Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Pikiran Buruk


__ADS_3

Walaupun setiap hari Rio datang ke toko untuk sekedar menerima laporan penjualan dari Lili, aku tetap tidak bisa sepenuhnya mengangkat tangan dan melepas tanggung jawabku atas toko yang sudah kubangun dengan jeri payah itu.


Ya, begitu semua aktivitasku telah disita paksa suamiku. Aku menyerahkan toko pada Lili, sahabatku yang sangat aku percaya. Dia menjadi satu-satunya orang yang bisa aku andalkan untuk mengawasi kegiatan distribusi toko.


Aku bisa membayangkan bagaimana dia setiap hari harus kerepotan. Mengurus kehidupannya sendiri dan ditambah dengan mengurus toko pakaianku yang setiap hari tak sepi pengunjung. Aku yakin setiap malam dia akan memijat pelipisnya dan juga betisnya.


Aku hanya bisa menyuntikkan energi untuknya lewat pesan singkat setiap harinya. Berharap Lili tak akan ambruk sebab kelelahan. Untaian doa layangkan seraya menyebut namanya. Meminta agar Allah senantiasa memberikan nikmat sehat pada sahabatku yang teramat aku sayangi itu.


Tapi akhir-akhir ini pikiran jelek menghantui pikiranku. Mendorongku untuk mencurigainya yang setiap kali bertemu dengan suamiku. Pikiran ini datang memang ada sebabnya. Apalagi kalau bukan karena mereka dahulunya sempat saling menautkan perasaan.


Aku benar-benar cemburu, setiap kali Rio kembali dengan wajah sumringah dan mengatakan jika keadaan di toko baik-baik saja dan terkoordinir dengan apik.


"Tidak perlu khawatir. Kamu tidak memilih orang yang salah untuk membantumu menjaga toko sementara waktu." Senyumnya kian melebar saja. Aku sungguh tidak suka. Sebenarnya apa yang telah membuatnya begitu sumringah? Bukankah seharusnya wajahnya nampak lelah dan lusuh karena tenaganya telah terkuras seharian berkegiatan? Pikiran menjijikan ini telah menguasaiku.


"Mulai besok Abi tidak usah lagi datang ke toko," celetukku dengan ketus.


"Lho … kenapa? Lalu bagaimana Umi bisa mengetahui laporan penjualan jika bukan abi yang memeriksanya langsung?" Rio terkejut dengan keputusan yang aku ambil secara tiba-tiba.


"Pokoknya tidak usah lagi ke toko. Masalah laporan penjualan nanti umi pikirkan lagi," balasku dengan keukeuh.


"Ada apa Mi? Kenapa abi merasa Umi tidak lagi mempercayai abi? Apakah abi melakukan kesalahan?" Kuakui sebagai seorang suami, Rio memang memiliki hati yang sangat peka. Sedikit saja raut wajahku atau nada bicaraku terdengar lain, dia akan langsung menyadarinya.


"Besok umi akan ikut Abi ke toko. Tolong jangan larang umi." Ucapanku seperti ketuk palu keputusan jaksa yang tidak bisa diganggu gugat.


"Baik, abi tidak akan melarangmu. Tapi Umi harus menunggu sampai abi menjemput. Jangan berani-berani ke toko sendian." Rio tak ingin kalah. Dia tetap membuat peraturan untukku.


"Hmm." Aku sedang tidak ingin banyak mengobrol dengannya saat ini. Hatiku tengah diselubungi rasa cemburu dan curiga yang campur aduk menjadi satu.


*


*

__ADS_1


*


Tepat pukul 4 sore selesai kuliah, Rio menjemputku untuk pergi ke toko. Sebenarnya bukan laporan penjualan tujuan pertamaku. Dan lagipula aku sangat percaya pada Lili mengenai amanah yang aku titipkan kepadanya. Lili tidak akan mencurangiku dalam hal itu.


Tapi aku mencurigainya dalam hal lain. Ya, walau lidah bisa berkata sudah tak cinta lagi tapi hati siapa yang bisa tahu. Bisa saja masih ada secuil rasa yang tersisa di dalam hatinya untuk Rio. Dan bukan tidak mungkin keduanya memanfaatkan situasi sekarang ini untuk mencurangiku.


Aku yang hanya bisa diam di rumah dengan seribu peraturan suamiku. Aku tidak bisa membantahnya. Bagaimanapun juga semua itu demi kebaikanku dan calon anakku.


Namun aku tidak bisa menaruh seribu persen kepercayaan yang aku miliki pada suamiku. Mengenai hal satu ini, aku tidak bisa percaya padanya sepenuh hatiku. Mereka putus karena terpaksa. Sebab perjodohanku dan Rio, Lili harus kehilangan Imam yang sangat ia idamkan.


Tidak mustahil juga Lili sedikit menaruh dendam padaku. Dan di kesempatan ini dia akan membalaskan dendamnya padaku. Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Rio sudah sah menjadi milikku saat ini. Lili bahkan tidak berhak lagi menyimpan nama suamiku di dalam lubuk hatinya.


"Tidak," gumamku yang terdengar lirih namun telinga Rio bisa menangkapnya.


"Apanya yang tidak, Sayang?" tanya Rio kemudian.


"Emmm … mau tau saja abi," elakku.


"Tidak ada. Abi fokus saja menyetir agar kita cepat sampai ke tujuan," titahku yang kembali melempar pandanganku keluar jendela mobil. Menerawang apa yang sebenarnya tengah terjadi. Mengapa pikiranku kacau begini. Dan kenapa hatiku sangat menggebu ingin menangkap basah mereka.


Kali ini aku menggelayut dengan manja pada lengan suamiku. Aku tak membiarkan angin menyusup celah barang satu centi pun jarak antara tubuhku dan Rio. Ya, aku benar-benar merapatkan tubuhku dengannya. Aku ingin seisi semesta tahu, bahwa akulah bidadari pemilik hati pangeran tampan yang berjalan bersamaku ini.


"Assalamualaikum," ucapku dengan nada ramah mencoba menyembunyikan hatiku yang tengah kacau ini.


Aku melangkah masuk bersama dengan suamiku. Dua gadis menyambut kedatanganku dengan antusias. Mbak Nia mula-mula menumpahkan rindunya padaku dengan memelukku sangat erat.


"Kangen Mbak Indy …," serunya dalam pelukan.


"Uwes to Ni, kasihan debay di perut Indy. Kejepit pelukanmu." Suara Lili memecah kerinduan yang tengah ditumpahkan Mbak Nia padaku.


"Iyo-iyo … bilang saja Mbak Lili juga mau peluk Mbak Indy juga 'kan?" balas Mbak Nia dengan ledekan.

__ADS_1


"Tentu …." Kini berganti Lili menghambur memeluk tubuhku.


Namun satu hal yang tak aku lakukan seperti biasanya. Aku tidak membalas pelukan mereka. Sebab meski tubuhku sedikit berjarak dengan suamiku saat ini, aku tidak sama sekali melepaskan kaitan jemariku dengannya.


"Tumben kamu ikut, Ndy?" lanjut Lili setelah melepas rindu.


Memangnya kenapa jika aku ikut? Kamu tidak suka? Atau kamu jadi tidak bebas mengobrol dengan suamiku karena sekarang ada aku di sini? Aku membatin.


"Aku rindu toko," jelasku menutupi kerancuan yang terjadi di hatiku.


"Mbak Indy tenang saja, kami menjaga toko dengan baik. Semuanya aman terkendali," timpal Mbak Nia.


Apa kamu juga ikut menutupi semuanya, Mbak? Kamu tega melakukan ini padaku, padahal aku juga menaruh percaya padamu. Batinku.


"Alhamdulillah," ucapku membalas Mbak Nia.


"Aku akan tunjukkan laporan penjualan hari ini padamu. Ayo … kamu bisa melihatnya dengan duduk di sofa supaya lebih nyaman." Aku tak banyak membalas percakapan.


Kuperhatikan dengan teliti, adakah sesuatu yang mencurigakan di tempat ini? Aku belum bisa melihatnya secara pasti. Tapi aku akan menunggu.


Rio bangkit dari sampingku. Dan berjalan ke arah Lili yang sedang menulis sesuatu di buku. Beberapa kali Rio membantu Lili menyelesaikan pekerjaannya. Jemarinya bahkan tak canggung menunjuk bekas goresan tinta yang Lili bubuhkan di atas kertas.


Jadi begini yang kalian lakukan? Meski ada aku di sini, kalian berani memperlihatkan kemesraan itu di hadapanku. Tega sekali, aku sungguh tidak tahan melihatnya. Darahku sudah mendidih rasanya menyaksikan perbincangan diantara mereka. Apalagi sesekali Lili menyunggingkan senyumnya. Bahagiakah kalian melakukan ini padaku?


"Masih lama? Aku sudah lelah, aku mau pulang sekarang. Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban aku langsung berjalan gontai mendorong pintu hingga terbuka dan berdiri tepat di samping pintu mobil yang masih terkunci.


"Umi capek? Kenapa paksakan pergi ke toko? Ya sudah, abi akan segera membawa Umi pulang." Suamiku menghampiriku dengan cepat dan nampak mengkhawatirkan kondisiku.


Di dalam perjalanan tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku. Bahkan banyak pertanyaan yang Rio lontarkan tak satupun aku jawab.


Rio membelah jalanan dengan cepat. Dia mengerti jika yang aku butuhkan saat ini adalah rumah. Aku ingin kembali mendapatkan ketenangan.

__ADS_1


__ADS_2