
Akhirnya keesokan paginya kami dijemput sama wak Yas, pak dhe ku. Kami berpamitan pada bu nyai kemudian menenteng tas besar tempat baju-baju yang akan kami bawa pulang. Kami berjalan menyusuri gang , jl kh ismail, menuju pasar tempat pemberhentian len.
Begitu ada len aku memilih tempat di depan di sebelah sopir karena aku fobia naik mobil. Membicarakan tentang akan naik mobil saja air liurku menjadi eneg seperti ingin muntah. Apalagi ketika benar-benar naik mobil.
Aku menutup hidungku dengan jilbabku, sangat rapat. Berharap kami bisa segera sampai di rumah dalam hitungan detik maybe, hehe. Aku tidak tahu kenapa setiap masuk ke dalam mobil aku langsung bau sesuatu yang orang lain sepertinya tidak merasakannya. Bau yang tak sedap khas mobil membuat kepalaku pusing dan perutku seperti di aduk-aduk.
Jika perjalanan agak lama apalagi di tambah jalanan yang tidak rata bisa dipastikan aku akan mabuk, muntah yang ueh..... nggak enak baunya apalagi rasanya.
Apa saja yang sudah disarankan oleh orang-orang sudah kucoba semuanya. Memplester pusar dengan dua koyo, minum sprite, minum obat antimo malam sebelum bepergian dan minum obat lagi menjelang keberangkatan. Hasilnya tetap sama. Karena itulah aku selalu sedia kresek hitam kecil saat akan bepergian. Jaga-jaga bila sewaktu-waktu mau mabuk aku tinggal mengambil kantong kresekku agar tidak mengotori kendaraan.
.
__ADS_1
.
Aku pulang ke rumah ibu terlebih dahulu dan biasanya besoknya barulah aku ke rumah mbah. saat aku berjalan menuju rimah ibu yang letaknya di belakang, ternyata ibuku berada di depan rumah sepupuku sedang berbincang-bincang dengan tetangga kami yang bernama eko.
"Anak e kayak dokter e, tak pe e dewe y?" katanya saat melihatku yang memakai kaca mata menyalami ibuku. dan sejak itu, dia selalu mencoba mendekati ibuku untuk memintaku menjadi pendampingnya.
Entah kenapa aku selalu dikelilingi orang-orang yang bernama Eko ya. Bahkan sejak SD, SMP sampai Aliyah, pasti ada yang bernama eko yang menyukaiku.
Ketika aku pulang kerumah mbah, hal yang sama juga terjadi saat para tetangga tahu aku pulang. Mbah kaji datang ke mak Jah dan bilang kalau cucunya menaruh hati padaku. Namanya Huda. Waktu aku Smp memang kelihatan sekali kalau dia memperhatikanku saat aku pergi ke musolla yang ada di dekat rumahnya. Dia bukan tipe penggoda, karena dia hanya melihatku saja tanpa menggoda yang berlebihan. Hanya menyapa sewajarnya. Dia juga tampan, pembawaannya tenang dan terkesan sabar. Dewasa menurutku.
Mak Jah memang pernah bilang sewaktu aku masih SMP, kalau mas Huda minta mbah kaji untuk memintaku. Aku yang masih gadis belia tentu saja hanya tersenyum tanpa menanggapinya. Aku pikir itu hanya gurauan saja. Lagipula bukan satu dua yang mengatakan hal seperti itu. Ketika aku mrewang ibu-ibu atau mbah-mbah yang ada di situ selalu memintaku untuk mau menerima cucu atau anaknya. Aku pikir mereka hanya bercanda.
__ADS_1
.
.
Mak Jah menyampaikan perkataan mbah kaji, kata mas Huda," masa Aini masih nggak mau menerima ku mbah? gajiku sekarang sudah 750.000 lho mbah".
Harga gula dan beras satu kilogram waktu itu masih sekitar 3 ribuan.
"Oean setuju ta mak?" tanyaku
"Iku areke apiki ngglani tapine ibuk e kotok ngunu" Jawab nenekku.
__ADS_1