
Beberapa hari setelah itu ibu datang lagi ke pondok. Aku sudah penasaran saja kabar apa lagi yang dibawa ibuku kali ini.
Aku meninggalkan pekerjaan dapurku kemudian bergegas ke kamar karena ibu sudah dipersilahkan oleh teman-temanku untuk langsung ke kamar ndalem. Setelah tidak ada lagi yang dikamar selain kami berdua barulah ibuku mengatakan tujuannya datang kepondok hari ini.
"Dikon ndolekno ali-ali! " (Disuruh nyarikan cincin ). Kata Ibuku.
"Kapan-kapan mawon buk..... yok nopo oleh medal? Nek pamitan sakniki engken Bu nyai lak semerap" (Kapan-kapan saja bu.... Gimana keluarnya? Kalau pamit sekarang nanti Bu nyai jadi tahu).
Setelah berbincang-bincang mengenai ini dan itu ibuku berpamitan karena hari sudah siang dan ibu belum ke pasar. sebelum pulang , ibuku berpesan lagi kepadaku agar aku menyimpan rahasia ini dan tak membocorkannya pada siapapun.
Beberapa hari berlalu, ibu datang lagi, Membawa kabar bahwa pihak keluarganya Cak Im ingin acara pernikahannya diadakan di bulan Maulud. Saat itu sudah bulan sya'ban dan aku ingat bahwa nabi menikah dengan Siti Khadijah pada bulan Syawal dan menikahi Siti Aisyah pada bulan Syawal juga. Maka aku mencoba meminta, bagaimana jika dimajukan menjadi bulan Syawal saja. Bukan karena aku kebelet , ngebet atau apa, Aku hanya ingin mengikuti sunnahnya.
Maka ibu pulang lagi dan beberapa hari kemudian kembali lagi. Ibu mengatakan jika Cak Im agak khawatir karena pernah mendengar jika menikah di bulan Syawal maka orang itu akan punya banyak hutang.
__ADS_1
"Naudzubillahimindzalik. Semoga itu tidak pernah terjadi. Njeng Nabi niku nikah kale Siti Khodijah bulan Syawal . kaliyan Siti Aisyah nggeh bulan Syawal." aku mengemukakan pendapatku pada ibu. Sedikit ngeyel. Ku tegaskan sekali lagi ya, bukan karena ngeyel tapi ini kan pernikahan yang diharapkan akan terjadi sekali seumur hidup dan aku ingin berjalan sesuai harapan yang terpendam dan kuinginkan. Just it.
Hari-hari kemudian berlalu dan ibuku sekarang tak capek bolak-balik ke pondok. Membawa berita dari rumah dan menyampaikannya padaku kemudian meminta pendapatku, pulang lagi untuk memberitahu mereka bagaimana pendapat ku, balik lagi... seperti itu berkali-kali.
Akhirnya keluarga Cak Im menyepakati jika pernikahan akan diadakan pada akhir bulan Syawal. Ibuku kemudian menanyakan kepadaku aku minta mahar berapa.
"Pokok e angka tujuh..." Begitu ucapkau karena pak Zein pernah berpesan jika minta mahar mintalah angka tujuh.
"Pitung puluh ta pitung atus?" (Tujuh puluh apa tujuh ratus?)
Ibuku kemudian bercerita jikalau Cak Im adalah tulang punggung keluarga jadi setelah aku menikah dengannya aku harus tahu diri dan membagi Rizki yang kudapatkan dengan keluarganya.
Dari cara ibu bercerita tentangnya terlihat sekali kalau ibuku sangat menyukainya dan respect padanya.
__ADS_1
.
Aku jadi ingat , pas aku masih SMP dan sedang belajar bahasa Arab , bapakku melihatku kala itu. Bapak kemudian bilang ," Nango Cak Im kono lho....! Cak Im pinter bahasa arab...." (Pergi ke Cak Im sana lho...! Cak Im pinter bahasa arab...) Bapak kala itu juga terlihat begitu mengagumi sosoknya.
Saat bapak bicara begitu aku diam saja tak menjawab. Dalam batin aku berkata, ndaneh isine, wonge mueneng ngunu. (Betapa malunya, orange pendiam begitu).
.
Pembicaraan kami untuk mendiskusikan semua yang berhubungan dengan pernikahan memakan waktu kurang lebih tiga bulan an. Jumadil akhir, Rajab, ruwah ,Poso. Dan selama itu aku masih berada di pondok. Ibuku yang riwa-riwi, tapi sepertinya ia terlihat bahagia sekali. Mungkin karena mantu pertama.
Sepertinya ibu dan bapak suka sekali sama Cak Im karena selama ini aku sudah sering mendengar ada yang datang memintaku tapi ibu selalu menjawab, anaknya masih sekolah. Dan ibu tak pernah membicarakannya denganku. Seolah itu bukan hal penting yang harus kami bicarakan.
Selama beberapa bulan terakhir aku di pondok itu pula anak-anak pondok merasa heran dan menebak-nebak apa gerangan yang terjadi. Terutama mbak Ima sepupuku. Ia kerap bertanya padaku ada apa? kenapa ibu bolak-balik ke pondok.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku tidak bisa memendam rasa berkecamuk dalam diriku untuk memendam rahasia ini sendiri sehingga aku bercerita pada mbak Ima bahwa aku akan menikah dengan cak Im. Mendengar hal itu diapun terperanjat. Aku mewanti-wanti pada saudara sepupuku itu untuk tidak bercerita pada siapapun karena aku tak ingin rahasia ini sampai kemana-mana sampai waktunya nanti.