
Aku duduk menghadap ke barat sedangkan Harjo duduk menghadap ke arah selatan dengan jarak yang cukup jauh diantara kami.
Ia kemudian menegakkan badannya sambil menyunggingkan senyum terbaiknya saat melihatku duduk.
"Nanti malam ada pengajian di daerah sini" Katanya mengawali perbincangan diantra kami
"Ten pundi?" Tanyaku.
"Pojokan mriko lho..." Katanya sambil menunjuk ke arah yang dia maksud.
"Mau ikut ke ndaleme yai Rofiq a?" tanya cak Harjo.
"Mboten " jawabku menolaknya. Masa belum menikah kok sudah pergi ke rumah yai berduaan. Apaan cobak?
"Kajange mriko ta?" Aku basa basi setelah menolaknya.
"enggeh. Engken mantun maghrib nyusul yai Rofiq"
Aku sempat melirik wajahnya yang terlihat kecewa pada jawabanku yang tak sesuai dengan harapannya.
Sebenarnya aku tak merasakan dag dig dug saat berduaan dengannya seperti dulu saat bersama dengan Didi ataupun cak Jidin. Aku juga tak merasa gugup. Hanya saja aku memang tak pandai merangkai kata.
Setelah kami diam beberapa saat akhirnya aku membuka suara. Aku tak punya pilihan lain. Aku harus meruntuhkan egoku membuang jauh-jauh gengsiku. Saat makan siang tadi jeng kar mengatakan akan ke rumah mbak Ziyah di Gresik dengan mbak Ima juga.
__ADS_1
Rasanya aku mau mengumpat dan mencak-mencak. Kurang ajar kau jeng. Aku bela-belain ke Dawar meski aku benci sekali naik mobil tapi aku kau tinggalkan begitu saja dan dengan mudahnya kau mengatakan agar aku pulang bareng Harjo. Keterlaluan kau jeng....!! Rutukku dalam hati saat mendengar rencana mereka.
Aku tidak pernah kemana-mana sendirian. Apalagi Dawar adalah pedesaan yang jalannya sangat sepi. Teganya kalian. Hatiku mengumpat mereka. Kalau di ajak ke Gresik aku nyerah . ke Dawar saja aku kliyengan bagaimana kalau ditambah lagi ke Gresik yang jalanannya katanya sama dengan Dawar dengan cuaca yang panas sampai air saja susah. Aku nggak bisa. aku benci naik mobil
Satu-satunya cara adalah bareng cak Harjo. Berharap dia akan pulang ke Mlirip keesokan harinya sehingga aku bisa bonceng sepedanya. Kalau tidak, terpaksa aku harus naik Len sendirian.
"Mbenjeng ten Mlirip ta mboten?" tanya ku harap-harap cemas. Semoga ia pulang ke kosannya yang ada di desaku.
" nopo o?" ia malah balik bertanya. aku jadi kesel bin malu sekali.
Apasih orang ini? tinggal jawab aja apa susahnya . Aku sudah meruntuhkan harga diriku dengan bertanya apa dia besok mau ke Mlirip atau tidak. Masak aku harus berterus terang kalau mau bareng sama dia. Hatiku dibalut rasa marah. Aku gengsi tapi tak punya pilihan lain. Rasanya aku ingin mencakar temboknya mbak Kum yang belum sepenuhnya selesai itu.
" Nek Ten Mlirip kulo sareng...." kataku seperti orang yang tengah memohon. Aku belum pernah melakukan hal yang seperti itu sebelumnya. Ini sangat memalukan dan menjatuhkan harga diriku.
" Kajenge Ten Gresik." jawabku
" Mbenjeng jam 6 a?,..! kata cak Harjo
" nggeh ..." jawabku langsung menyetujuinya.
Beberapa saat kemudian dia pamit pulang dan aku tidak mengantarkannya karena merasa sedang diperhatikan oleh semua orang. Aku langsung masuk ke kamarnya mbak Kum dan mereka langsung menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan konyol.
Malam harinya kami diajak oleh mbak Kum jalan-jalan melewati tempat orang yang punya hajatan dan mengadakan pengajian umum seperti yang tadi dikatakan Harjo.
__ADS_1
Dari jauh kami bisa melihat Harjo sedang duduk sambil merokok di depan rumah orang yang punya hajatan bersama warga lainnya.
Mbak kum berkata, "Kole areke....."
Aku melihat nya sekilas dan kami terus berjalan menuju rumah kakaknya mbak Kum yang belum ditempati. Sebenarnya kami hanya sekedar berjalan-jalan untuk mencari hawa segar. Melewati rumah penduduk yang jarak antara rumah satu dengan rumah yang lain nya cukup jauh. Tidak seperti di perkotaan yang hampir tak ada celah antara rumah satu dengan yang lainnya.
Setelah dari rumah kakaknya mbak Kum kami menuju ke rumah orang yang punya hajatan.
"Koncomu ta Kum?" kata salah seorang kepada mbak Kum
"enggeh"
"Pekno mangan Kum!"
"gak usah mbak Kum" kami serempak menolak. Malu lah masak datang-datang langsung makan. Mana nggak bawa apa-apa.
"Wes talah rek cek ro daerah kene."kata mbak Kum.
"Kum kenalno ambek seng kudung ireng iku ya," teriak salah satu cowok dari tempat yang agak jauh.
"Pacare Harjo iki" mbak Kum menjawabnya sambil berteriak juga karena suara musik berdebum yang memekakkan telinga.
"Opo seh mbak kum," aku berkata sewot Karena cewek yang dimaksud adalah aku.
__ADS_1