Misteri Cinta

Misteri Cinta
Solat


__ADS_3

Mbak kum datang ke pondok setelah beberapa bulan yang lalu dia boyong . kali ini ia datang ke pondok untuk mengundang Bu nyai Al dan teman-teman untuk menghadiri acara pernikahannya yang akan diadakan beberapa bulan lagi.


kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Cara bicaranya memperlihatkan kalau dia sedang kasmaran dan hatinya sedang berbunga-bunga dipenuhi cinta


Bu nyai Al yang saat itu berada di kamarku bertanya kepadanya,


"areke solat ta gak kum?"


"mboten semerap ..." jawab mbak kum sambil menarik kedua sudut bibirnya tak yakin


"nek gak solat gak usah kum,.!" kata Bu nyai lagi


"nggeh .. solat kok Bu nyai. nggeh solat solat. nggeh solat kok" kata mbak kum panik


aku mengernyitkan kening ku dan menyipitkan mataku, merasa sedikit janggal dengan jawaban sahabatku ini. Tapi aku husnudzon saja.


Karena waktu adalah musim liburan aku pun berencana pulang keesokan harinya. Aku mengajak mbak kum ku ke rumahku karena aku sudah sering ke rumahnya tapi dia sama sekali belum pernah ke rumahku.


Aku ingin dia juga mengenal keluargaku.


Mbak kum mengajukan syarat, ia mau ikut ke rumahku asalkan aku mau mengantarkan dia pulang ke Dawar. diantara sahabat-sahabat ku hanya mbak kum yang belum pernah ke rumahku. jeng kar sudah pernah ke rumahku, mbak likhah dan Titin juga sudah pernah ke rumahku. cuma dia saja yang belum tau rumahku. Maka akupun menyanggupinya karena saking inginnya aku memperkenalkan dia pada keluargaku.


akhirnya mbak kum mau ke rumahku dan menginap sehari semalam di tempatku. Malam harinya aku membujuk adikku , Caca yang masih berumur empat tahun agar ia mau ikut denganku ke rumahnya mbak kum.


Sebenarnya ibuku juga heran dan bertanya kenapa harus diantar, gak pulang sendiri saja, terus beliau juga bertanya padaku nanti aku pulangnya gimana kok riwa riwi. tapi karena aku terlanjur berjanji pada mbak kum maka aku harus menepatinya. setidaknya aku tidak pulang sendirian karena ada adikku yang akan menemaniku


Keesokan harinya kamipun berangkat ke Dawar. Aku, adikku dan mbak kum. Untungnya adikku sungguh pintar saat itu. ia sama sekali tak rewel.

__ADS_1


Dan seperti biasanya, saat aku berkunjung ke sana keluarga nya mbak kum menyambut kami dengan ramah. menjamu kami sedemikian rupa


Sore harinya mbak kum mengajakku berjalan-jalan ke atas bukit sambil bercerita tentang calon suaminya. Dia mengatakan kalau suaminya tampan dan gagah. Biuh.... aku hanya mencibirnya saat dia mengatakannya dengan pandangan mata yang berbinar-binar hanya dengan menyebut namanya. yah...Maklumlah orang kasmaran, lagi jatuh cinta, semua yang dilihatnya akan nampak seperti orang yang sedang dirindukannya, batinku.


"TARLIIIIIIIII........,........."


"TARLI...lllllllll.,................."


Dia meneriakkan nama calon suaminya di atas tebing yang curam sehingga suaranya bergema memantulkan kembali suaranya


"mbak kum, Sempel a pean?" aku menoleh ke kanan dan kiri takut jika ada orang yang lewat. meskipun jalanan di situ sepi karena memang itu adalah daerah pegunungan , masyarakat di situ juga terbilang tidak terlalu riwa riwi melewati jalan yang menanjak dan sempit serta dengan berbagai tanjakan dan kelokan yang menakutkan. Kalau bukan orang yang profesional pasti lebih baik memilih jalur lain di sebelah selatan yang lebih aman.


Aku pun menginap semalam di rumah mbak kum. pagi harinya sebelum aku pulang, hatiku sedikit galau, pasalnya, ibuknya mbak kum memperkenalkanku sebagai pacarnya cak Harjo pada orang-orang yang lewat di sekitar situ. Aku sudah mencoba mengelak tapi beliau tak percaya.


"terno Nang omahe Harjo ae Lo cek diterno mbarek areke" kata Mak e pada mbak kum


"wes Talah be e areke kajange mbalik Nang mlirip se" kata mbak kum tenang


"ojok mbak kum..,!" aku masih mencoba meyakinkannya


"bekne se ya?" mbak kum masih saja mencoba merayuku


akupun berpamitan pada keluarganya dan naik ke boncengan sepeda motornya. kami naik motor bertiga. mbak kum, adikku dan aku


Aku yang aslinya memang fobia naik mobil terhanyut dengan bujuk rayuan mbak kum. yang pada akhirnya aku diam saja saat dia berhenti di depan rumahnya cak Harjo. ya mungkin saja cak Harjo hendak balik ke desaku untuk bekerja sehingga aku bisa bareng sama dia. Aku menepikan rasa gengsiku berharap ada keajaiban dari harapanku.


Aku menjejakkan kakiku di rumah cak Harjo dengan rasa tak percaya diri. Aku tak bisa berpikir lagi saat kami sudah sampai di depan pintunya. Ibunya yang menemui kami saat mbak kum mengucap salam. Aku ingin lari sejauh mungkin saat melihat raut wajahnya. sungguh aku merasa harga diriku seperti terinjak-injak ke dalam pusaran bumi yang terdalam.

__ADS_1


Dia nampak jutek dan tak melihatku sama sekali. Mbak kum berbincang-bincang dengannya beberapa saat. Membicarakan tentang calonnya mbak kum, cak tarli. sampai akhirnya mbak kum berkata


"rotul kajange moleh, pean gak Nang mlirip ta?"


"igak " katanya dengan jelas


deg


aku merasa seperti seorang pecundang. malu dan marah pada diriku sendiri. Bodohnya aku setelah semua yang terjadi. Aku merutuki diriku sendiri. kami sama sekali tak bertegur sapa atau berbasa-basi.


saat mbak kum berpamitan dia seolah merasa lega dan dengan segera ia berdiri kemudian meninggalkan kami. ia masuk ke dalam rumahnya padahal kami baru saja keluar dari pintu rumahnya. Aku Keluar dari rumah itu dengan kaki gemetar seolah tak punya kekuatan untuk melangkah. kini , akulah yang nampak seperti orang yang dicampakkan.


Mbak kum mengantarkanku ke tempat pemberhentian Len dan menungguiku Disana cukup lama karena seperti biasanya Len hanya akan berangkat bila penumpangnya sudah penuh.


Aku menyuruhnya pulang karena kami sudah menunggu Len itu cukup lama tapi tak juga kunjung bertambah penumpangnya.


mbak kum pamit pulang dan minta maaf padaku. Dia sepertinya tahu keadaan hatiku yang sedang teramat malu dan marah. kemudian aku mengajak adikku naik ke dalam len agar mbak kum tak terlalu merasa bersalah.


Setelah beberapa menit berlalu aku mengajak adikku turun dari Len dan mengajak nya berjalan karena aku tak tahan dengan baunya. perutku seperti diaduk-aduk.


Adikku sangat penurut sekali saat itu, dia mau berjalan di antara hutan belantara yang sepi pengendara. Aku merasa takut berjalan di daerah situ tapi karena aku tak tahan dengan bau Len aku memaksa diriku berjalan dengan menggenggam erat tangan adikku sambil membaca do'a-doa.


Kami berjalan sangat lama sampai Len yang tadinya kunaiki melewati kami sambil menawarkan padaku jika saja aku masih mau naik lagi.


Kami berjalan sekitar 10 km, bisa bayangkan berapa lama kami berjalan? sangat lama. sampai akhirnya di Wringin, barulah aku naik becak yang saat itu minta bayaran 20ribu rupiah ,cukup mahal kala itu.


##################2222$$$$$$####

__ADS_1


ca...., makasih untuk waktu itu. terimakasih ya sudah melewati hari itu denganku. Kamu yang biasanya rewel entah kenapa hari itu sangat manis. Jadi kangen kamu ca. Ternyata aku pernah punya hari yang membahagiakan bersamamu setelah puluhan tahun berlalu. I Miss you fitrotun nasicha. yang kini sudah punya dua orang anak


__ADS_2