Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Bidadari Kecilku


__ADS_3

Sore ini aku tidak lagi pulang dengan memesan taksi online. Pasca kejadian jatuh dari motor yang mengakibatkan aku kehilangan janinku, aku tidak menyentuh lagi benda berbahan besi baja yang dulu menjadi kesayanganku.


Aku pulang bersamanya, bersama suamiku. Dia berada di toko seharian, menemaniku duduk di meja kasir. Tak banyak bicara, dia hanya terus memandangiku saja. Entah apa yang tengah dia pikirkan, mungkin Rio tengah berusaha mengingat kenangan kita yang hilang.


Sepanjang jalan dia memegang tanganku. Tak ia biarkan mobil memangkas perjalanan dengan cepat.


Kami tidak langsung pulang, sore itu, ditemani cahaya senja yang menyorot tegas, untuk pertama kalinya aku duduk di samping pusara anakku ditemani Rio.


"Ini anak kita," kataku begitu sampai di sana. Aku duduk di samping sebuah gundukan tanah berukuran satu meter yang masih basah.


"Assalamualaikum, Nak. Ini abi," jawabnya sembari merangkulku.


Tangannya seakan tak ingin lepas dariku. Rio terus menggenggam, merangkul, bahkan tak segan sesekali memeluk singkat. Aku tak tahu apa ynag ttengah ia rasakan.


Sedang membangunkan memorikah dia? Atau ... mungkinkah dia sedang beradap tasi denganku yang pagi tadi mengejutkannnya dengan sebuah pengakuan bahwa aku istrinya?


Kami berdoa cukup lama di sana. Hingga senja mulai meredup dan cahaya hampir hilang. Kami akhirnya berpamitan, pada malaikat kecil yang insyaallah akan menjadi penyambut kami di pintu syurga nanti.


Bapak mertua sangat terkejut, bahkan menyambut kedatangan kami dengan raut kebingungan. Rio menceritakan segalanya, semua yang terjadi tadi pagi. Tentang pengakuanku.


Adzan maghrib berkumandang tak lama setelah kami berbincang. Aku lebih dulu pamit untuk membersihkan diri. Aku dikejutkan lagi, usai mandi, rio sudah duduk di ranjang kamarku.


"Abi tidak mandi?" Pertanyaan itu yang terlontar pertama kali saat mendapatii dirinya ada di kamarku.

__ADS_1


"Apa kita selalu mandi sendiri-sendiri? Maksudku, kita sudah meniikah, apa kita tidak pernah mandi bersama?"


Aku tertunduk bukan sebab malu atas pertanyaannya. Tapi aku sedang mengingatnya, kapan aku pernah mandi dengannya? Bahkan kesadarankuu akan cintanya saja baru tumbuh belum lama.


"Umi melamun?" Dia mendekat, meraih tubuhku lalu mendekap. Seketika suhu tubuhnya yang hangat merambat ke tubuhku.


"Kita belum pernah melakukannya." Dia memang lupa ingatan, tappi tak seharusnya aku membohonginya juga.


"Benarkah? Bagaimana rumah tangga kita? Coba Umi ceritakan," pintanya.


"Akan aku ceritakan setelah kita sholat," jawabku.


Rio setuju, dia melnggang ke kamarnya untuk mandi. Sebelum pergi dia tidak lupa memintaku menungguinya agar kami bisa sholat berjamaah.


Malam ini diisi dengan kami yang saling bertukar cerita. Lebih dulu aku yang bercerita tentang bagaimana kondisi rumah tangga kami.


"Abi pasti sangat mencintimu, kan? Terbukti perasaan ini tidak hilang meski abi lupa ingatan." Dia membiarkan aku duduk menyandar di dadanya. Aku leluasa menghirup wangii tubuhnya, merasai desir nafasnya, dan mendengar detak jantungnya yang bergerak teratur.


"Ya, Abi sangat mencintaiku. Dan umi menjadi istri durhaka."


"Durhaka? Bagaimana mungkin, bidadari ini menjadi durhaka?" Dia bingung mendengar penuturanku.


"Ya, sebab umi terlambat menyadari bahwa cinta Abi tidaklah bertepuk sebelah tangan. Selama ini umi terus mengelak, bahkan menolak kasih sayang Abi. Umi baru menyadarinya, begitu kematian hampir menjemput Abi."

__ADS_1


"Alhamdulillah, ,meskipun abi tidak ingat bagaimana rumah tangga kita dulu. Tapi sekarang lembaran yang penuh warna, yang mungkin dulu abi idamkan akan segera terwujud. Umi sudah membalas cintaku."


Aku tidak menyangka bahwa dia akan memberikan respon setenang ini. Kiini giliran aku yang bertanya, dia berkata bahwa akan menceritakan sesuatu hal padaku tadi pagi. Aku menagih janjinya sekarng.


"Hal apa yang ingin Abi ceritakan?"


"Aku didatangi malaikat kecil kita. Setiap malam, selepas hari dia meninggalkan rahimmu, dia datang di mimpi abi. Memanggil-manggil abi, hnaya suaranya yangg abi bisa dengar dari kejauhan, lembarn kain putih panjang menjuntai seperti yangg Umi pakai, dia juga memakainya. Rasa-rasanya, dia adalah bidadari kecil."


"Benarkah? Dia pasti bercahaya, alangkah bahagianya jika bidadari kecil mau datang ke dalam mimpiku juga."


"Dia sangat bercahaya, cahaya terang mengelilinginya. Cahaya itu adalah doa-doa dari ibunya yang secantik biidadari."


"Kenapa dia hanya datang ke dalam mimpi Abinya? Tidakkah dia ingin bertemu uminya?" Aku merasa sangat cemburu.


"Dia datang sebab ingin memberitahu, diaingin abi segera kembali memeluk uminya. Melipur kesedihan dan menghempas rasa sepi dari hati Umi." Rio benar-benar pandai menghiburku.


Aku update double karena besok giliran nabung bab untuk pf sebelah🙏


Semoga part ini bisa membayar tangisan kemarin yang aku buat


Jangan lupa tinggalkan suntikan semangat untukku di kolom komentar


Terimakasih untuk yang setia memberi like dan vote

__ADS_1


i love you all....♥️


__ADS_2