Misteri Cinta

Misteri Cinta
Rawon


__ADS_3

"Kaleh kulo mawon wak Mat" kata cak Jidin sambil mengangkat pinggang dan kakiku sedangkan bapakku mengangkat bagian kepala dan punggungku.


Cak jidin bukan mahromku tapi dia menggendongku. Aku meringis dalam hati, merasa buruk dengan keadaan yang sedang terjadi. Ingin sekali aku bangun dan berjalan sendiri tapi aku tak berdaya. hiks hiks....


Mereka kemudian meletakkan tubuhku diatas tempat tidur di rumah pak dhe ku dengan pelan kemudian mereka keluar membiarkan aku sendiri di dalam kamar itu.


Suasana masih terasa riuh di rumah pak dhe. Sepertinya mereka membicarakan kronologisnya penyakitku. Samar-samar aku mendengarnya tapi tak lama kemudian aku terlelap dan tak ingat apa-apa.


Entah itu mimpi atau nyata aku merasa cak Jidin berdiri di pintu dan memandangiku beberapa saat kemudian masuk ke kamar dan berjongkok sambil terus menatapku tanpa kata.


Tak lama kemudian bapak masuk kekamar yang sedang kutempati seperti memantau cak Jidin, mungkin bapak khawatir terjadi sesuatu pada kami.


Cak jidin pun beranjak berdiri dan pergi. Aku sempat melihat wajahnya, terlihat sedih dan sedikit kacau.


Mungkin setelah lama tak terdengar kabar tentangku kemudian aku tiba-tiba pulang dalam keadaan yang cukup parah membuatnya terlihat syok karena sepertinya dia masih menyimpan perasaan padaku.

__ADS_1


.


Mungkin sekitar jam 8 malam aku terbangun kembali karena ada kehebohan lagi. Aku yakin itu suara mak jah, dia pasti khawatir tentangku.


Dengan suaranya yang berapi-api ia memaksakan kehendaknya untuk membawaku pulang ke rumahnya.


Bahkan mak Jah sudah memanggil tukang becak untuk membawaku pulang.


Meski uwak ku, bapak dan ibuku juga sudah berusaha meyakinkannya supaya membawaku pulang besok pagi saja agar agak mendingan tapi mak Jah tetap pada keputusannya. Tak ada yang bisa mencegah keinginannya mak Jah yang sudah final itu dan tak bisa di ganggu gugat.


Aku bersyukur karena dirawat dirumah mbah. Meskipun mak Jah sangat rewel tapi beliau sangat sayang kepadaku.


Aku hanya minum teh yang dibuatkan mak Jah. Dengan bantuan sedotan aku minum sambil berbaring. Aku benar-benar tak punya kekuatan untuk menyangga tubuhku sendiri.


Apalagi tak ada makanan yang masuk ke dalam perut karena ketika aku makan sedikit saja batukku datang dengan semena-mena. Membuatku muntah dan kesakitan yang amat sangat didaerah tenggorokanku. Hingga aku benar-benar tak bernafsu ketika melihat makanan. Aku hanya ingin tidur saja saat itu.

__ADS_1


Keesokan harinya aku dibawa mak jah ke Dokter Maslikhan. Aku pernah mendengar namanya ketika guru Biologiku di SMP bercerita tentang keluarganya. Ternyata Pak Maslikhan ini adalah kakak dari guruku pak Masduki. Pantas saja sangat mirip dengan pak Duki. Gendutnya, suaranya, hidung dan dagunya sangat mirip seperti saudara kembar.


"Ini gejala radang paru-paru. Sudah berapa lama ini batuknya?"


"Tiga mingguan dok". jawabku pelan.


"Kenapa nggak diperiksakan?"


Aku dan mak Jah diam saja, mendengar nada suara pak dokter yang marah membuat nyali kami ciut untuk menjawabnya. Tak berani mengelak karena aku memang salah.


Kami pulang dengan membawa segepok plastik berisi obat-obatan.


Sesampainya di rumah Mak Jah kemudian menyuapiku rawon legendaris yang ada didesaku, rawon wak ni yang hanya bisa kami nikmati saat ada anggota keluarga kami yang sakit.


Rasanya memang tiada duanya. Rasa kuah rawonnya, sambal gorengnya, tempe gorengnya, sambalnya ..... Rasanya membekas di lidah siapa saja yang pernah merasakannya. Tak ada tandingan.

__ADS_1


Begitu baunya sampai di hidungku aku tak bisa menolak untuk tidak makan. Mood boster pokoknya.


__ADS_2