
" Nek cak Jidin, mas Huda sama cak Deri. Pean setuju seng pundi mak?" aku bertanya pada nenekku karena penasaran ingin tahu jawabannya.
"Nek aku seneng iki," tangan mak jah menunjuk kearah rumahnya cak Deri.
"Areke sabar, nyambut gawene temen, sembayange yo temen, akas, bendino seng ngangsu jeding yo Deri iku. Nek umbah-umbah iku katoke ibu e yo diumbah. Sampe ibukne isin terus disingitno ambek ibu e cek gak diumbahno Deri. Wong tuwone Deri yo temen. Pak Gofar ket cilikan pean iku wes ngedipi pean, pingin ngepek mantu pean ce e besanan karo bapak pean" kata nenekku yang bawel itu menjelaskan.
Cak Deri adalah tetangga kami juga. Ayah ibunya orang pondok an. Meski mereka bukan termasuk orang kaya tapi keluarga mereka harmonis. Ayahnya biasanya berkhutbah di masjid dan pekerjaan sehari-harinya adalah nyelep batu bata. Saat musim mangga biasanya mereka akan berjualan mangga di depan rumahnya.
Entah kenapa waktu kecil Pak Gofar sudah ingin menjadikanku menantunya sampai aku diajari memanggil istrinya ibuk. Aku terkesan manja memang pada ibunya cak Deri yang serba bisa itu. Beliau sangat cantik, pandai memasak, bisa motong rambut dan pandai menjahit. Aku sering kesitu untuk makan karena masakan ibunya cak Deri sangat lezat dan tiap hari menunya selalu bervariasi meski dari bahan yang sederhana tapi rasa masakannya lezat sekali. Kadang tumis mangga muda sama klotak yang rasanya asam manis pedas asin uenak pol pokoke, bali tahu yang rasanya itu berbeda dengan yang lainnya, pepes, botokan dll.
"Iwak nopo buk?"
__ADS_1
"Buk potongno rambut kulo nggeh a?"
Begitu biasanya aku memanggilnya dan bermanja pada ibu Cak Deri.
Aku juga sering minta tolong pada beliau untuk memotong rambutku. Aku tidak minta tolong pada ibuku sendiri karena pasti permintaanku akan ditolaknya.
Ketika aku berkumpul di ruang tamu mereka, pak Gofar juga sering berkata, "pean tak olehno cak Deri ae lo ya. Gak usah adoh-adoh".
anehnya mereka sekeluarga seperti sudah tahu dan setuju. Mereka tampak kompak mendukung keinginan pak Gofar, termasuk cak Deri yang saat itu juga ikut duduk bersantai di ruang tamunya. Ia malah tersenyum malu-malu.
.
__ADS_1
Barulah saat SMP aku menyadari dan merasa aneh kenapa adik-adikku tidak memanggil ibunya cak Deri dengan panggilan ibuk, sepertiku. Ketika ada orang yang hendak menjahitkan baju datang ke rumah pak Gofar dan rumahnya tutupan biasanya mereka akan ke belakang dan mereka bertanya padaku yang kebetulan di belakang rumah dan bertanya,"bulek jah kok mboten enten teng pundi nggeh. iki arepe njahitaken baju kok tiyange mboten enten?"
"Ibuk ramban ten wengkeng" jawabku dan merekapun keheranan .
"Ibuk?" mereka balik bertanya.
"Maksud kulo bulek jah" kataku.
Sejak saat itu aku agak merasa canggung ketika aku memanggil ibunya cak Deri dengan sebutan ibu. Akupun mulai membiasakan diri memanggil beliau 'bulek jah' seperti yang lainnya.
.
__ADS_1
"Nek cak Jidin yok nopo mak?" tanyaku lagi
"Iku yo gak popo. Areke yo apik, guru, wong tuwone y sembayang, temen"