Misteri Cinta

Misteri Cinta
pedekate


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu cak imam mengajakku ke Dawar untuk pedekate pada mbak kum. Sepupuku yang satu ini sering memintaku untuk menemaninya datang ke rumah cewek untuk pedekate saat aku liburan


menurutku Dia termasuk cowok yang loyal karena beberapa kali aku menemaninya ke rumah cewek dia selalu membawa oleh-oleh ketika akan bertamu. dia juga sudah cukup berumur dan sudah punya pekerjaan yang menjanjikan. dia bekerja di AJINOMOTO yang gajinya di atas UMR. Belum tunjangan hari raya , tunjangan sift, tunjangan kesehatan. pokoknya di desa kami orang yang bekerja di AJINOMOTO itu masa depannya bisa diandalkan.


sebelum kami sampai di rumahnya mbak kum kami mampir beli jajanan di toko yang kami temui. Terlebih dulu cak imam mampir ke rumahnya cak harjo dan kami ke rumahnya mbak kum bersama-sama.


Kami berjalan-jalan di atas pegunungan yang tak seberapa tinggi itu, melihat jurang dan menikmati pemandangan. cak imam berjalan di depan dengan mbak kum sedangkan aku berjalan bersisian dengan Harjo di belakang mereka.


kami mengobrol bersahut-sahutan biasa aja. aku juga nggak jaim atau merasa sungkan ketika berbicara. Aku apa adanya saja karena memang tak ada perasaan yang gimana-gimana. biasa aja.


" langsung mulih ta maringunu?" tanya cak imam kepadaku


"Kosek ta caaak...." jawabku, karena aku masih ingin ngobrol sama mbak kum, kami belum lama juga sampainya masak buru-buru pulang. perjalanannya saja sejam lebih masak sampai sini cuma setengah jam langsung balik lagi. capek di jalan dong, pikirku


"ngaleme.," -(manjanya) kata cak harjo


aku merasa kata-kataku biasa saja tapi menurut cak harjo itu termasuk manja.


aku berpikir, kayaknya kami nggak cocok deh. dia orangnya nggak suka yang manja dan karakterku adalah super manja. Tapi aku tak ambil pusing. terserahlah apa kata nanti


kami mengobrol lagi ketika sudah sampai di rumah mbak kum, cukup lama sampai akhirnya kami pamit.

__ADS_1


.


.


.


ketika aku kembali ke pondok cak imam yang mengantarku mbalik naik sepeda motor karena dia memintaku untuk mencari kabar tentang mbak kum. apakah mbak kum mau menerimanya atau tidak.


diantara aktifitas kami, aku menyempatkan diri untuk menuntaskan misi dari cak imam. aku langsung to the point saja bertanya pada mbak kum.


"mbk kum, menurut pean cak imam iku yok opo?"


" kok aneh ngunu Yo cacakmu iku" katanya


"lambene koyok onok opone ngunu...."


"owalah..."


bibir nya cak imam itu dulu sumbing terus di operasi jadi masih ada bekasnya.


aku menarik kesimpulan kalau mbak kum nggak tertarik pada cacak sepupuku itu. ok. aku akan menyampaikannya nanti saat cak imam sambang

__ADS_1


.


.


.


hari Minggu itu ada seseorang yang nyambung aku lagi. cak harjo. Aku sudah dag Dig dug takut diduga yang enggak-enggak sama santri-santri yang lain


setelah kami ngobrol panjang lebar ia pun kemudian berkata


" kulo enteni nggeh?"


" kulo tasek kepingin mondok maleh e "


"pinten tahun?"


"gangsal tahun"


"heh gangsal tahun?" katanya sambil mengangkat kelima ibu jarinya


akupun mengangguk mengiyakan. Aku tak berpikir lama waktu itu karena aku kurang sreg dengannya

__ADS_1


tiba-tiba cak imam masuk ke dalam kantor putri


" lhoh Jo, pean kok Ten mriki?"


__ADS_2