
Setelah mencicipi sepercik nikmat surga suamiku mandi besar kemudian meminta untuk mengulanginya lagi. Tak ada penolakan atau drama seperti yang sering diceritakan di novel-novel. Menangis kesakitan saat pertama kali menjebol keperawanan. Sama sekali tak kurasakan. Meski kesulitan karena ini sama-sama pengalaman pertama kami tapi akhirnya suamiku bisa mencapai tujuan seperti yang dia inginkan. Masuk ke dalam lembah ajaib yang bisa membuatnya mengeram karena puncak nikmat yang baru pertama kali ini ia rasakan.
Ia menambah kecepatan kipas angin kemudian memeluk dan mencium keningku sambil mengucap Syukur Alhamdulillah dan tak lupa pula dia berterima kasih padaku. Tak lama kemudian ia sudah tidur dan mendengkur halus. Peluh yang bercucuran di dadanya ku usap pelan dengan telapak tanganku. Ada rasa bahagia yang membuncah di dada. Rasanya seperti melayang di awan saat melihat wajahnya yang kelelahan dan aku tidur berbantalkan lengannya sambil meraba-raba dadanya yang kerempeng. Nggak kotak-kotak koyok roti sobek ya.
Oh my God...... kini aku sudah tak gadis lagi. Aku tersenyum sambil menikmati bau keringat di ketiaknya. (Itu pas kemanten anyar yo yu.... nek sekarang aku minta tidur diatas lengannya baru beberapa menit saja dia bilang seng capek lah, gringgingen lah. Untung ae aku wis terlanjur cinta)
.
.
.
Setelah melakukan hubungan suami istri dan ingin melakukannya lagi, dianjurkan untuk wudlu terlebih dahulu baru mengulanginya lagi).
Aku tak merasa kesakitan saat pertama kali bertemu dengan miliknya. Di sprei juga tidak ada darah keperawanan, tidak seperti yang ada di novel-novel yang bertebaran di dunia Maya seperti yang sering kubaca.
Yang dinovel-novel itu pengalaman para penulis e ta piye se? Aku kok nggak ngrasain kayak gitu.
__ADS_1
Keesokan harinya aku juga berjalan seperti biasa nggak merasakan sakit dan cara jalanku juga biasa saja. Hanya saja saat pipis itu terasa puerih banget sampai aku menggigit bibirku karena menahan sakit yang luar biasa.
.
.
.
Setelah kami melakukannya beberapa kali dalam kurun waktu seminggu sejak pertama kali kami melakukannya, barulah keluar darah keperawanan setelah kami berdua melanglang buana ke pintu surga. Mencicipi setitik nikmat surga yang dianugerahkan oleh Alloh Ta'ala untuk hamba-hamba yang beriman. Tepatnya hanya suamiku saja yang merasakannya karena aku masih malu untuk ikut bergerak mengikuti ritme tubuhnya. Hanya diam saja menerima perlakuannya. Aku sudah cukup bahagia saat melihatnya puas dengan aksinya.
Suamiku menatap tahi lalat yang ada di lenganku kemudian dia mengusap-usapnya sesaat setelah itu.
"Hahaha..... becanda kang. Kok percoyo se. hahaha....." aku tak kuat menahan tawa karena lugunya suamiku yang mau saja kubohongi dengan bercandaan receh seperti itu.
"Ooh..... ngibuli ?" (Oh.... bohong....?)dia menggelitiki pinggangku sampai aku menggelinjang-gelinjang dan tak kuat menahan rasa geli.
"Aahaaahaa.,. ampun... ampun...."
__ADS_1
Cup
Dia mencium bibirku ,"gak oleh nakal-nakal nggeh. seng pinter!" (Nggak boleh nakal ya. Yang pintar....!)katanya membuatku langsung diam tak berkutik dibuatnya.
Deg deg deg deg........ hatiku masih saja berdebar-debar tak karuan saat dia menatapku dengan wajah kiyutnya.
Dia sekarang punya hobi memandangiku di manapun itu. Saat kami makan di dalam kamar dia memandangiku sampai aku salah tingkah dibuatnya. Aku mengusap wajahnya agar ia berhenti menatapku seperti itu. Dia pun menurut dan kemudian melanjutkan makannya.
Saat kami diperaduan juga begitu. Dia memandangiku dengan menahan senyumnya. Aku tak tahan dilihat seperti itu dan merasakan mukaku jadi panas karena sangat malu. Aku mengambil bantal dan kututupkan pada mukanya agar ia berhenti memandangiku.
Ah..... sayang kau membuatku salah tingkah tahu?
Hari-hari pun berlalu sampai sebulan kemudian kami pindah ke rumah Mbah dan Mak jah ku karena aku merasa kurang nyaman berada di rumah keluarga suamiku. Ada Cak rohman dan cak Khusaini disana jadi aku harus selalu memakai kerudung meski itu didalam rumah.
Tinggal di rumah Mak jah kami mulai semuanya. Belajar menjalani rumah tangga pada umumnya. Suamiku memberiku uang belanja setelah dia gajian dan seharusnya aku sebagai istri cakap dalam mengatur keuangan.
Berapapun nafkah yang diberikan oleh suami harus dibelanjakan sesuai kebutuhan. Tapi karena kebodohanku dan rasa bebas yang kurasakan karena tidak lagi bergantung pada kedua orang tuaku membuatku boros dan tak bisa mengendalikan pengeluaran. Ingin apa saja yang dulu belum keturutan langsung beli tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Aku yang dulu ingin ini ingin itu tak keturutan karena tidak ingin menyusahkan orang tuaku , kini setelah bersuami aku merasakan kebebasan. Memegang uang sendiri dan menuruti semua keinginanku yang tak bisa kudapatkan semasa di bawah pengawasan orang tuaku.
jadilah uang belanja itu habis sebelum satu bulan dan membuatku kelimpungan.