Misteri Cinta

Misteri Cinta
Nyamuk tak tahu diri


__ADS_3

Aku memberanikan diri membuka mata dan melihat orang yang tidur di sampingku ternyata adikku yang paling kecil, Haro yang umurnya sekitar tiga tahun.


Aku menggerutu dalam hati, Untuk apa suamiku ini membawa adikku yang saat ini terlelap dalam tidurnya ini? Apa dia grogi mau malam pertama dengan istrinya sendiri? Aku mendecih tidak suka tapi hanya dalam hatiku saja.


Haro hanya akan mengganggu malam pertama kami saja. Padahal aku sudah tak sabar ingin menghabiskan malam dengannya. Aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh pria dingin dan pendiam ini saat kami hanya berduaan di dalam kamar.


Dengan segenap keberanian dan jantung yang berlarian aku membuka mataku dan melihat suamiku sedang berganti baju, bukan seperti yang ada di nopel-nopel yang badannya kekar dan perutnya kotak-kotak, bukan ...... Ia berdiri miring saat melepaskan kemejanya. Aku tanpa malu-malu memperhatikannya. Badannya terlihat sangat kurus tapi entah kenapa aku ingin memegangnya.


Eh apaan aku ini....... dapat pikiran dari mana itu? Nakal sekali....


Aku memejamkan mataku berpura-pura tidur kembali.


Setelah berganti baju dengan kaos lengan pendek ia berbalik kemudian naik ke tempat tidur dan menghadap kepadaku sedang diantara kami ada adikku yang tak terganggu sama sekali.


Meski mataku terpejam tapi aslinya aku tidak bisa tidur. Hatiku berdebar-debar menantikan apa yang akan terjadi diantara kami. Tiba-tiba ada sesuatu yang kenyal dan dingin yang menempel di keningku,


tap tap tap tap tap tap tap.......


Daahku langsung berdesir dari ujung kaki sampai ujung kepala seperti tersengat listrik ribuan volt.


Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Cak im, dia menciumku . Aku merasakan sesuatu yang baru yang bisa membuat jantung ku terpompa dengan cepat. Mulutku tercekat tak bersuara tapi di dalam hatiku seperti sedang ada genderang yang bertabuhan.

__ADS_1


aaaah..... apa itu tadi.....???


Aku ingin berteriak seperti itu.


Dadaku semakin bergemuruh, aku seperti sedang menantikan adegan lain yang lebih menantang.


Setelah beberapa lama akhirnya aku bisa benar-benar tidur tapi nyamuk-nyamuk itu membangunkan kami. Mereka seperti menyuruh kami menikmati malam pertama sebagai suami istri untuk saling mengenal satu sama lain.


Aku dan suamiku berkali-kali memukul nyamuk yang mengganggu kami.


Sampek pegel aku nyableki lamuk.


Kami sama-sama merasa terganggu. dan itu membuatku tak bisa lagi berpura-pura tidur. Saat aku membuka mataku, dia sedang memandangku. Aku pun memintanya untuk memindahkan adikku ke luar, ke ruang tengah.


"Saaken nang ngarep mriku wau keturon" (Kasihan tadi ketiduran di depan)


"Dibeto medal mawon lho " (Di bawa keluar saja) kataku dengan raut tak suka.


"Gak usah pon ....." (Nggak usah....) katanya pelan.


"Tak nyumet obat nyamuk nggeh?" (Tak nyalakan obat nyamuk ya?) tanyaku karena musim hujan nyamuk seakan tak berhenti beranak pinak sehingga jumlahnya sangat banyak.

__ADS_1


Kami akhirnya terjaga dan mulai mengobrol disaat orang-orang sudah tertidur dan memasuki dunia mimpi yang tak berujung.


"Pean mau paesaan jam pinten?" (Pean tadi dirias jam berapa?) tanya pria ini.


"Manton asar " (Habis Ashar) jawabku


"Gak solat ta?"( Nggak solat ta) tanyanya lagi.


"Mboten...." (Enggak)


plak plek plak plek


Kami berlomba nampol nyamuk-nyamuk nakal yang mengganggu malam pertama kami. Mereka tanpa bersalah menggigiti kulit kami.


"Mboten Nate nyumet obat nyamuk ta?" (Nggak pernah pakai obat nyamuk ta?) tanyaku karena aku sungguh tersiksa dengan nyamuk-nyamuk yang tak tahu diri ini. Semakin malam semakin banyak seperti mengajak sanak saudara dan handai taulannya berbondong-bondong datang kemari dengan tak tahu diri.


"Biasane kulo ndamel slambu" (Biasanya saya pakai selambu ) kata Cak Im pelan dengan bahasa jawa krama. Dan suaranya itu loh kenapa bisa pelan dan merdu sekali ditelingaku.


Nyamuk-nyamuk itu seperti tak tahu penderitaan kami yang nyableki mereka dengan kesal sekali. Akhirnya Cak Im mau juga untuk memakai obat nyamuk bakar karena gigitan nyamuk yang menyakitkan itu tak mau berhenti, pateng clekit tau.


Aku sedikit memaksa agar Haro ditaruh di ruang tengah dan akhirnya dia mau menurutinya juga. Adikku yang tertidur lelap seperti orang pingsan itu digendong dan ditaruh diatas kambal di ruang tengah.

__ADS_1


Aku membakar obat nyamuk dan suamiku itu mengikuti terus kemana pun aku berjalan. Mungkin merasa asing ditempat baru. Suasana rumah sepi sekali tapi lampu-lampu dibiarkan tetap menyala pertanda kami punya acara.


__ADS_2