
Seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, kami lebih sering menghabiskan sepanjang waktu berdua, di dalam kamar . Kami hanya akan keluar saat mandi, solat, dan sedikit membantu mertua memasak. Selain waktu itu kami hanya berduaan di dalam kamar. Bahkan makan pun didalam kamar. Padahal kami hanya berbincang-bincang saja karena aku belum suci dari haidku. Dia bahkan belum pernah mencium bibirku. paling jauh kami hanya berpelukan saja.
Setiap hari dia bertanya padaku,
"Dereng ta yank?" (Belum ta yank...?) dia memanggilku yank dan ingin aku memanggilnya kang. Kang mas, Kang Im. ndesit sih tapi Its ok lah. No problem. menyenangkan suami dengan cara mudah dan murah.
"Dereng...." (belum ) Jawabku.
"Suwe ta biasane?" (Apa Memang biasanya lama?)
"Kadang pitung dinten kadang sedoso dinten" (Terkadang tujuh hari, kadang sepuluh hari) jawabku. Dia mendengus pelan sambil tersenyum dengan penuh keterpaksaan.
Berada di rumah mertua meski itu adalah budeku sendiri rasanya kurang nyaman. Padahal seluruh desa tahu kalau mertuaku itu pendiam dan alim. Meski begitu tetap saja aku kurang nyaman ketika berkumpul dengan keluarga suamiku jadi aku lebih memilih berada di kamar ketika suamiku pergi bekerja.
Ia mengambil cuti satu Minggu sehingga bisa membantuku beradaptasi dengan keluargaku yang baru.
__ADS_1
Saat haidku sudah berhenti dan kupastikan dengan dengan kapas kalau sudah putih maka aku pun mandi besar untuk menghilangkan Hadas besar. Saat ia pulang kerja aku tak memberitahunya kalau aku sudah suci. Aku ingin memberinya kejutan nanti malam.
Hanya memakai sarung yang kulilitkan sampai atas dada tanpa memakai daleman saat menunggunya pulang setelah isyak. Bukannya aku kebelet ya, aku masih ingat betul kalau seorang istri itu harus selalu menawarkan diri pada suaminya seperti yang yang dilakukan oleh ahli sufi yang bernama Adawiyah. Beliau selalu menawarkan dirinya kepada sang suami sehabis Solat Isyak. Jika suaminya menginginkannya maka beliau akan menemaninya tapi kalau sang suami tak punya hajat atas dirinya maka Adawiyah akan menyibukkan dirinya dengan taqorrub pada yang maha Kuasa.
(Itu hanya diawal-awal pernikahan karena ilmu-ilmu tentang adab terhadap suami masih melekat kuat di dalam kepala. Setelah beberapa tahun berlalu aku malah sering menolak nya dengan berbagai alasan. Dan saat ini, saat aku menulis cerita ini keadaan pun sudah berbeda lagi. Kini malah aku yang sering menggodanya agar dia sering minta. Suka kepinginan tapi malu kalau minta secara gamblang dan terus terang)
Aku juga memakai celak dan menata rambutku sedemikian rupa agar ia semakin terpesona kepadaku.
Saat ia pulang dari musolla aku membuka pintu kamar dengan tersenyum karena menahan malu. Ia mengucapkan salam dan melihatku sejenak. Aku menjawabnya dan tetap berada di belakang pintu.
"sSampon " (sudah) jawabku malu-malu.
Suamiku itu melewatiku sambil menahan senyumnya. Ia segera berganti baju, melepaskan sarung dan bajunya kemudian ia berganti dengan menggunakan celana panjang saja.
Ia mendatangiku dan langsung meraup mukaku. Kami berciuman cukup lama. Dadaku rasanya panas bergelora, Jantungku berdetak amat cepat seperti ikut lomba. Ciuman itu adalah ciuman pertamaku dan juga pengalaman pertamanya. Kami melakukannya dengan penuh nafsu membara.
__ADS_1
Perlahan ia membawaku ke tempat tidur. Kami duduk berhadapan saling menatap satu sama lain dan itu membuatku tersipu malu. Aku memalingkan muka kesamping kanan dan melihat tahi lalat di lenganku. Aku ingat Bibi Lung dalam cerita pendekar rajawali, Yoko di ikan terbang yang mempunyai tanda keperawanan di lengannya. Aku pun iseng menggodanya.
"Niki tanda keperawanan...." (Ini tanda kegadisan...) Aku menunjuk tahi lalat di lenganku.
"Enggeh ta?" katanya dengan raut muka percaya. Sebenarnya aku ingin tertawa melihat tanggapannya tapi aku menahannya.
Setelah melakukan pemanasan kami pun mulai berdoa
Allahumma jannibnasy syaithon wa Jannibi syaitona ma rozaqtana
setelah itu..., setelah itu.... ya ya yaaaaaaa.......
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sebenarnya ada yang lucu tapi aku nggak bisa cerita disini kalau suamiku baca ini bisa- bisa dia akan marah. Ini adalah privasi, hanya rahasia kita berdua saja. Intinya kami nglampahi ilmu laduni. Iyo no? ora tahu ini seng ngajari kok Yo weruh ae nggone, carane. jenenge lak ilmu laduni to ngunu kuwi?
__ADS_1