Misteri Cinta

Misteri Cinta
Pingsan


__ADS_3

Aku meminta bantuan pada mbak-mbak untuk membantu memapahku ke kamar mandi agar aku bisa solat dalam keadaan suci.


Mbak Ima dan May memapahku meski badan dan mulutku sangat bau. Tapi baru beberapa langkah saja perutku tiba-tiba mual. Untungnya depan kamarku ada sampah di pelataran yang lebih rendah dan masuk area tidak suci untuk menuju ke kamar mandi.


"huwwwekkk...... huwwwek...."


Rasanya semua isi dalam perutku keluar sampai tenggoranku sakit sekali karena ingin muntah tapi tak ada lagi yang keluar dari dalamnya.


Aku merasa ada yang memijat tengkukku. Mungkin May atau mbak Ima yang melakukannya.


Aku muntah cukup banyak sampai badanku terperosot ke bawah terlepas dari pegangan May dan mbak Ima. Aku pun pingsan dan tak ingat apapun setelah itu. Semua menjadi gelap.


Beberapa saat kemudian aku tersadar dan sudah berada di kamar berbaring diatas kambal tempatku tidur sebelumnya. Aku melihat teman-teman mengelilingiku, sebagian hanya diam dan sebagian lagi tersenyum melihatku bangun. Ada juga yang memijat kaki dan tanganku.


Disaat seperti itu aku merasa bersyukur ternyata masih banyak yang care padaku.


Aku melihat jam dinding pukul 16.45. Aku ingat aku belum solat dhuhur dan asar.


Dan hal yang pertama kali ku katakan adalah merengek, "aku mau solat....!"


"Mlaku thithik ae wes semaput ngunu loh an", kata mbak Leli.

__ADS_1


"Solat nggawe isyarat ae lho!" kata temanku yang lain.


Aku pun menangis dan menerima saran mereka. Mbakak Ima membantuku menutupi aurotku kemudian aku solat dalam keadaan terlentang tanpa wudhu. Hanya bersedekap dan menggerakkan kepalaku sedikit lebih menunduk saat ruku' dan sujud.


Aku tertidur beberapa saat setelah itu sampai terdengar suara berisik di depan kamarku.


Mbak Ima menepuk tanganku dan berbisik ditelingaku.


"Ayo pulang diantar sama mobilnya ibuk!"


Aku pun hanya mengangguk pasrah.


Beberapa teman memapahku ke luar melewati kantor pondok putri (tempat kami menerima tamu dan membayar administrasi pondok) menuju ke mobil yang diparkir tepat di depan kantor.


Aku pun berjalan dengan sangat lemah. Tak menghiraukan penampilanku yang pasti sudah amburadul. Jilbab sudah peyot tak jelas miring ke kiri atau ke ke kanan. Kancing bajupun Sepertinya belum tertutup semua, sarungku apalagi. penceng gak karu-karuan. Ditambah bau badan dan mulutku yang tidak mandi dua hari ini. Lengkap lah sudah penderitaan orang-orang yang memapahku.


Maaf ya teman-teman ku yang sudah mau bersabar denganku....


Santri-santri putri itu bergerombol di depan kamar A, melihatku dengan saling berbisik dan bertanya-tanya.


Aku menyeret kakiku sekuat tenaga meski kedua tanganku ditopang teman-temanku tetap saja aku harus mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang ku punya.

__ADS_1


Kami melangkah dengan tertatih-tatih sampai bisa keluar dari kantor pondok putri menuju mobil yang sudah dibuka pintunya. Padahal jaraknya dekat sekali.


Tapi baru saja kami menginjak sandal aku sudah terjatuh dari pegangan mereka dan pingsan lagi. Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Siapa yang membopongku masuk ke dalam mobil waktu itu aku juga tak tahu.


.....


.....


.....


Antara sadar dan tidak aku mendengar keriuhan ketika kami sudah sampai didepan rumah mbak Ima. Aku mendengar perbincangan mereka tapi tak kuasa untuk membuka mata apalagi menggerakkan badanku. Aku hanya diam dan pasrah saja. Ternyata mobil Bu Nyai sudah sampai di desa kami, berarti aku pingsan cukup lama.


Aku mendengar ayahku masuk ke dalam mobil hendak membawaku masuk ke dalam rumahnya mbak Ima.


Samar-samar aku juga mendengar seseorang berkata , " Biar kulo mawon yang nggendong wak Mat".


Hatiku berdebar-debar, aku yakin itu suara cak jidin. Aku bergumam dalam hati, 'Ya Alloh semoga dia tidak menggendongku' . Aku akan merasa ternodai jika dia sampai menyentuhku padahal kami tidak halal untuk bersentuhan.


"Nggak biar saya sendiri", kata bapakku kekeh kemudian mencoba menggendongku. Tetapi karena faktor usia dan badan bapakku yang sangat kurus itu beliau tak mampu mengangkat badanku yang saat itu bisa dikatakan gendut.


"Sama saya saja" kata cak Jidin sambil mengangkat pinggang dan kakiku sedangkan bapakku mengangkat bagian kepala dan punggungku.

__ADS_1


__ADS_2