Misteri Cinta

Misteri Cinta
Latah


__ADS_3

Beberapa bulan yang lalu kata yang sering terdengar di pondok putri ini adalah, 'BE'JIM'.


Krucil-krucil itu yang kadang berkejaran tiba-tiba berhenti dan bilang be'jim sambil menaruh ibu jarinya di depan bibir mereka.


Terkadang aku heran pada mbak-mbak yang ikut-ikutan latah. Tapi kemudian aku tahu mungkin itu di luar kesadaran mereka karena suatu saat ketika aku ngobrol dengan sahabatku aku tiba-tiba bilang "be'jim" . Aku kaget sendiri saat aku mendengar kalimat yang kuucapkan tanpa sadar itu.


Disini aku belajar mungkin seperti itulah cara belajar anak balita. Mereka akan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang tuanya dan orang-orang yang ada di sekitarnya kemudian mengucapkannya tanpa sadar.


Aku tersadar dari lamunanku ketika sahabatku mbak Likah mengagetkanku dan kemudian duduk sambil menawarkan jajanan yang di bawanya.


"Melamun saja, ada apa mbak?" katanya.

__ADS_1


Aku mengangkat pundakku sambil menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya dengan bersuara.


"huf.... nggak ada apa-apa. Lagi liatin krucil-krucil kok seru banget ya. aku jadi pingin kembali ke masa SMP lagi" Jawabku.


Aku ikut mengambil jajannya mbak likah dan memakannya bersama. Karena hari semakin sore anak-anak semakin memenuhi area depan kamar mandi. Ketika aku melihat mbak Ziyah kakak kelas yang sekamar denganku berjalan ke kamar mandi sambil membawa handuk dan gayung yang berisi peralatan mandinya akupun memintanya untuk memberikan antrian padaku.


"Mbak ziyah antri!"kataku


Aku pun berjalan ke kamar mencari jeng Kar, ternyata jeng Kar sudah di antri Hajar, selanjutnya mbak Ira, mbak Leli hadeh.....


Akupun duduk di dekat mbak Likah lagi sambil mencoba mencari antrian mandi pada anak-anak kamar lain. Kamar mandi kami hanya berjumlah 14 sedangkan santriwatinya ada sekitar 100an. Jadi ya sepertu itulah keadaan kami kalau waktunya mandi.

__ADS_1


Eetengah empat baru aku mendapat antrian dari Alifah anak MTS yang tinggal di kamar atas lantai dua. Jangan ditanya bagaimana kami mandi. Tentu saja terburu-buru. Belum selesai wudlu saja pintu sudah digedor-gedor karena ibu sudah rawuh untuk ngimami solat jamaah asar. Kami pun berlarian nggak karuan menuju musolla yang ada di lantai atas.


Diakui atau tidak niat kami agar tidak terlambat berjamaah adalah agar tidak terkena hukuman atau takzir. Takziran untuk yang terlambat solat berjamaah adalah dipares, berdiri di bawah tiang bendera di depan sekolahan MTS sambil membaca Al qur'an dibawah teriknya panas matahari.


Aku termasuk anak yang sering ketakzir karena terlambat berjamaah. Bagaimana tidak , masalah keputihan sering membuatku harus membersihkan area **** * ku sangat lama sampai benar-benar bersih karena salah satu syarat solat sah solat adalah harus suci badan, pakaian serta tempatnya.


Sebenarnya ada temanku yang menyarankan seperti yang dilakukannya agar tidak ketakzir. Ikut solat berjamaah dulu meski belum wudlu atau sudah wudlu tapi batal. Nanti setelah pengurus selesai berkeliling dari kamar ke kamar barulah dia turun dan mengerjakan solat di kamar. Jadi aman, nggak ketakzir. Aku hanya mendengarkan saja tanpa ada niat untuk mengikuti jejaknya. Menurutku pribadi solat adalah menghadap sang Ilahi, masa harus membohongi Gusti Alloh dengan pura-pura solat....


.


.

__ADS_1


Setelah kegiatan diniyah usai, solat isya berjamaah dengan mbak-mbak kegiatan selanjutnya adalah belajar. Aku memilih belajar di musollah karena tempatnya yang luas. Hari itu tidak ada adik kelas yang meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas mereka. Suatu kebetulan jadi aku bisa menulis surat untuk Davic.


__ADS_2