Meski aku diizinkan berjalan, Rio tak melepaskan rengkuhannya dari pundakku sedari tadi.
"Umi lapar?" tanyanya saat dia berhasil mendudukkanku di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Tidak," jawabku dengan menatap manik matanya.
"Tapi ingin sekali makan sate," sambungku.
"Makanlah yang banyak. Agar Umi dan bayi kita sehat." Jemarinya dengan nakal mencubit pipiku.
"Abi … jangan suka cubit pipi umi. Nanti tambah melar, gimana?" protesku seraya mengusap bekas cubitan tangan suamiku yang sebenarnya tak sakit.
"Biar saja," balasnya tak membuang sedikitpun pandangannya dariku.
"Nanti umi jelek, pipinya jadi menggelambir. Bagaimana?" ucapku lagi menakutinya.
"Abi akan tetap cinta." Rio membawa dua tanganku dan menempelkannya pada bibirnya yang merah itu.
Ya Tuhan … rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam hatiku. Aku juga tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagia karena mendengar ucapan cintanya tadi. Seulas senyum menyungging dibibirku kala sentuhan bibirnya mendarat di kedua punggung tanganku.
Apakah benih cinta mulai bersemi di hatiku? Kenapa aku begitu senang mendengar ucapan cintanya tadi? Padahal biasanya aku tak sebahagia ini kala mendengar puisi-puisi cintanya.
Hallo kakak-kakak pembaca novel MCS 2
Apa kabar? Aku doakan selalu sehat dan bahagia ya untuk kalian semua dan tentunya juga untukku sendiri hehhehe...
Sampai di chapter ini aku sangat bersyukur karena kalian masih dengan setia membaca karyaku yang penuh dengan kekurangan ini.
Maaf karena aku jarang membalas komentar kakak-kakak semua
Tapi aku selalu membaca komentar kalian. Karena sebuah kata yang tertulis dan kalian tanggalkan di kolom komentar seperti sebuah suntikan energi baru untukku.
Terimakasih sekali lagi dan sampai jumpa di next chapter.. aku harap kalian terhibur dengan tulisan ini.
__ADS_1