MIMPI SATRIA

MIMPI SATRIA
MENCINTA IBU


__ADS_3

jam delapan Dokter masuk ke ruangan Papa untuk pepemiriksaan terahir karena pasien memohon minta pulang.


Mama mengikuti Dokter menuju brankar di mana tempat Papa saat ini Tidur dengan senyum terkembang.


Baik Pak Dewa kita mulai pemeriksaan Nya semoga Bapak pulang bertambah sehat setelah Sampe Rumah...ucap Dokter karena melihat senyum Papa.


Dokter menyingkap kemeja yang di pakai Papa Ada sedikit keraguan Di wajah Dokter setelah bersentuhan dengan kulit tubuh Papa yang dingin.


segera Dokter memeriksa Nadi dan ternyata nadi Papa sudah tidak berdenyut lagi.


para perawat sudah menyediakan alat kejut jantung segera Dokter melakukan Tindakan Tapi setelah tindakan Di lakukan berulang kali tetap tidak ada perubahan pada pasien.


Mama histeris teris saat Dokter mengucap innalillahi waina ilaihi rajiun yang sabar ya bu,Mama memeluk jasad Papa betapa terpukul batin nya kebersamaan mereka semalam ternyata menjadi kebersamaan terahir dan subuh tadi menjadi subuh terahir bagi Papa menjadi imam untuk Istri nya.


Mama meraung-raung Dan Para perawat kewalahan menghadapi Mama Salah sorang perawat berinisiatif mrncari kontak keluarga lain untuk memberi tahukan berita meninggal nya Papa dan perawat menemukan kontak bernama My Baby Rima.


suster segera memanggi kontak Rima Tampa Menunggu lama tersambung karena Rima juga sedang ingin menghubungi Mama Pagi ini ingin mengadu kalau Ia sempat merasa sakit di seputar perut selesai solat subuh tadi.


Maaf apa benar ini dengan keluarga pasien Bapak Dewa subrata....iya saya anak nya ada apa dan ini siapa mana Mama saya ...tanya Rima panik kenapa no Mama tapi orang lain yang menelephone.


saya suster mbak maaf saya lancang karena Ibu histeris tidak bisa kami tenang kan.


Rima panik kenapa Mama nya bisa histeris apa yang terjadi dengan Papa, tak ingin menunggu berita selanjut nya.


Rima mengajak Bi Iyah untuk pergi ke RS melihat kondisi Mama Papa, Rima mengendarai mobil nya sedang Bibi Duduk di samping nya.


Non hati-hati jangan ngebut ingat non lagi Hamil, Bi iyah memperingat kan Ketika Rima menambah kecepatan roda empat yang tengah Ia kendarai.


mereka Sampai di lobi Rs Dan Rima bergegas jalan seakan lupa kalau Ia sedang mengandung ingin segera sampai ruangan Papa.


Bi Iyah sedikit tertinggal di belakang karena tidak kuat lagi jalan cepat karena faktor usia yang memang sudah manula.


Rima langsung masuk karena pintu ruangan papa terbuka lebar ada beberapa keluarga pasien lain yang melongok kedalam tapi tidak berani masuk.


Rima terkesiap melihat Mama mengguncang-guncang tubuh Papa yang tidak bergerak sama sekali.


Rima limbung segera Bi Iyah memeluk nya dan minta bantuan untuk mendudukan nya di sofa.


Bi tolong hubungi Satria....ucap Rima lemah sambil menyerah kan handphone nya, Bibi bingung karena seumur hidup nya sama sekali tidak pernah menyentuh android paling sekedar melihat di tv acara iklan.


Bi Iyah meminta bantuan salah satu perawat untuk menghubungi kontak Satria.


setelah tersambung dengan satria perawat menyerah kan kembali handphone, ini Bu ngomong.


Bibi segera memberi tahu Satri kondisi Papa, Mama dan Rima saat ini, panik sudah tentu Satria panik.


Ada Apa Sat...tanya om Hendrik....


Papa meninggal Om...jawab Satria singkat..

__ADS_1


ayo naik mobil Saya aja motor kamu biar tinggal nanti Saya suruh Pak Burhan atau Budi mengantar ke rumah...ucap Om Hendrik yang juga shok setelah mendengar sahabat baik sudah tiada.


Satria Dan On Hendrik tiba di Rs dan langsung menuju Ruangan Papa, Satria mendekati Istri nya yang tampak lemah.


Rima memeluk Satria dengan begitu erat sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan suami nya.


Mama masih terus histeris tak terima dengan kepergian Papa, sangat pilu mendengar Ratapan Mama.


Bi Iyah juga menangis sedih sambil membelai punggung nyonya nya karena hanya itu yang bisa Ia lakukan dengan tubuh renta nya.


Nya Sabar Nya kasian tuan kalau Nyonya nangis terus kasian Nya....ucap Bi Iyah membuat Mama langsung memeluk Bi Iyah dan tangis Mama sedikit reda.


Almarhum di Bawa pulang ke rumah, Satria mengabari Ibu.


Untung Ayah belum balik ke rumah Istri muda nya hingga Ayah punya kesempatan ngelayat.


Ibu datang mendekati Mama yang menangis tampa suara, Mbak.....Ibu menyapu pundak Mama dan Mama langsung berbalik memeluk Ibu menumpah kan segala sesal dan cerita tentang Suami nya yang telah tiada.


tentu membuat Ibu juga Larut ikut menangis karena sedih.


kemudian segala prosesi telah selesai dan kini jenajah Papa di bawa ke pemakaman terdekat.


Mama ikut mengantar suami nya ke pemakaman sedang Rima tidak di ijin kan Satri karena masih begitu lemas.


setelah Papa selesai semua yang mengantar meninggal kan areal makam hanya Mama yang tidak ingin beranjak Ibu tak sampai hati meninggal kan Mama sendiri Ibu juga ikut jongkok di samping Mama.


Mbak sabar mbak kasian Mas Dewa kalau Mbak menangisi Mas Dewa terus tersiksa Mas Dewa Mbak...Ibu menenang kan Mama.


ayo Mbak kita pulang siap kan Doa Untuk Mas Dewa biar Mas Dewa tenang Dan bahagia...ucap Ibu lagi Agar Mama Mau pulang karena lokasi pemakan sudah sepi dan hanya tinggal Mereka berdua.


Ibu Dan Mama sampai di rumah setelah di jemput Satria dengan mobil Rima.


Ibu membantu Keluarga Lain mempersiap kan untuk tahlilan malam nanti saat melihat Satria masuk ke dapur Ibu memanggil nya.


Satria Sini dulu nak....panggil Ibu....langsung Satria mendatangi Ibu.


Ada apa Bu....tanya Satria setelah dekat dengan Ibu....Istri mu mana Nak....tanya Ibu lagi....Rima tidur Bu sedari tadi gak berhenti nangis...jawab Satria....Ya sudah Kamu temani sana jangan biar kan sendiri Nanti bisa stres Ibu takut kandungan Nya kenapa-napa.


Satria balik ke kamar mendapati Rima duduk sambil ber sandar di sandaran Ranjang.


udah bangun Yank....tanya Satria sambil mendekati Rima....hhhhmmm udah Yank....Jawab Rima tak bersemangat.


Satria duduk di samping Rima sambil membelai perut buncit Rima, tersenyum kala merasakan kalau bayi nya menendang-nendang Ada rasa haru karena sebentar lagi Ia di panggil Ayah.


semakin Satria mengelus semakin kuat anak nya menendang Hingga Rima nyengir menahan sedikit nyeri karena anak nya terus bergerak.


Napa Yank.....tanya Satria Saat melihat Rima nyengir....sakit Yank....jawab Rima....uh anak Ayah jangan bikin Ibu sakit ya nak Satria mencium perut Rima.


setelah Magrib tahlilan di gelar begitu banyak yang hadir untuk mendoa kan Almarhum, Rima Dan Satria turut begabung dengan lain.

__ADS_1


sedang Mama di kamar karena tadi Mama mengeluh pusing, Ibu Satria menemani sepupu yang kini menjadi besan.


Raya.....panggil Mama dengan suara serak dan lemah....Iya Mbak...Mbak mau apa...jawab dan tanya Ibu dengan lembut.


kenapa Mas Dewa pergi terlalu cepat meninggal kan Aku padahal semalam Kami masih tidur berpelukan Mama menangis tapi tak seperti tadi siang.


bisa Jadi Mbak Mas Dewa sengaja meninggal kan kenangan manis buat Mbak...jawab Ibu Satria sangat mengerti akan kegelisahan Mama yang di tinggal Papa.


Semalam Mas Dewa minta makan bersama, Aku buru-buru mesan semua nya di restoran terdekat mas Dewa juga riang gembira sambil canda dengan Satria anak Mu Juga Rima.


Mama menumpah kan kesah nya dan Ibu pendengar yang baik.


Iya Mbak itu memang kesan terahir yang di tinggal Mas Dewa....ucap Ibu.


Aku bahagia banget liat Mas Dewa udah sehat.. Mama sedikit tersenyum, tapi kini Mas Dewa ninggalin Aku...kini Mama menangis.


Sudah Mbak sabar ya Aku yakin Mas Dewa sangat mencintai Mbak maka nya Mas Dewa meninggal kan kenangan manis buat Mbak biar Mbak ingat terus dan selalu doa untuk Mas Dewa.


Acara tahlilan sudah selesai dan tutup ceramah oleh Imam setempat.


Ayah mengajak Ibu pulang karena Istri muda nya sibuk telephone terus dengan alasan perut nya kram.


Hati Ibu terasa seperti Di remas kalau Ayah pamit pulang ke tempat istri muda nya.


sepanjang perjalanan Ibu bercerita apa yang tadi Mama Arini ceritakan Ayah mendengar dan sesekali Ayah menimpali cerita Ibu.


setelah Sampai Ayah langsung Masuk kerumah sedang Ibu kerumah Bu Salamah menjemput si Kembar.


Ibu pulang dengan si kembar ketika Masuk kedalam Rumah Ibu mendapati Ayah sedang bicara Lewat telephone dengan nada marah.


Ayah menaruh telunjuk di bibir Saat tau Ibu ingin bertanya siapa penelphone.


setelah Ayah selesai bicara Di telephone tampa Ibu bertanya Ayah sudah ngomong Sendiri kalau Si penelphone itu istri muda nya.


Bu....Ayah pergi ya..pamit Ayah...ntah kenapa Ibu menangis bukan menyalami seperti biasa kalau Ayah akan pulang ke rumah istri muda nya.


Kok nangis sih Bu...tanya Ayah karena Ibu tidak seperti biasa.


gak kok Yah Ibu gak Apa-apa....jawab Ibu sambil ngelap air mata dan hidung yang sempat keluar.


Tapi Ayah mengerti akan ketidak relaan Istri yang kini paling Ia cintai.


Ibu marah Sama Ayah....tanya Ayah sambil merangkul bahu Ibu, tentu pertanyaan Ayah membuat nya menangis kemabali sambil memeluk Ayah.


Dalam tangis di pelukan Ayah ibu menguap kan apa yang selama ini jadi ganjalan di hati karena harus berbagi Suami.


Ayah hanya diam merutuki kebodohan nya karena Ia yang terlalu buta hingga semua ini terjadi sampai menyakiti hati istri nya berkali-kali.


dengan menarik nafas dalam Ayah mengurai pelukan Ibu.

__ADS_1


Ibu tenang saja setelah anak itu lahir Ayah akan mencerai kan nya karena Ayah tau bukan cuma Ayah lelaki nya setelah Anak itu lahir Ayah akan minta tolong Dewi untuk biaya tes DNA.


Kalau benar Anak Ayah akan Ayah rawat dan Ayah akan tetap mencerai kan nya selama ini Ayah tidak pernah menyentuh nya Bu percaya lah Ayah tau dahulu Ayah banyak kesalah pada Ibu hingga mungkin Ibu sulit untuk percaya Tapi kali ini Percaya lah Bu cuma Ibu yang Ada di hati, Ayah sangat mencintai Ibu ....ucap Ayah panjang lebar untuk menenangkan Istri yang paling Ia cintai sekarang.


__ADS_2