
Mereka berasal dari Malang dan sudah berada di Mojokerto cukup lama namun sering berpindah kos-kosan. Sebagai pedagang bakso, mereka akan berkutat di dapurnya yang kecil itu sejak pagi agar siang harinya bisa berkeliling berjualan menggunakan gerobak.
Sebagai tetangga sekaligus pemilik rumah mak Jah dan mbah hampir setiap hari diberi bakso sampai mak dan mbah malu sendiri.
" Wes ojok dike i maneh.... jek mblenger aku..." kata mak Jah demikian agar mereka tak njatah setiap hari.
" Alah mbah ...mung kedik lho mbah.... mosok nggeh mblenger..."
"Iyo... wes kapan-kapan ae maneh, tak njaluk aku nek kepingin..." Kata Mak Jah lagi
"Saestu a mbah?"
"Iyo temen" Kata mak Jah mencoba meyakinkan.
Begitulah mak jah membuat alasan agar mereka berhenti memberi bakso.
.
__ADS_1
Siang itu aku duduk di ruang tamu sambil nonton televisi dengan Mak jah. Kemudian aku mengambil album foto yang ada di buffet. Aku melihat foto-foto kami sekeluarga. Ada foto-fotoku saat kecil, foto adik-adiku, foto mak Jah, mbah Bardi, ibuk dan bapak saat masih muda.
Aku paling mbuluk saat kecil. Item, dekil pokoke nggak banget lah. Sedangkan dua adikku nanik dan umroh kulitnya putih-putih. Setelah itu adikku yang ke empat dan kelima cika dan haro juga item lagi.
Menurut cerita bapak dan ibuku dulu sewaktu ibuk hamil adikku yang kedua, bapak kerja di orang cina yang biasa dipanggil cik Wa. Entah mengapa bapak sangat tidak menyukai cik Wa. Bahkan teman-temannya juga bisa melihat wajah bapak yang sangat tidak bersahabat dengan cik Wa sampai mandornya berkata, "ojok geting-geting ambek cik Wa. anak sampean engkok koyok cik Wa lho!"
Dan benar saja ketika lahir adikku yang kedua ini wajahnya sangaaat putih mumplak terus matanya sipit dan badannya guendut. Menurut ibuk mungkin sekitar 4,5 kg. Ibuku melahirkan adikku dengan kesakitan yang amat sangat dan dalam waktu yang agak lama. Ibuk melahirkan di rumah dibantu oleh dukun pijat yang bernama mbah Yam.
Karena tidak kunjung keluar akhirnya Aba Yahya masuk kekamar dan berdoa sambil mengusap-usap perut ibuk. Ibu merasa malu pada adik iparnya itu tapi juga tak tahan dengan rasa sakit yang begitu hebat. Selang beberapa menit setelah aba Yahya keluar dari kamar , bayi mungil yang lucu itu keluar dari persembunyiannya.
" mak mak mak... niki lho..." kata ibuku berteriak saat aku sudah di ambang pintu dunia, mengintai manja
"lapo..." jawab mak Jah dengan balik bertanya sambil mendekat ke arah ibu
"Niki lo areke pon medal.." kata ibuku panik.
Mak jah pun panik kemudian menyingkap kain jarik ibuku dan kepalaku sudah muncul. Mak jah kemudian berlarian menyuruh orang untuk memanggil mbah yam dan hadirlah aku si hitam manis ke dunia ini, narsis.....
__ADS_1
.
kubalik lagi foto-fotonya. Aku melihat foto tiga temanku yang berada di kamar yang waktu itu diambil setelah kami pulang dari diniyah. Aku merasa ada yang kurang. seharusnya ada fotoku dipinggir. kenapa cuma ada mbak Ima, mbak Inun dan mbak Linda yo?
Aku penasaran kemudian mengambil foto itu dari album untuk memastikan apa aku yang salah ingat ya? kubalik foto itu dan ternyata ada tulisannya, ' fotonya ku ambil untuk kenang-kenangan'
Mak jah yang melihatku kemudian berkata, "foto pean dijaluk Imam"
"heh..? kapan ?"
"Yo pas pean nang pondok"
"Eeng pundi se areke mak?"
"Seng onok andeng-andenge ilo"
'andeng-andeng' batinku geli. Ibuku juga punya andeng-andeng besar di atas bibirnya tapi kalau cowok yang punya tahi lalat di wajah .... hi...kayak gimana gitu ya
__ADS_1