Misteri Cinta

Misteri Cinta
Jangglot


__ADS_3

Saat kami sudah sampai di terminal padangan kami langsung disambut dengan teriakan kernet dari len yang berwarna kuning. Persis seperti yang digambarkan oleh Harjo.


" DAWAR BLANDONG DAWAR BLANDONG....!!!" teriak pak kernet sambil melambai-lambaikan tangannnya ke atas untuk mencari perhatian para pendatang


Kami pun mendekat kearah situ dan aku langsung mengamankan posisiku, tempat duduk paling depan di sebelah pak supir. Cukup lama kami menunggu di dalam situ karena penumpangnya belum penuh. Dawar adalah daerah hutan dan termasuk jauh dari kota. Mungkin itu sebabnya jarang ada orang yang menuju ke arah sana.


Sampai len coklat yang menuju ke arah terminal Mojokerto berulang kali berangkat dengan membawa banyak penumpang tapi len kuning yang menuju ke arah Dawar penumpangnya belum penuh-penuh juga.


Sampai siang barulah penumpangnya penuh sehingga kami bisa berangkat dengan peluh yang merembes di sela-sela baju dan membuat tubuh menjadi gerah.


Kami diturunkan di gerbang Dawar. Sepanjang mata memandang hanya ada sawah dikiri dan kanan jalan yang membentang sangat luas. Tak terlihat rumah penduduk maupun orang yang lalu lalang. Sepi dengan hawa panas yang sangat menyengat.


ndesit kesit-kesit....


"Kumariblek...!!!!.."


Kami menyebut plesetan nama mbak Kum berkali-kali karena harus melewati rintangan yang tak mudah untuk bisa sampai ke rumahnya.


"duk uduk uduk uduk uduk uduk uduk uduk uduk....." suara truk yang kelebihan beban berjalan sangat lamban di belakang kami.


" barenga barenga?" tanyaku meminta pendapat pada Jeng kar dan yang lainnya.


" Yok gak amot talah" kata jeng kar


" Pegel jeng.... "


"Kabeh yo pegel yok opo kate?" jeng Kar jadi ikut sewot mendengar keluhanku.


Truk itu pun akhirnya semakin dekat dengan kami kemudian kernetnya bertanya,

__ADS_1


"Kajange nang ndi?"


" Jangglot"


"oooh nek wes tutuk enggok-enggokan iku sampean menggok dalane rodok adem rodok cidek. Nang omahe sopo se?"


" Mbak kum, tepang ta?"


" Ooh seng mondok nang Brangkal iku ta?"


"Enggeh.."


"Enggeh bener sampean liwat kono ae"


Merekapun melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan tanah pasir yang berterbangan ke arah kami. Polusi. Aku pun memalingkan wajah kemudian menutup sebian mukaku dengan kerudung.


Setelah melewati banyak rintangan dan hambatan akhirnya kami sampai di rumahnya mbak kum. Amat sangat capeeekk sekali.


Kami langsung diajak mbak Kum ke kamarnya yang super luas, kalau perumahan itu sudah jadi satu rumah mungkin, meski temboknya masih terlihat batanya karena sepertinya rumah mbak Kum itu baru saja dibangun dan belum sempurna finishingnya.


Begitu masuk ke dalam kamarnya mbak kum kita langsung disambut tatapan cowok-cowok ganteng. Yang terpampang di sana adalah gambar cowok-cowok ganteng yang matanya agak sutup dan setelah beberapa lama aku baru tahu itu adalah gambar f4 bintang film dari Taiwan.


Kami di ajak makan siang dengan menu sambel kacang dicampur tomat yang ternyata rasanya nggak aneh-aneh amat. lumayanlah buat aku yang pertama kali merasakan sambel campur mawur kayak gitu. Teman-temanku kemudian solat duhur sedangkan aku langsung tidur karena aku sedang datang bulan. Enaknya kalau pas bepergian itu pas haid. Jadi tidak gupuh bawa ganti baju suci buat solat.


Aku bangun ketika waktu asar dan mandi paling belakangan karena aku yang sedang berhalangan. Keran airnya keluarnya ciprit-ciprit.... mana air yang didalam gentong sudah dihabiskan oleh teman-temanku. Alhasil aku kelamaan di dalam kamar mandi karena nungguin air yang sepertinya enggan keluar. Untung darah haidku sudah nggak banyak jadi aku tak perlu mencuci celana dalamku


" Pean diienteni Harjo nang ngarep" kata jeng Kar setelah aku selesai mandi


" Lha lapo se jeng? sanggahku

__ADS_1


" Iyo di kandani kok"


"Wes ndang metu!" mbak Kum ikut ngompori


"Moh lapo..." aku masih bersikeras menolaknya.


" Kandani pean seng dienteni kok"


" Gagih ndang nang ngarep. Areke wes ngenteni ket mau"


"Mbak Ziyah ayo nang ngare....p! wpean rewangi...!" aku minta bantuan pada mbak Ziyah yang paling bijak diantara kami.


" Lha lapo pean seng didoleki kok!" mbak Ziyah pun menolak membuatku serba salah.


Mereka mendorong-dorongku keluar agar aku segera menemui Harjo sampai aku tak bisa berkutik lagi dan sudah sampai di batas ruang tamu. Mau tak mau aku pun keluar karena dia sudah melihatku di ambang pintu.


Harjo duduk dengan sedikit membungkukkan badannya. Lengannya dtaruh diatas paha dengan jemari yang ditautkan.


.


.


.


.


.Ini nih gambar f4


__ADS_1


__ADS_2