
Aku pun kembali ke tempat tidur dengan terpaksa, kemudian memeluk guling dan menutupi badanku dengan selimut.
Tak berapa lama cak Jidin masuk ke kamar. Aku yang sedang berpura-pura tidur berusaha tidak gugup dan tetap memejamkan mata.
Aku merasa kalau cak Jidin duduk di pinggir kasur dan memandangiku yang mengenakan jilbab sekenanya dan pastinya awut-awutan, sedangkan tubuhku tertutup selimut.
"Pean masih sakit ta yank?" akhirnya ia membuka mulutnya setelah beberapa saat dan mungkin sadar kalau aku tidak benar-benar tidur.
'Aish..... yank? yank? apa-apaan cak Jidin ini?' hatiku langsung jengkel mendengarnya.
Karena tak tahan aku langsung membuka mataku dan memandanginya dengan tajam. Parahnya lagi dia malah tersenyum dengan sa...ngat manis, menampakkan gigi gingsulnya yang kusuka tapi itu malah membuatku tambah marah padanya.
Menurutku itu sudah keterlaluan. Aku tidak ingin bermesra-mesraan dengan pria selain suamiku nanti. Dan kali ini cak jidin melampaui batas. Kami belum menjadi suami istri tapi kenapa dia sudah memperlakukanku seolah-olah aku ini adalah istrinya. Padahal tidak tahu apakah nantinya kami berjodoh atau tidak.
" Kenapa sih pean kesini? ndang pulang!" Kataku dengan nada marah.
" Pean sudah baikan ta?" Dia menjawabnya dengan nada halus dan pelan.
" sudah, ndang pulango!" Kataky
__ADS_1
"sek tah!" Dia masih rindu denganku mungkin. Masih ingin melihatku dan berbincang denganku.
Aku tidak tau apa yang sedang kupikirkan, tiba-tiba aku duduk dan memukulinya bertubi-tubi dengan guling,"ndang pulang, ndang pulang!" aku sedikit berteriak dengan menahan amarahku agar keluargaku tidak mendengarnya. Respon cak jidin sungguh membuatku lebih kesal. Ia hanya diam saja tidak menghindar dan menatapku dengan mata yang sendu.
Aku semakin membabi buta. Aku memukulinya lebih keras lagi dan lagi. karena dia tak bergeming dari tempatnya duduk membuatku menangis terisak-isak.
"pulang.... pulango....!" kataku sambil menangis.
Dia seperti ingin memelukku untuk menenangkanku. Mungkin ia sadar kondisi fisik dan mentalku sedang tidak baik sehingga ia mengurungkan niatnya dan hanya melihatku dengan rasa sayang dan iba. Diapun berdiri dan menatapku. Terlihat sekali jika dia tak rela untuk segera pergi.
Tapi rasa sayangku sepertinya sudah hilang sehingga membuatku tak ingin lagi melihatnya lebih lama lagi. Akupun berbalik ke arah lain, kembali tidur dengan posisi memunggunginya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku.
Aku menunggu dan berharap dia sudah pergi dari kamarku.
Samar-samar aku mendengar dia berbasa-basi dengan mak jah dan mbah Bardi dan tak lama kemudian dia berpamitan untuk pulang.
Aku membalikkan badanku ketika aku yakin dia sudah benar-benar pulang.
Mak jah dan mbah Bardi masuk ke kamarku dengan membawa kacang rebus dan jajanan lainnya. Adik-adikku pun keluar dari persembunyiannya dan bergabung bersama kami menikmati buah tangan dari cak jidin. Aku langsung duduk dan mengambil kacang yang terlihat menggiurkan.
__ADS_1
Aku mengupasnya dan baru makan satu butir kacang. Mak jah tiba-tiba berceletuk, " gak gelem ambek wonge kok arep jajane....?!?!" (nggak mau sama orangnya kok mau makanannya)
Kontan saja aku langsung melempar kulit kacang yang masih tersisa satu kacang didalamnya. Aku langsung berbalik badan dan tidur membelakangi mereka.
"Panganen kilo.... entek lho engkok....!" (makan saja ini.... nanti habis lho)
Aku tak menghiraukan rayuan dan bujukan dari mak, mbah maupun adik-adikku. Aku terlalu gengsi meskipun aku sangat ingin makan kacang tapi aku tidak akan melakukannya. Sekali ngambek tetep harus kekeh pada pendirian, ngambek is go on.
Pada akhirnya kacang itu habis dipurak keluargaku dan aku hanya menelan ludah karena hanya menikmati satu kacang.... hiks......
###########
Kalau diingat-ingat sekarang kenapa aku jadi kasihan ya sama dia, sabar banget ngadepin aku.
Dan sekarang dia sudah jadi duda beranak dua atau tiga aku kurang faham karena dia tetap tinggal di rumah mertuanya. Padahal di sini juga siap mau membangun rumah tapi mertuanya tidak mengizinkannya.
Dengar-dengar anak-anaknya pun tak mau dia menikah lagi dan dia dengan sabarnya menuruti permintaan anak-anak nya.
Begitu desas desus yang kudengar. Ku akui dia memang sangat penyabar
__ADS_1