
"Gus Syafiq ikut ujian ....!!!"
"Gus Syafiq......!!!!"
"Gus Syafiq....!!!!"
"Gus Syafiq...........!!!!"
Nama itu bergema di pondok putri. Putra Abah yang bernama Gus Syafiq Basyaruddin yang mondok di Lirboyo diberitakan baru saja pulang setelah tiga tahun lamanya tidak pernah pulang ke rumah sama sekali. Sekalinya pulang beliau langsung akan ikut ujian nasional di MA DARUL HIKMAH. Sekolah tempat kami menempuh ilmu selama hampir tiga tahun.
Gus Syafiq yang merupakan putra pemilik yayasan bisa langsung ikut ujian meski tidak pernah menempuh sekolah formal disitu atau sekolah di tempat lain karena di Lirboyo saat itu masih menggunakan sistem belajar salafi tanpa formal sama sekali. Entah sekarang bagaimana.
Kehadiran Gus syafiq ini memberi kegembiraan tersendiri untuk Bu nyai karena kepergian Abah untuk selamanya. Mungkin juga Gus Syafiq ini sudah pulang saat Abah sudah sakit parah, Entahlah.... yang jelas kehadiran Gus Syafiq memberi oase tersendiri bagi kami. Seperti mendapatkan air segar saat berada di padang pasir yang tandus dan gersang.
Gus Syafiq menjadi buah bibir dan perbincangan seperti headline news di surat kabar nasional. Semua orang penasaran ingin melihat wajahnya karena hanya beberapa orang yang pernah melihatnya. Bahkan anak ndalem seperti kami juga tidak bisa melihatnya dengan jelas karena gus Syafiq ini sepertinya punya kepribadian pemalu dan introvert. Suka menyembunyikan diri dan tidak suka tampil di depan umum.
Tentu saja itu semakin membuat semua santri putri penasaran ingin melihat wajahnya secara jelas. Gus-gus itu layaknya artis di dalam pondok.
Cewek-cewek kecil Mts sering kali manggil-manggil nggodain Gus Gus yang lewat di depan kantin tanpa ada rasa malu sama sekali. Mereka menganggap dirinya hanya fans semata yang boleh mengagumi idolanya. Kurang lebih seperti itu pikiran mereka.
Reaksi para Gus saat dipanggil oleh ciwi-ciwi kecil juga beragam karena tiap gus punya pribadi yang berbeda dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Putra abah dan ibu itu ada sepuluh. Lima lelaki dan lima perempuan. Ditambah lagi putra mbah Yai dari istri ketiganya yang artinya saudara sebapak dengan abah ada dua yang masih bujang. Yakni Gus Imam Sampurno yang biasa kami sebut gus Pur dan satu lagi yakni Gus Imam Syafi'i yang biasa di panggil Gus Syafi'.
Kalau putra abah gus Syafiq Basyaruddin kalau putra mbah Yai Gus Syafi'.
Jadi total ada tujuh gus yang menjadi idola di pondok kami.
__ADS_1
Kita mulai dari Gus Nafik yang paling cool dan menyenangkan sekali. Ini menurutku ya. Ketika ada anak-anak yang memanggil namanya beliau cuma tersenyum tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Gus Nafik.,.........!!!!!" Begitu teriak bocil-bocil pada zaman itu.
Dan Gus Nafik terus saja berjalan dengan tenang dan santai sambil tersenyum dikulum tanpa menoleh sama sekali, maniiis sekali. Kalau minum air putih pasti rasanya manis kalau sambil lihat senyumnya gus kami yang satu ini. Hihihi.....
Kalau Gus Pur beda lagi.... biasanya, bocil-bocil juga sebagian anak MA yang bisa dibilang alay nggak usah teriak-teriak karena beliau sangat open pada semua santri. Kalaupun ada yang memanggilnya beliau akan menoleh sambil berkata,
"Lapo rekkk??!" Begitu kata Gus Pur dengan nada sengal.
Tidak seperti saat pertama kali ketika beliau mengajar kami. Di awal-awal kemunculannya Gus Pur benar-benar tak mau melihat anak anak-anak putri. Tapi sekarang tidak lagi bahkan amat jauh perbedaannya seperti langit dan bumi.
Anak-anak termasuk aku biasanya langsung mendekati beliau untuk bertanya ini dan itu, terkadang kami curhat dan kadang hanya ingin melihatnya lebih dekat saja. Melihat keluarga ndalem itu rasanya sejuk seperti hawanya pagi. Tenang..., damai dan menyegarkan.
Yang paling aku heran kenapa tertawanya Gus-gus yang ngakak nggak bikin kita yang mendengarnya jadi illfeel malah membuat kita ikutan tersenyum juga. Terbawa aura bahagianya.
Gus Pur pernah bercerita , suatu hari beliau dimarahi Mbah nyai karena tidak solat berjamaah. Setelah dibangunkan dengan paksa oleh Mbah nyai akhirnya Gus Pur bangun dan Mbah nyai tidak berhenti memarahinya
"pooorr porr..,! awakmu nang kene Iki dadi kyai tambah gak tangi-tangi..." (Por..... por..... kamu disini ini jadi kyai malah nggak bangun-bangun)
"Kyai niku nek dugi lak Ngareni se Mak..." (Kyai itu kalau datang kan belakangan mak) Gus pur yang masih belum sadar sepenuhnya malah menjawab perkataan Mbah nyai yang malah membuat emosi beliau naik lagi.
"Buahhahhhahha.........hhahhhhhaaa.... beliau bercerita kemudian terbahak-bahak dan kami yang mendengarnya hanya senyum-senyum saja. ada-ada saja Gus Pur itu.
Gus wafi, putra ke delapan abah punya tatapan mata yang tajam tapi terkadang juga slengean. Kalau sedang marah, teman-temannya hanya diam tak berani menjawab padahal dia hanya menjahili teman-temannya saja. Suka jahil orangnya tapi lebih sering diam dengan memasang wajah garang. Bikin keder orang yang melihat. Jadi cewek-cewek nggak berani menggoda gus Wafi seperti kepada gus lain.
Mas ni'am yang masih MTS juga sering digoda oleh teman-temannya dan dia hanya acuh saja, sesekali memarahi mereka, ojok endel-endel opo o rek, begitu katanya.
__ADS_1
Keluarga ndalem itu adalah sesuatu untuk kami. Kami menyayangi mereka dan menghormati mereka tetapi karena kharisma yang melekat pada mereka terkadang membuat kami tau malu untuk mendekat dengan cara-cara murahan.
Kita kembali ke santri putri yang sedang berjejer di sepanjang pintu kantin untuk menunggu Gus Syafiq lewat . Karena aku ujian aku harus belajar dan masuk kelas dan melewatkan momen itu. Toh suatu saat pasti bisa melihat gus Syafiq, begitu pikirku.
Saat istirahat anak-anak kemudian bercerita. Mereka bilang sampai bel berbunyi tanda pelajaran akan di mulai mereka tak melihat Gus Syafiq lewat, yang ditunggu-tunggu tak kelihatan batang hidungnya.
Lantas Gus Syafiq lewat mana....padahal ia ikut ujian meski tak sekelas denganku. Tadi aku sempat melihatnya sekilas. Rahangnya keras, alisnya tegas, memakai kaca mata, sifatnya terlihat pendiam dan pemalu.
Kemudian beredar kabar bahwa beliau brusukan lewat belakang pondok putra untuk menuju kelasnya jadi para santri putri tidak menyadarinya.
Yaaahhhh Gus...... seng ngrantos Sampek antung-antungen. Yang nunggu sampai capek malah nggak muncul. Kecewa deh penonton.🤭🤭
********//////*****/////*****//////*******
Gus Nafi'ul Balya
gus Syafiq Basyaruddin dan Gus pur
Almarhum Gus Pur
__ADS_1
Rombongan gus lewat. Gusku, kangen masa-masa di pondok. Ngelihatin mereka mata dan hati jadi segar dan kembali bersemangat untuk mencari ilmu. Hihi.... Apa hubungannya coba.