
Om Panji Papa nya Fika datang, bermaksud untuk mengajak Fika pulang.
setelah di persilahkan masuk oleh pembantu yang bekerja di rumah satria, kini om panji duduk di ruang tamu menunggu di panggilkan Satria.
Satria sedang membujuk kedua anak nya yang rewel sejak di tinggal Fika.
tok...tok. permisi tuan....suara gedoran pintu dari luar.
Ya.....masuk saja...jawab Satria dari dalam.
Tuan ada tamu di bawah...pembantu menyampai kan pasal tamu yang datang.
Siapa bik....tanya Satria sambil menggendong Sanda sedang Sandi mesih adem minum Susu dari botol dot.
Tado katanya orang tua nya bu Fika.....jawab pembantu.
Satria sedikit terperanjat mendengar kalau tamu yang datang Papa nya Fika.
Bik tolong liat si kembar biar saya turun.....ucap Satria menyerah kan Sandi di gendongan Pembantu nya.
Satria buru-buru memakai kaos yang sempat di sambar nya di atas sofa, dengan berbagai pertanyaan muncul di kepala, apa Fika tidak pulang ke rumah nya kemana dia.
Satria berhenti berfikir karena langkah nya sudah sampai di ruang tamu.
Siang Om sapa Satria sambil mencium tangan om Panji.
apa kabar mu Satria...tanya Papa Fika.
Baik.. om sama tante gimana kabar nya...jawab dan tanya Satria.
seperti yang kamu lihat om sehat..kalau tante ya kamu tau sendirilah ibu-ibu pasti cerewet.....jawab Papa Fika dengan lucu nya.
Satria tertawa dengan banyolan Om Panji.
Oh Iya sat om gak lama-lama mau jemput Fika...ucap Om panji membuat muka Satria sedikit pucat ternyata benar Fika tidak pulang ke Rumah nya.
kenapa Sat kamu kok diam mana Fika....tanya Om Panji seperti tau kalau Fika gak ada.
Satria terdiam karena tidak tau harus menjawab jujur atau bohong.
Ada apa Sat kemapa muka kamu bingungg...tanya Papa Fiki kali ini penuh penekanan.
Sementara Fika menangis sejadi-jadi nya kenapa Satria tega melakukan hal buruk pada nya.
Misi mbak boleh Saya duduk....tiba-tiba ada suara yang mengaget kan Fika, sedikit mengangkat kepala untuk melihat siapam yang bicara ternyata Fika gak kenal jawaban nya Fika hanya mengangguk.
gak mungkin terlalu lama memandang orang karena saat ini mata nya bengkak.
si pria duduk di samping Fika, sedang Fika sibuk menghapus air mata yang terus keluar.
si pria menyodor kan sapu tangan...pake Ini Mbak....Fika tidak menjawab Langsung mengambil sapu tangan mengusap air mata nya.
Sendirian Mbak....tanya Si pria Fika balas dengan anggukan.
si pria cukup senang dengan jawaban Fika berarti Ia bertanya gak sia-sia walau di jawab dengan anggukan.
boleh kenalan Mbak....si pria mengulur kan tangan nya....Fika diam sejenak kemudian menyambut uluran tangan langsung menyebut nama nya dan melepas genggaman tangan Si pria.
__ADS_1
Si pria dapat memahami kalau Fika dalam ke adaan yang tidak baik-baik saja.
oh nama Mbak Fika....nama saya Latif ucap nya.
boleh saya tau kenapa Mbak nangis....tanya latif, Fika tidak menjawab dan Latif ngerti kalau Ia yang terlalu kepo mau tau urusan orang.
Ya sudah kalau Mbak gak mau cerita tapi yang pasti saya bukan orang jahat saya siap jadi tempat Mbak curhat itu pun kalau Mbak nya percaya Sama saya....ucap latif.
Fika hanya Diam melut nya terasa berat untuk menjawab pertanyaan Latif apa lagi bicara panjang lebar.
hari sudah menjelang Sore lebih dari empat jam Latif menemani Fika menangis seakan gak ada capek nya.
Mbak udah sore nih apa gak pulang biar saya antar....ucap Latif di tengah hening lebih dari dua jam.
Fika melirik Latif di samping nya....siapa dia..fikir Fika..kok bisa sekian lama menemani dia nangis.
sementara Latif sudah merasa punggung nya kebas karena terlalu lama duduk.
ayo Mbak kita cari makan dulu kayak nya si Mbak nya belum makan Dari siang....latif kembali mengulur kan tangan.
Fika yang tak tau tujuan harus kemana ahir nya menyambut uluran tangan Latif yang membantu nya berdiri.
Fika mengikuti Latif dari belakang tidak ada pilihan lain bagi Fika saat ini latif bisa Ia percaya terlihat dari tampang Latif memang bukan laki-laki yang kurang ajar.
wajah teduh Latif mampu buat Fika percaya.
pesan apa....tanya Latif saat mereka sudah sampai di tempat makan pinggir jalan yang menjual pecel lele.
samaim aja....ucap Fika malu dan menunduk.
mereka memesan dua porsi pecel lele untuk mereka dan dua gelas es teh manis.
setelah makan Latif menawar kan diri untuk mengantar Fika pulang tapi Fika malah jawab tak punya rumah.
Latif bingung melihat dari penampilan dan wajah gak mungkin Fika gak punya rumah...fikir Latif.
Fika berdiri masih memikirkan harus kemana Ia malam ini balik kerumah Satria gak sudi tempat keluarag takut keceplosan dengan apa yang sudah terjadi mau tak mau Fika bertekat Ikut Latif malam Ini karena Ia yakin Latif laki-laki baik.
ya sudah kerumah ku saja ya Mbak....ucap Latif setelah cukup lama mereka diam.
Fika memandangi wajah Latif membuat si Latif salah tingkah.
Ayo gak usah sungkan nanti sampe rumah kalau di tanya Mama bilang aja teman sekolah selebih nya Biar Aku yang ngomong...ucap Latif.
Fika sedikit tenang..karena Latif membawa nya pulang ke rumah orang tua.
dalam perjalanan Fika merutuki diri nya sendiri Ia merasa sangat bodoh punya gelar tapi mau gimana dompet dan uang lain nya tertinggal di rumah Satria, membuat Fika berulang kali menghembus kan nafas kasar.
Satria terpaksa memanggil Ibu untuk menjaga si kembar karena Ia akan mencari keberadaan Fika, apa lagi tadi sempatenghadapi kemarahan Om Panji yang menampar nya berulang kali.
Kenapa muka mu Sat ....tanya Ibu saat sudah sampai di rumah Satria.
Gak apa-apa bu....jawab Satria sambil terus ngompres memar di wajah nya.
Kamu berkelahi...tanya Ibu lagi...tapi Satria tak menjawab menurut Ibu berarti Satria meng iya kan pertanyaan Ibu.
Satria....Satria sudah punya anak dua, sudah jadi direktur masih aja suka berantem...ucap Ibu ngomeli Satria.
__ADS_1
setelah di rasa nya memar di pipi sedikit berkurang Satria pamit ke luar tapi tak menjelas kan kalau Ia akan mencari Fika.
Papa Fika sibuk menghubungi semua saudara dan juga kerabat nya untuk mencari keberadaan Fika.
Sampai Di rumah Latif memperkenal kan Fika pada Mama nya, Latif mengatakan kalau Fika adalah teman sekelas nya Dulu berkunjung karena sudah lama tak jumpa.
Mama Latif sungguh senang dalam Fikiran nya Fika pasti pacar atau calon anak nya.
Fika di sambut hangat dengan Mama Latif membuat Fika teringat dengan Mama nya sendiri.
Fika menyimpan tangis nya dalam hati..tak ingin merusak suasana Latif sudah menolong dan memberinya makan apa yang terjadi kalau Mama nya tau Fika di temukan di taman pinggir jalan.
Mama menghidangkan teh hangat untuk Fika, latif saat ini sudah naik ke kamar nya untuk mandi dan berganti pakaian.
di minum nak.....ucap Mama Latif melihat Fika hanya diam.
tak ingin di bilang sombong Fika membuka obrolan seputar keseharian Mama Latif
, tentu di sambut dengan cerita hingga Mam Latif bercerita kalau Latif sudah yatim dan Kini akan menerus kan usaha Papa nya di bidang properti.
Fika Hanya mangut karena sesungguh nya fikiran nya berada di rumah Satria.
malam semakin merangkak Mama menyuruh Fika istrirahat dan memberi beberapa daster untuk salinan Fika.
Satria terus menyusuri jalan untuk Mencari Fika tak urung Ia juga bertanya pada beberapa orang yang Ia temui dengan emperlihat kan Foto Fika yang Ada di galeri handphone nya.
hingga pukul tiga dini hari Satria masih terus mencari walau lelah ancaman Om Panji membuat Ia sedikit takut.
sedang Fika tak sedetik pun bisa memejamkan Mata, ingatan nya terus pada kejadian malam tadi, ntah kenapa Satria begitu tega.
Fika putus dengan tunangan nya juga gara-gara Satria kini kehormatan nya juga diambil Satria...Fika juga menyesali kenapa sebelah hati nya menolak tapi di sebelah hati yang lain justru menikmati dan ingin selalu dekat dengan Satria, setelah cukup lama berfikir dan menangis ahir nya karena lelah Fika tertidur.
sedang Mama Fika memilih tidur di kamar Fika sampe Fika pulang baru Ia akan kembali tidur dengan Suami nya.
berulang kali Papa Fika membujuk Mama tetap dengan pendirian hingga mengusir suami nya dengan Marah.
Satria memilih pulang karena sudah cukup lelah dan ngantuk, besok Ia akan melanjut kan mencari Fika sampai ketemu.
pagi subuh Ibu terbangun di kamar Satria hati nya gundah tidak melihat Anak nya dua cucu kini kembali tidur nyenyak setelah Ibu buat kan susu.
Ibu turun mencari Satria kemungkinan Ia tidur di kamar Mama nya Rima, Saat Ibu membuka Pintu tampak lah Satria tidur dengan posisi telungkup, Ibu lega melihat anak nya ternyata tidur tapi Ibu terkejut saat melihat ke bawah.
mata Ibu menatap nanar pada ambal warna cream berbulu panjang Ibu penasaran melangkah masuk untuk memastikan dan memperjelas penglihatan nya.
dengan perlahan Ibu meraba noda merah di ambal ke mudian Ibu mencium kalau itu bau darah tapi darah siapa, apa Si kembar terluka...batin Ibu.
ibu bangkit memastikan Satria sedikit mendorong ketengah, benar Satria baik-baik saja tapi Ibu terus penasaran dengan noda darah di ambal, karena terdengar azan Ibu keluar untuk menjalan kan salat subuh dulu.
setelah salat Ibu membaca ALQUR'AN, tapi baru beberapa ayat Ibu kehilangan konsentrasi karena teringat noda darah di ambal.
setelah melipat mukena dan sajadah Ibu turun untuk membangun kan Satria minta penjelasan Noda darah yang ada di ambal.
Sat....bangun Sat...ibu berulangkali membangun kan Satria tapi Satria tidak bangun malah ngigau memanggil Fika hingga Ibu menebak kalau Satria sudah berbuat yang tidak-tidak hingga Fika pulang ke rumah nya.
Ibu marah karena fikiran nya sendiri kini keluar dengan membanting pintu cukup keras hingga para pembantu mendatangi nya karena kaget.
Maaf Nyonya besar suara apa tadi kami semua kaget...tanya salah satu pembantu.
__ADS_1
Ibu tidak menjawab karena hati nya masih jengkel.