
Dia pernah di sukai oleh cowok penjual bakso. Pernah suatu saat setelah diniyah mereka bertemu dan berbincang di gapura belakang pondok yang berpagar besi sebagai pembatas. Mereka berbincang dengan malu-malu karena banyak anak yang menggoda dan meledek mereka.
Beberapa santri krucil-krucil yang berniat membeli bakso jadi lupa dengan niat mereka. Justru mereka melihat adegan live antara mamang bakso dan mbak santri yang saling menggoda dan terlihat lucu sekali.
Sesampainya di pondok mbak Nurin langsung tidur dan menutupi seluruh badannya dengan selimut sambil mengatakan badannya menggigil. Kami tak percaya kemudian memegang tangan dan keningnya ternyata memang benar badannya sangat dingin, dia betulan menggigil.
Jeng Kar, sahabatku yang dulu pernah satu pondok dengan mbak Nurin di pondoknya semasa MTS dulu mengatakan kalau mbak Nurin itu setiap kali berdekatan dengan cowok badannya pasti menggigil dan ternyata itu benar adanya.
Saat itu pun sama, ia mengatakan menyukai syifak dan badannya pun mendadak jadi dingin. Tiap hari hanya itu saja yang dikatakannya. Kami yang mendengarnya cuma tersenyum melihat tingkah konyolnya.
Kami semua sibuk belajar karena sedang ulangan catur wulan ke 3 untuk kenaikan kelas. Mbak Nurin malah santai sambil berfantasi.
.
.
.
__ADS_1
Pagi-pagi ketika kami sampai di sekolahan hal pertama yang harus kami lakukan adalah mencari tempat duduk kami.
Seperti biasa saat ulangan tempat duduk kami akan acak. Aku yang anak kelas A ternyata mendapatkan tempat duduk dengan anak kelas C dan mbak Nurin salah satunya.
Saat ulangan, anak-anak di kelas itu bukannya mereka mengerjakan soal ulangan malah sibuk memanggil temannya dari A-z. Aku sendiri mengerjakannya dengan santai. Yang ku tahu jawabannya ku jawab, yang tidak tahu jawabannya tak kosongi begitu saja. Aku ingin jadi murid yang jujur seperti kata pak Zein, meskipun aku tak tergolong anak pandai di kelas.
"Mbak Aini, mbak! no 11 ya!" mereka memanggilku dengan suara yang dipelankan ketika guru yang menunggu sedang ngobrol. Aku hanya pura-pura tak mendengar dan asyik membaca soal.
"Mbak! Mbak Aini no 16 y!" kini anak yang duduk di bangku belakangku minta contekan sambil mencolek lenganku. Pak guru sedang berkeliling, berjalan dari satu bangku ke bangku yang lain dan posisinya sedang membelakangi kami
Mbak Ina, sahabatnya Davic yang duduk di bangku yang sebaris denganku juga melakukan hal yang sama.
Pak guru kemudian keluar dan berbincang-bincang dengan guru pengawas di kelas sebelah. Kontan saja suasana kelas langsung ramai. Anak-anak berlarian kesana kemari mencari dan memberi contekan. Bahkan beberapa dari mereka bergerombol mengerjakan ulangan seperti saat mengerjakan tugas kelompok.
Saat aku sedang asyik menelaah jawabanku, tiba-tiba seseorang duduk di bangku yang ada di depanku. Aku mendongak dan melihat sosok berkaca mata yang sering disebut mbak Nurin belakangan ini. Syifak?
Aku terkejut, apa yang membuatnya duduk di bangku yang ada di depanku dengan menghadap ke arahku.
__ADS_1
Dia menyodorkan kertas ulangannya padaku. Membaliknya dan menunjukkan nomer dua romawi dua.
"Ini gimana caranya An?" Tanyanya dan ini pertama kali aku mendengar lelaki yang berkacamata ini.
Aku langsung membalik kertas ulanganku dan memilih kertas yang berwarna putih polos tanpa ada tulisan soal-soalnya. Refleks, aku menulis cara menyelesaikan soal itu sambil menjelaskannya.
"Begini benar nggak sih?" aku bertanya untuk meyakinkan diriku pada jawabanku sendiri.
Ia juga melakukan hal yang sama, mencoba menghitungnya di kertas ulangannya.
"Sepertinya betul seperti itu", jawabnya.
Setelah soal itu selesai dia lanjut bertanya dengan soal yang lain sampai pak guru pengawas datang barulah ia kembali ke tempat duduknya. Begitupun anak-anak yang lain.
"Eh eh eh pak Rodli pak Rodli...!!" mereka berlarian kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Setelah dia pergi aku baru menyadari kebodohanku yang tidak bisa memegang prinsipku sendiri. Hanya karena godaan yang datang seperti Syifak saja hatiku langsung rontok. Iya, sosok seperti Syifak adalah cowok ideal ku. Pendiam dan terlihat sangat pandai karena dia memakai kaca mata.
__ADS_1