Misteri Cinta

Misteri Cinta
Abah


__ADS_3

Saat kami sedang duduk-duduk di kamar setelah beraktifitas seharian, Kholifah salah satu anak ndalem yang lucu itu masuk kamar sambil menangis. Diantara tangisnya dia berkata,"Abah masuk rumah sakit..... "


Kabar itu sontak membuat kami terkejut. Memang sudah beberapa hari yang lalu Abah memang tidak mengaji kitab jalalain dan mukhtarul ahadis dengan kami seperti biasanya karena kondisi beliau sedang tidak fit. Abah sedang gerah , begitu yang kami, anak ndalem ucapkan pada santri-santri lain yang menanyakan kenapa Abah tidak lagi mengaji.


.


.


Setelah beberapa Minggu di rumah sakit tapi tidak ada perubahan yang signifikan pada kesehatan Abah maka keluarga ndalem membawa Abah pulang dengan seorang perawat yang mendampingi beliau dan seorang dokter yang akan datang untuk memantau kondisi beliau setiap paginya.


Suatu siang saat aku mengangkat jemuran, di depan ndalem, Bu nyai bertanya padaku , " Abah mbucal jamune ta?"


"Ngapunten mboten ngertos buk" Begitu jawabku karena saat aku menjemur aku tidak melihat sosok Abah sama sekali. Aku juga tidak melihat ada yang membuka jendela kamar abah.


"Polake jamune Abah puaait" (Karena jamunya sangat pahit sekali) kata Bu nyai sambil melihat ke bawah jendela barangkali Abah membuangnya lewat sana.

__ADS_1


Semenjak Abah sakit dan tidak lagi mengajar ngaji pada kami, Bu nyai jadi sering marah-marah di dalam rumah karena Abah tidak mau minum jamunya. Beliau terlalu cemas dengan keadaan Abah sehingga putra putrinya yang sering terkena dampak kemarahan sang ibu.


Kami anak-anak ndalem yang selalu mendapatkan berita pertama tentang keluarga ndalem terkejut ketika suatu waktu kami mendapatkan kabar bahwa Abah kritis dan sudah dilarikan ke rumah sakit di Surabaya.


Yang bisa kami lakukan saat mendengar kabar itu hanyalah berdoa semoga Allah segera memberi kesembuhan pada beliau dan bisa beraktifitas seperti biasa. Semoga Abah di beri umur panjang sehingga bisa mengajar kami lagi.


Bu nyai, putra putri beliau beserta para menantunya bergantian menjaga Abah di Surabaya. Jika Bu nyai yang menjaga Abah maka kami akan solat berjamaah dengan neng Niro atau neng Iin sebagai imamnya.


Saat keluarga ndalem pulang dari Surabaya baju-baju kotor yang dibawa pulang sangat banyak , belum lagi seprei, selimut, handuk dll yang membuatku tidak bisa mencucinya sendiri dan aku akan meminta bantuan pada para santri yang bersedia mencucikan baju keluarga ndalem.


"Aku mbak Aini , aku!!!"


"Uakeh tenang ae....." kataku sambil menunjuk tumpukan baju dan kain kotor yang sudah kumasukkan ke dalam tong.


Sekitar dua bulanan Abah berada di rumah sakit Surabaya dan Karena keadaan Abah sudah stabil maka keluarga membawa beliau pulang lagi.

__ADS_1


Cacak-cacak yang dekat dengan Abah kerap bergantian menjaga beliau di kamar sambil membacakan surat Yasin. Lama-lama Abah semakin tak bisa diajak bicara dan hanya menggerakkan bibirnya pelan sekali. Abah hanya mengucapkan Alloh Alloh saja, begitu kata cak Noto yang sering menjaga abah.


Tiap hari Kamis malam Jum'at agenda pondok putri biasanya diisi dengan acara khitobah atau manaqib tapi untuk malam itu Mbak Leli berencana akan membacakan surat Yasin untuk Abah secara berjamaah tepat setelah solat Isyak.


"Mbak Lel...... ngendikane pak Zein nek wong loro iku diwacakno surat Ar ro'du mugi2 Ndang diparingi waras tapi nek wes wayahe dipundut mugi2 ndang dipundut cek e gak ngrasakno loro suwi-suwi. Nek Yasin iku gawe wong seng wes mati....." (Mbak Lel.... katanya pak Zein kalau orang sakit itu dibacakan surat Ar ro'du. Semoga lekas diberi kesembuhan tapi kalau memang sudah waktunya semoga disegerakan agar tidak merasakan kesakitan terlalu lama. Kalau surat Yasin itu dibaca untuk ahli kubur atau orang yang sudah meninggal) Aku mengatakan pendapatku seperti yang pernah kudengar dari pak Zaini Zein.


Mbak Lel manggut-manggut mendengarkanku, "ngunu ta an?" (Begitu ya An)


"ngendikane pak Zein ngunu mbak!" (Kata pak Zein begitu mbak...) kataku penuh dengan keyakinan.


Hari itu Kamis malam Jum'at kami membaca surat ar ro'du bersama-sama dengan khidmat setelah sebelumnya kami bertawassul terlebih dahulu. Kemudian kami berdo'a kepada penguasa alam semesta memohon yang terbaik untuk Abah. Tolong segera disembuhkan atau bila memang sudah waktunya tolong segera panggil ruhnya. Kasihan Abah yang sudah lama menderita.


Sekitar jam 3 dini hari kami mendengar kabar bahwa Abah sudah berpulang kembali kepada Robb nya. Mendengar kabar itu aku langsung terbangun dari tidurku. Tanpa diminta air mataku menetes begitu saja. Aku tak terisak tapi air mata itu terus saja berjatuhan di pipiku tanpa bisa kubendung. Terhenyak dalam kesedihan di tengah gelapnya malam.


Suasana malam yang awalnya sunyi berubah dalam sekejap. Seisi Pondok gempar dan suara tangisan terdengar dimana-mana. Kami kehilangan seorang kyai, seorang guru dan seorang ayah , seorang panutan. Idola kami dan orang yang paling kami sayangi seperti orang tua kami bahkan mungkin lebih.

__ADS_1


Meski kami tidak dekat dengan Abah tapi kami semua merasa kehilangan beliau. mungkin karena kecintaan beliau kepada kami yang beliau lantunkan dalam setiap doa-doanya sehingga membuat kami merasa bahwa beliau begitu menyayangi kami.


__ADS_2