Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Menuju Episode Terakhir


__ADS_3

Aku sudah tidak menutup diriku lagi semenjak hari itu. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Membawaku ke hari yang sangat aku nantikan. Hari di mana aku akan melahirkan.


Ya, Allah memberiku rahma lagi. Sekali lagi aku diberikan kepercayaan oleh-Nya. Untuk menjaga seorang malaikat mungil yang akan segera hadir menggantikan malaikat yang dulu pernah gagal aku peluk dengan nyata.


Kehadiran bayi ini di dalam perutku meadi jembatan yang memutus keraguan di dalam hatiku yang sempat hadir dan hampir saja memisahkan aku dan Rio.


Aku mulai benar-benar yakin, setelah beberapa kali istiqoroh kulewati dan Allah memberiku jawaban lewat janin ini. Aku sangat yakin bahwa inilah jawabannya.


Satu tahun sudah aku menunggu dan masih terus berdoa agar ingatan Rio segera kembali. Aku ingin kembali hidup dengan suamiku yang dulu. Yang tidak bertanya untuk memastikan sesuatu di masa lampau yang hilang di ingatannya.


Aku ingin dia kembali seperti dulu. Yang jika aku memberinya pelukan erat dia akan memelukku lebih erat. Bukan malah bertanya, sesering apa kita berpelukan seperti ini?


Atau saat aku ketahuan memandangi wajahnya saat dia tertidur. Jujur, aku ingin dia kembali seperti dulu lagi. Aku lelah terus menjelaskan. Aku lelah terus menjawab pertanyaan.


Aku ingin seperti dulu lagi. Dengan hatiku yang telah membalas cintanya. Dengan hatiku yang telah sepenuhnya terpatri namanya. Dengan segala keraguanku atas dirinya yang telah sirna.


Sore nanti jadwal terakhir cek kandungan sebelum jatuh hari persalinan. Rio berjanji akan pulang lebih cepat. Seperti bulan-bulan sebelumnya, dia rutin menemaniku cek kandungan.


Tak sabar rasanya menunggu sampai sore. Aku menelepon dokter untuk merubah jadwal bahwa aku akan datang selepas dhuhur saja.


Perubahan jadwal pun dikofirmasi. Aku hanya tinggal menelepon suamiku saja. Kurasa dia juga tidak akan keberatan jika harus sampai di rumah lima belas menit lagi.


Jarak komplek yang kami tinggali dengan toko furniturnya jutidak begitu jauh. Dan lagipula, Rio tidak benar-benar mengurus toko yang belum genap setahun dirintisnya itu sendirian.


Rio sudah bisa mempekerjakan lebih dari lima orang di tokonya. Meski belum berdiri lama, tapi toko itu sudah berkembang sangat pesat. Branding harga miring menjadikan toko yang diberi nama 'Langgeng Jaya Furniture' itu cepat mendapat banyak langganan.


Aku semakin tak sabar lagi saat Rio mengonfirmasi bawa dia akan segera pulang untuk menjemputku. Bergegas aku mengganti baju dan berdandan tipis. Bukan sebab akan pergi aku berdandan, tapi justru untuk menyambut kepulangan suamiku.

__ADS_1


Toh aku memakai petup wajah jika keluar dari rumah. Aku masih menjaga marwahku sampai detik ini.


Sudah lewat dari sepuluh menit, aku menunggu rio dengan cemas di teras. Apa suamiku itu akan mengingkari janjinya?


Tasbih terus bergulir di jemari tangan kananku. Sesekali pandangan ini memeriksa pintu gerbang tinggi yang tak kunjung terbuka tanda seseorang datang.


Aku semakin cemas, saat dua puluh menit berlalu tapi suamiku tak juga datang. Kuputuskan menelponnya ulang. Tak diangkat.


Kesal sekali rasanya. Dia sudah berjanji, tapi kenapa tiba-tiba mengingkai tanpa memberiku alasan pasti. Seharusnya Rio bisa menolak atau memintaku berangkat sendiri agr aku tidak mununggunya dengan kecewa seperti ini.


Tak bisa menunggunya lebih lama lagi, aku memanggil tasi online, aku akan berangkat sendiri.


Belum setngah perjalanan aku lalui duduk di dalam taksi online, handphone-ku berdering.


"Assalamu'alaikum, Abi?" Nama Rio yang tertera di layar gawaiku.


"Kecelakaan?! Di-di mana?!" Aku tergagap sangking paniknya.


"Kami dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Wiryo Kusumo."


"Baik, saya akan segera menyusul. Maaf, Pak, bagaimana kondisinya?" Aku berusaha mengendalikan kecemasanku.


"Saya tidak bisa menjelaskannya, Mbak."


Sambungan telepon terputus. Aku meminta pada sopir taksi online agar memutar arah menuju alamat rumah sakit yang tadi seseorang katakan di dalam telepon.


Kemudian aku menelepon dokter untuk membatalkan pertemuan, karena pasti dokter sudah menungguku sejak tadi. Yang terakhir, aku menghubungi bapak mertuaku.

__ADS_1


Aku langsung menuju IGD rumah sakit dengan menyeret tubuhku yang sudah membengkak ini sedikit lebih cepat. Pertama yang aku jumpai adalah seorang laki-laki mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sesiku dengan noda darah mengotori beberapa bagiannya.


Apa itu noda darah suamiku? Apa kondisinya sangat parah? Kenapa kemeja itu terlihat sangat basah oleh darah dan bes nodanya sangat lebar?


"Istrinya Mas Rio, ya?" Tergopoh-gopoh dia mendekatiku. Aku langsung mengangguk mengiyakan pertanyaannya itu.


"Ini handphone suami, Mbak. Mas Rio ada di dalam, sedang ditangani dokter," katanya dengan wajah serius.


"Terimakasih, Bapak yang menolong suami saya?"


"Maaf, Mbak. Saya yang menabrak Mas Rio. Sumpah, demi Allah, saya tidak sengaja. Saya tidak lihat Mas Rio mau menyebrang jalan. Mas Rio muncul tiba-tiba dari depan mobil." Laki-laki itu menjelaskan kronologi kejadiannya.


"Saya akan bertanggung jawab, Mbak. Saya tidak akan lari," ucapnya penuh sesal.


Aku hanya diam. Hanya terus menghirup oksigen yang kurasa kian menipis. Pikiranku larut dalam kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Apa mungkin bayi ini tida akan mengenal ayahnya? Sama seperti bayiku sebelumnya yang juga tak sedikitpun mengenal ayahnya?


Semoga ending yang aku tulis tidak mematahkan harapan kalian tentang Kisah Indy-Rio ya..


Maaf jika novel ini berakhir dengan kesan tergesa-gesa dan tidak sesuai harapan


Aku sangat berusaha untuk melunasi janji kalau novel ini akan tamat di sini


Oh ya, akan aku kabari di sini kalau nanti novel ini selesai di revisi ya.. kalian bisa baca versi Indy-Rio dalam kemasan yang baru dan tentunya akan ada ending yang lebih manis


Terimakasih untuk pembaca setia dan terimakasih untuk semua dukungan dari awal hingga akhir. Episode terakhir akan update setelah bab ini. Sampai jumpa di karyaku selanjutnya... Big Love You Inreaders (Inreaders\=pembaca setia Indri)

__ADS_1


__ADS_2