Misteri Cinta

Misteri Cinta
paling


__ADS_3

Seperti biasanya aku menitipkan suratku pada mbak Indi, menitipkan salam dan permintaan maafku pada Davic.


" Lapo mbak Aini?" tanya mbak indi sedikit gusar


" Pean takok arek e ae nggeh"


"Mbak Aini lapo se mbk, Da o' salah opo?"


"gak salah opo-opo mbak...." Jawbku


"Terus lapo lho?"


"Mene ae pean takon arek e ,nggh!" Kataku lagi tanpa berniat menjelaskan apa maksud dari suratku kali ini.


Mbak indi berlalu meninggalkanku meski ia tak puas karena tak mendapatkan penjelasan dariku.


Dua hari kemudian saat aku berada di kantin pada jam istirahat, mbak Ina dan mbak Indi mendatangiku. Mereka minta penjelasan padaku kenapa aku memutuskan Davic.


"Jarene arek e yok opo lho?" Tanyaku balik pada mereka.

__ADS_1


"Gak pareng pak Zein pacaran"


"Yo iku jawabane" Jawabku lagi.


"Sakno Da o' lho mbak Aini, arek e suedih lho. Padahal jarene arek e pean nggawe koco moto tambah muanis"


"Arek e ngomong yok opo ae mbak Ina? Tanyaku pada mbak Ina.


" Jarene surat-surate dikon ngobong. Arek e crito ambek nangis mbak..!" Mbak Ina dan mbak Indi bercerita tentang kesedihan yang dialami Davic karena aku minta putus.


Aku tersenyum kecut antara percaya dan tidak pada ucapannya mbak Ina sambil membayangkan Davic yang badannya tinggi besar sedang bercerita pada teman-temannya sambil menangis, Melow, pasti lucu bin aneh.


Aku Pun menjalani hari seperti biasa. Entah karena apa, seringkali ketika aku berjalan entah itu ke pasar, ke foto copy an ataupun ke masjid. Cowok-cowok itu pasti memanggil namaku, padahal kami berjalan bergerombol. Mungkin karena aku jarang bicara pada teman-teman cowokku membuat mereka penasaran padaku atau mungkin karena aku terlalu manis kayak madu (wkwkwk..... canda euy).


Bahkan saat mengaji di masjid pun dari lantai atas masjid yang belum selesai pembangunannya itu ada beberapa anak yang memangil-manggilku. Sayangnya saat aku melihat ke atas aku tak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Jadi kebanyakan aku tak tahu siapa mereka tapi bodo amatlah.


.


.

__ADS_1


Siang itu sepulang sekolah kami anak-anak anggota kamar A makan siang bersama dikamar sambil berbincang-bincang setelah solat dhuhur terlebih dahulu. Siang itu menunya sayur asem (cuma tinggal airnya doang tanpa ada sayur kangkung atau kacangnya, benar-benar air yang rasanya ada asin dan asamnya) lauknya tahu dan tempe. itu saja. Tapi kami menikmatinya dengan senang hati.


"Gus Pur tadi pas pelajaran ushul fiqih menjelaskan bahwa buah-buahan yang dahannya berada dipekarangan orang lain maka buah itu halal diambil oleh pemilik pekarangan itu". Aku mulai menjelaskan tema perbincangan kali ini dengan maksud ingin bertanya pada mbak-mbak .


" Berarti mangga manalagi yang dahannya ke tempat jemuran di lantai tiga niku boleh diambil nggeh mbak?" tanyaku pada mbak Ziyah


"Ngunu paling", jawabnya


"ooh....." kami yang mendengarkan serempak ber oho rio.


Selesai makan obrolan masih berlanjut sambil menunggu antrian kamar mandi. Mbak Nurin kemudian bercerita tentang cowok yang ditaksirnya selama beberapa minggu ini. Namanya Syifak. Anak pondok selatan, anaknya memakai kaca mata dan dia anak yang pendiam sekali.


"Huu..hu... hu.. . Syifak.....!!! ia menyebut nama itu berulang-ulang sambil memeluk bantal dan memejamkan matanya, sambil membayangkan wajah Syifak mungkin.


Kami yang melihatnya hanya tersenyum karena tingkah lucunya mbak Nurin. Ia tanpa malu meluapkan perasaannya pada kami.


Mbak nurin ini tergolong unik. Suaranya sangat merdu tapi kalau disuruh maju untuk solawatan dia tak mau


.

__ADS_1


__ADS_2