
Hidup di dalam pondok yang selalu bising membuat suasana hatiku berbeda saat dihadapkan pada keadaan yang sunyi. Bising karena kami harus antri untuk mandi, untuk makan. Tapi kami menikmatinya seolah kami semua adalah saudara.
Kami semua berdiri ketika pak Zein rawuh. Ketika beliau sudah duduk barulah kami semua duduk. Begitulah adab yang beliau ajarkan kepada kami sesuai dengan kitab yang kami kaji.
Kitab ta'limul muta'alim. Kitab tentang adab dan tata cara seseorang yang mencari ilmu yang didalam kitab itu disebut sebagai murid agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah. Diantaranya tentang makanan yang masuk ke perut harus halal, jangan sampai makan makanan subhat, menjauhi perkara-perkara maksiat, bagaimana seharusnya kita meletakkan buku, bagaimana adab terhadap guru, jangan sampai menyakiti hati guru dan lain sebagainya.
Kami juga mengkaji kitab taklim di sekolah formal dan diniyah dengan guru yang berbeda. Menurutku cuma pak Zein yang paling pas dan mengena di hati saat menjelaskannya pada kami.
Saat pak Zein mengajar tidak ada murid yang berani berisik seperti saat kami sekolah pagi dan diniyah. Semuanya menyimak dengan seksama dalam suasana hening hanya mendengarkan suara pak zein yang tidak terlalu keras atau pun terlalu pelan. Karisma beliau memang sangat berbeda dengan guru-guru kami yang lainnya.
Hari itu pak Zein menjelaskan tentang seorang murid yang harus punya sifat sam'an wa toatan kepada guru. Apapun yang diperintah guru harus dikerjakan tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
.
.
.
Ada sekelompok polisi yang kebingungan karena selalu terkecoh oleh seorang buronan. Mereka sudah mencari ke banyak tempat yang diduga sebagai tempat persembunyiannya tetapi nihil. Mereka tak dapat menemukannya bahkan jejaknya seakan menghilang di telan masa.
Salah seorang polisi kemudian berinisiatif sowan kepada pak kyai yang termashur alimnya di daerah itu. Saat pak kyai menemuinya, pak polisi kemudian mengutarakan maksudnya . Pak kyai mendengarkan dengan seksama kemudian memberi obat pencahar/urus-urus/mencret kepada pak polisi yang sedang kalut itu.
Dalam perjalanan pulangnya obat urus-urus itu ternyata sudah bekerja. Karena sudah tak tahan ia kemudian turun ke bawah jembatan untuk membuang hajat di sungai dibawah jembatan.
__ADS_1
Ia merasa lega karena beban perutnya sudah dikeluarkan semuanya. Ia pun hendak kembali ke atas tapi ia menghentikan langkahnya karena ia melihat sosok buronan yang dicari oleh kelompoknya bersembunyi dibalik semak-semak. Ia pun langsung menangkapnya tanpa perlawanan yang berarti dari si buronan polisi sambil tersenyum dan bergumam,"tahu... aja pak kyai".
Begitulah, pak Zein menjelaskan sambil bercerita kepada kami. Satu lagi poin tambahan yang harus kucatat hari itu.
"Ketika mondok jangan sekali-kali berpacaran karena itu akan menghambat datangnya ilmu" begitu pesan pak zein.
Deg.... kata-kata itu langsung menohok jantungku.
.
.
__ADS_1
Aku memikirkan perkataan pak Zein berkali-kali. Aku ingin putus dengan Davic tapi aku ingin dia bisa menerimanya dengan lapang dada dan tidak berbuat hal-hal yang bodoh lagi.
Aku menulis surat lagi, meminta putus pada Davic karena aku ingin mengikuti pesannya pak zein. sam'an wa toatan. Aku juga minta padanya untuk membakar semua surat-surat dariku dan melupakanku.