
Mama Rima Menagis Tersedu-sedu di samping Papa Yang terbaring dengan Alat-alat medis di tubuh.Mama memohon Agar Suami nya cepat Sadar.
lain Di rumah Satria Ibu pingsan Tidak sadar kan Diri setelah mendengar Jelas penuturan Ayah akan Rahasia Yang selama Ini Ia tutup Rapat-rapat.
Risky Dan Andi menentang Ayah habis-habisan karena Melihat Ibu pingsan,Tampa Tau apa penjelasan Ayah pada Ibu Mereka.
Cukup Risky....Ayah membentak Risky karena sudah tidak di hargai lagi sebagai orang tua.
Apa yang cukup Yah belum puas Ayah dengan apa yang sudah terjadi selama ini kenapa tidak Ayah bunuh saja Kami semua sekalian biar Ayah puas, Risky berteriak meluap kan kemarahan nya.
Ayah terduduk sambil memegang kepala nya, sungguh Ini semua membuat Hati dan perasaan nya hancur walau Ia sadar semua yang terjadi sebagian dari ulah nya.
Assalam mualaikum...di tengah-tengah gejolak panas Dalam rumah Satria Dewi bertamu karena Ia akan segera pulang ke belanda.
Dewi mencari Tau alamat Ayah Nya pada supir yang di tugas kan menjemput dan mengantar keluarga Satria.
Sahutan Salam Pun hanya Sepasang kembar Yang menjawab karena mereka sedang duduk mendengar setiap pertengkaran dari dalam Ruma.
Juwi Dan Wira bangkit menyalami Dewi dan suami nya.
Kakak Siapa Tanya Wira....Dewi tersenyum pasti ini lah ini anak dari Ayah nya, Dewi jongkok agar tinggi nya sejajar dengan si kembar.
Kalian kembar.....tanya Dewi melihat Juwi Dan Wira secara bergantian,, Iya kak....jawab juwi.
Siapa Nama Kalian.....tanya Dewi gemas melihat si kembar mencubit sayang kedua pipi adik lain Ibu.
Aku Juwita Kak dan Ini Wira....jawab juwita.
hhhmm Kalian Disini mana Yang lain tanya Dewi karena Ia juga terburu-buru mengejar keberangkatan pesawat yang akan Ia tumpangi.
Ada kak Sebentar juwi panggil...juwita langsung lari kedalam memanggil yang lain.
Ayah lah orang pertama di lihat Juwi maka segera Ia memberi tau kalau ada tamu.
Ayah keluar menyambut tamu yang di bilang Juwi dengan wajah kusut dan Rambut acak-acakan karena remasan nya sendiri.
Ayah Sapa Dewi begitu Ayah tiba di depan Pintu, Dek jantung Ayah seperti berhenti seketika kala mendengar Dewi memanggil nya Dengan sebutan Ayah.
Ayah masih terpaku...Dewi segera mendekat dan memeluk Ayah dengan perasaan haru.
Masuk nak setelah Dewi melerai pelukan nya, gak usah Yah tolak Dewi karena Ia harus segera berangkat.
Ibu mana Yah....tanya Dewi karena tidak melihat Ibu...Ibu mu tadi pingsan tadi waktu Ayah menceritakan siapa Kamu.
Boleh tengok Ibu Yah....Dewi ingin melihat Ibu sambung nya yang baru Ia Tau.
Ayah menunjuk Kamar di mana Ibu terbaring, Dewi melongokan kepala dari balik kain pintu untuk melihat kedalam dulu sebelum masuk.
Andi yang tepat melihat kepala Dewi nyembul dari balik kain pintu mengerut kan kening nya, Dewi juga tau mereka Yang ada di samping Ibu melihat nya dengan tatapan tanda tanya.
__ADS_1
Assalam mualaikum....Ucap Dewi kepada semua adik yang ada di kamar Ibu, Waalaikum salam....jawab mereka serempak.
Dewi lah yang Duluan menyalamin Adik nya satu persatu,Dewi juga tau kalau Adik-adik nya tanda tanya siapa Diri nya.
Perkenal kan Saya Dewi kakak kalian dari almarhum Istri Ayah yang lain, ucapan Dewi membuat Mereka Semua melongo kecuali Ibu yang masih belum sadar.
Dewi memperhatikan Ibu yang terbaring ingin Rasa nya memengang tangan atau pipi Ibu tapi itu tidak bisa Ia lakukan Karena Ibu di Apit Tri dan Heny yang Duduk di kedua belah sisi nya.
teringat akan waktu Dewi undur Diri pada Adik-adik yang kini masih ada di kamar Ibu.
Baik lah semoga kalian Sehat-sehat ya kakak mau balik ke belanda, tak ada satu pun yang mengeluar kan Kata-kata mereka hanya diam menatap Dewi.
Dewi keluar Dari kamar Ibu sambil merogoh sesuatu di dalam tas yang tergantung di bahu nya.
Dewi duduk di depan Ayah sedang Suami dan Anak nya di sebelah nya, Dewi meletakan Satu Amplop besar Di atas meja.
Ayah Dewi mau pulang ini ada sedikit Dari Dewi dan Mas Hansen,juga didalam Sini ada surat terahir Dari Mama.
Dewi mendorong Satu amplop tebal kehadapan Ayah Nya, sebelum Menerima Amplop Dari Dewi...Ayah mengusap wajah dengan kasar karena kenangan bersama Maharani beberapa tahun silam sempat melintas.
Dewi berdiri begitu juga Ayah mereka kembali berpelukan, Hansen hanya dapat melihat terharu sambil menggendong Anak nya.
Dewi pamit Dan Ayah Mengantar kan Dewi, bertemu dengan si kembar yang lagi main kejar kejaran di halaman.
Hay Kak Sapa Juwi sambil lari mengejar Wira,
heee....sini dulu...panggil Dewi pada kedua adik bungsu nya.
tentu Dewi senang melihat kedua nya Sangat menggemas kan, Ini ambil....Dewi membagi beberapa Lembar uang ke pada Si Kembar Sambil mencium kedua pipi Adik-adik nya.
Buat Apa kak tanya Kedua nya setelah terima uang Dari Dewi.....buat Jajan, Ya sudah Kakak pulang ya...pamit Dewi, tak lupa Juwi dan Wira mengucap kan terimakasih dan bersalaman.
Setelah kendaraan yang membawa Dewi juga keluarga nya tak nampak lagi Ayah masuk kedalam untuk melihat isi amplop yang di beri Dewi tadi.
Ada debar di Dada Ayah saat menyobek amplop pemberian Dewi, kira-kira Apa ya...Ayah bertanya sendiri dalam hati.
setelah ujung amplop tersobek Ayah melongok Isi amplop, terlihat ada beberapa ikat uang dan ada lembar-lembar foto Dan ada kertas terlipat rapi.
pertama di ambil Ayah beberapa lembar Foto, Ayah melihat foto diri nya dan maharani Masa-masa kuliah dan Foto kebahagiaan mereka dahulu.
Ayah memandangi setiap Foto dan masih jelas cerita-cerita di setiap Foto dengan senyum Ayah memasukan kembali Foto-foto tersebut.
Kemudian Ayah mengambil kertas yang terlipat rapi Ayah membuka secara perlahan, hingga kertas melebar dengan isi tulisan tangan yang sangat rapi Ayah mengenali tulisan tangan yang ada di kertas adalah tulisan tangan Maharani.
TERUNTUK : SUAMI KU
RAKA PRASTYA
Assalam mualaikum suami ku mas Raka, peluk cium ku Dari jauh untuk mu.
__ADS_1
saat ini aku istri mu sudah melahir kan dan mas tau betapa cantik nya putri kita hidung dan mata nya mirip dengan kamu mas aku bangga bisa jadi ibu walau saat ini kita berjauhan doa dan harapan agar kita dapat bersatu kembali selalu aku panjat kan ke pangkuan ilahi.
mas aku kangen kamu mas tapi apa lah daya ku mas.
mas dewa selalu mengancam ku, sungguh aku tidak punya keberanian untuk melawan nya.
...kini penyakit menggerogoti aku mas aku ingin saat aku menghembus kan nafas terahir ku, aku berada dalam pelukan mas...
...mas sumpah aku kangen mas...
isi surat berahir tampa ada sambungan lagi Ayah menangis dalam diam tak bersuara.
hati nya perih setelah membaca isi surat yang tak lengkap dari mantan Istri nya terdahulu, genangan demi genangan membasahi pipi Ayah ingin Ia berteriak Untuk ungkap kan kesal di hati nya tapi tak ingin se isi ruma kembali gaduh dan tak ingin bertengkar lagi dengan anak-anak nya.
Ayah melipat surat itu dan kembali memasukan ke dalam amplop pemberian dari dewi Ayah hanya mengeluar kan uang,sedang foto dan surat tetap berada dalam amplop yang Ia di selip di kantong jas dalam.
agar anak istri nya tidak melihat Foto-foto diri nya dan almarhum Maharani.
Ayah Masuk ke kamar Ibu sambil menggenggam uang pemberian Dewi, melihat Ibu sudah Siuman Dan kini Ibu duduk Ayah pun mengambil posisi duduk di sebelah Ibu setelah Tri bangkit memberi ruang untuk Ayah agar bisa duduk.
Bu ini titipan Dari Dewi, Ayah menyerah kan uang tersebut kepangkuan Ibu.
Tapi Ibu diam menatap lurus dinding kamar tak sedikit pun menoleh ke Ayah sedang anak-anak nya berdiri menyaksikan ke dua orang tua.
hening
hening
Bisa kalian tinggal Ayah dan Ibu sebentar... pinta Ibu pada Anak-anak nya yang saat ini berada di kamar nya.
mereka keluar meninggal kan Ayah Dan Ibu di dalam kamar.
Dewi itu siapa ya bang.... tanya tri pada Risky..yang di tanya hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
kalau kamu Heny tau gak....sama jawaban Heny sama dengan Risky.
Aku gak di tanya kak...perotes Andi... kamu buat apa di tanya pastilah jawaban Mu sama, ucap Tri pada Andi yang nyengir mendengar kata-kata tri.
ya Sudah bang, Heny ,Andi Aku pamit ya udah sore kasian si kecil dari pagi Aku tinggalin, Tri pamit pulang tampa pamit kepada ke dua orang tau nya karena tak ingin mengganggu kedua nya.
Di kamar Ayah menceritakan seluruh kisah Ia bersama Maharani tampa Ada yang terlewat sedikit pun.
Ayah tak ingin Ibu berfikiran yang bukan-bukan karena Ayah sudah cukup Sadar akan kelakuan nya selama ini dan sudah menerima buah dari kelakuan nya.
Ibu turut sedih mendengar kisah Ayah, ternyata Suami nya selama ini memendam kekecewaan dalam hidup.
Ibu menghapus air Mata Ayah yang mengalir menggunakan telapak tangan nya,, sungguh Ayah terharu dengan segera menarik tangan Ibu dan mencium tangan Ibu berulang Kali.
Bu Maaf kan Ayah, ucap Ayah sambil meraih Ibu kedalam pelukan nya, Ayah mencium kening Ibu dengan begitu khidmat hingga Ibu pun larut dalam ke sedihan sebab selama dua puluh delapan tahun baru kali ini Ayah memperlakukan Nya dengan begitu lembut dan penuh kasih.
__ADS_1
Terkenang masa-masa bersama dulu Ayah lebih mengutamakan Nafsu berhubungan pun berasa Semu tidak dengan sepenuh hati.
Kali ini Ibu bersyukur sudah banyak perubahan di Suami tercinta nya.