Misteri Cinta

Misteri Cinta
Draft


__ADS_3

Hari itu hari Sabtu tanggal 29 Februari 2004 bertepatan dengan tanggal 9 Muharram. Sekitar jam 11 siang perutku terasa mulas dan aku berkali kali ke kamar mandi karena kebelet pipas pipis. Semakin lama semakin sering. Karena capek bolak balik dari kamar lalu ke kamar mandi aku pun jongkok di WC agar air seniku keluar dalam jumlah yang banyak dan tidak lagi riwa riwi nang jeding.


Perutku mulas dan jeda waktunya semakin lama semakin dekat. Dari yang asal mulanya seperempat jam sekali menjadi sepuluh menit sekali kemudian menjadi lima menit sekali. Rasanya sungguh sakit sekali. Dan ketika aku pipis lagi ada darah yang keluar dari jalan lahirku .


Setelah kembali ke kamar aku mengerang kesakitan sambil membolak-balikkan badanku diatas tempat tidur dengan perut yang besar seperti gendang.


Rasanya aku tak tahan, seperti mau melahirkan tapi suamiku belum juga pulang. Ia pergi ke pondoknya karena ada haul disana. Sebenarnya bisa saja aku meminta tolong kepada ibuku untuk mengantar ku pergi ke rumah bidan tapi aku tak mau merepotkan kedua orang tuaku. Aku bertekad tidak akan memberitahu orang tuaku maupun mertuaku saat aku akan melahirkan. Aku hanya akan memberi kabar gembira setelah bayinya keluar. Karena hal itu aku menahan sakit ku sendiri.


Rasa sakit ketika mau melahirkan itu seperti bertaruh nyawa. Pinggang, pinggul, perut rasanya seperti ditusuk-tusuk. Miring ke kiri sakit, miring ke kanan sakit, tidur terlentang juga berat. haah pokoknya seperti nyawa seakan -akan mau lepas dari tempatnya.


Sekitar jam setengah satu suamiku datang dan aku yang kesakitan masih saja bisa memarahinya dan memintanya untuk segera mengantarku ke bidan yang rumahnya kira-kira 5 meter dari rumah kecil kami.


Disana aku langsung diperiksa oleh Bu bidan Sri Sabari. Katanya sudah bukaan delapan.


"Kalau kuat dipakai jalan-jalan kalau nggak kuat tidur miring saja !" begitu kata Bu bidan.

__ADS_1


Aku meminta suamiku untuk menemaniku jalan-jalan di teras rumah Bu bidan. Sakit sekali rasanya tapi aku ingin persalinannya berjalan cepat dan lancar. Aku pun menahan rasa sakitnya dan berjalan pelan-pelan sambil berpegangan pada lengan suamiku sayang alaika.


Setelah aku tak lagi kuat berjalan aku tidur diatas ranjang. Mulas dan kebelet pipis itu semakin sering datangnya sampai aku tak kuat menahannya dan berniat untuk kencing diatas ranjang. Tiba-tiba seperti ada dorongan dari dalam perutku yang membuatku untuk mengejan


"egggghhhhh........"


"Ya Alloh sakit......hhhuuuuhhuuuuu sakit ya Alloh...." Aku meringis kesakitan sambil mengaduh pada Tuhanku.


Suamiku kelabakan dan berlari memanggil Bu bidan yang ada di dalam rumahnya.


Ia kemudian kembali lagi di sampingku sambil memegang tanganku dan tangan satunya mengelus-elus perut buncitku.


"Hhhhhhhh .........ya Alloh ya Alloh..... ya Alloh sakit..... ya Alloh...." Tak henti-hentinya aku menyebut nama Alloh untuk mengeluhkan rasa sakit ku. Begitupun dengan suamiku yang komat kami merafalkan banyak do'a karena tak bisa membantu apa-apa untuk bisa mengurangi rasa sakitku. Dia tetap setia menemaniku, mengelus perutku dan mengusap pundak atau punggungku.


Bu bidan dan para asistennya kemudian datang dan meminta suamiku untuk menunggu di luar.

__ADS_1


Bu bidan memposisikan kakiku sedemikian rupa tapi aku sudah tak tahu lagi badanku diapakan saja. Disuruh tarik nafas , mengejan aku ikut saja. Rasa malu karena aurotku dilihat oleh para calon perawat muda dan Bu bidan itu hilang tertelan oleh rasa sakit yang tiada tara. Sakitnya Masya Alloh..... naudzu Billah.


Jam dua siang seorang bayi laki-laki lahir dari rahimku. Setelah dibersihkan suamiku disuruh masuk untuk mengadzani dan meng iqomatinya. Bayi kecil mungil itu dibawa kepadaku dan ditaruh diatas dadaku.


"Huu......huuuu...huu....." Kali ini aku menangis karena terharu dan bahagia. Suamiku yang sudah berdiri di sampingku memeluk kami dan mencium keningku lama sekali. Ia sepertinya juga terharu dan menyembunyikan wajahnya dariku. Bayi itu menggerak-gerakan bibirnya mencari sumber nutrisi nya. Ia sangat lucu sekali.


Hilang sudah rasa sakit yang tadi dan tak berbekas sama sekali. Benar-benar hanya kebahagiaan yang tersisa.


Kami memberinya nama Muhammad nur imani, dan berdoa semoga kehadirannya membawa kebahagiaan untuk kami dan semoga ia senantiasa diberi keberkahan dimanapun ia berada


()()()()()()()()()()(())))



Nemu fotonya anakku, wes lungset Kabeh......

__ADS_1


ini saat dia berumur sekitar satu tahunan. Kini ia sudah duduk di kelas 6 madrasah muallimin ponpes tebu Ireng atau setara dengan kelas 3 SMA.


Semoga menjadi anak Soleh dan menjadi penyejuk hati bagi orang tuanya.


__ADS_2