
Setelah liburan Syawal aku masih kembali lagi ke pondok sekitar dua mingguan. Ku selesaikan semua urusan yang masih ada. Mengembalikan barang-barang yang ku pinjam dari teman-temanku, ku selesaikan urusan utang piutangku dan minta maaf pada semua orang yang mengenalku.
Aku mengundang anak-anak ndalem dan beberapa teman dari kamar lain yang cukup dekat denganku untuk datang ke acara pernikahanku yang sederhana. Titin , adik-adikanku dari pondok selatan juga neng Ninisku sayang alaika.Tak lupa juga aku meminta doa restu pada Bu nyai Al.
"Gak diundur ta ? aku jek Iddah nek tanggal 29 Syawal iku?" Bu nyai Al bertanya padaku.
"Hhihi...." aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari ibuk. sepertinya beliau ingin datang ke rumahku dan menyaksikan pernikahanku. Tapi waktu sudah ditentukan dan itu tinggal menghitung hari saja. Tidak mungkin membatalkan karena semua persiapan sudah matang. Aku merasa ibu Al sedikit kecewa tapi aku tak bisa berbuat apa-apa
Ngapunten Buk..... di lubuk hatiku yang terdalam aku meminta maaf pada Ibuk Al
Aku mengepak semua buku-buku dan kitab-kitab yang kupunya dan memberikan baju atau printilan-printilan yang tidak diperlukan kepada anak-anak yang menginginkannya.
"Mbak Aini Iki di warisno nang aku ta"?
Kami menyebutnya warisan jika ada anak yang mau boyong kemudian dia meninggalkan barang-barangnya. Misalnya bantal, gantungan kunci,Al Qur'an atau yang lainnya.
Satu minggu sebelum tanggal pernikahan, ibuku datang ke pondok untuk mboyong aku. Memintaku kembali dari pengasuhan Bu nyai dan berterima kasih karena selama ini sudah mau bersabar menerima ku sebagai bagian dari keluarga besar pondok pesantren Darul hikmah.
Aku minta maaf dan berpamitan dengan anak-anak pondok. Bersalaman dengan semua yang berpapasan denganku dan seperti biasa kami akan menangis berjamaah jika ada anak boyong meskipun kami tidak terlalu akrab secara personal.
Semua mata melihatku dan bahkan banyak yang mengerubungiku. Mereka seperti melepaskan anggota keluarganya untuk pergi jauh.
"sepunten...."
__ADS_1
"Mbak Aini pon supe kaleh kulo"
"Mbak Aini ati-ati!. . "
"Kapan-kapan main nang pondok nggeh mbak!"
Aku menyapu semua tempat yang bisa terjangkau oleh mataku dengan mata yang menggenang. Memberi senyum terbaik yang berbalut kesedihan kemudian aku melangkah meninggalkan pondok tercinta untuk meniti hari esok yang masih panjang.
Selamat tinggal semuanya, selamat berjuang untuk kalian semua....!
Di jalan menuju gerbang para santri putra yang melihatku menyapaku karena mereka melihatku sedang membawa kardus dan tas besar layaknya anak boyong.
"Boyong ta An?"
kata-kata itu berulang kali ku ucapkan ketika ada santri putra yang menyapaku. Aku biasanya tak menghiraukan mereka tapi karena ini adalah terakhir kalinya aku ingin meninggalkan kesan yang baik pada semuanya.
Sedih rasanya meninggalkan pondok yang sudah tiga tahun lebih menjadi tempatku bernaung dan mencari ilmu. Tapi bagaimanapun juga hidup harus berlanjutkan?
.
.
.
__ADS_1
Sesampainya di rumah para tetangga sudah banyak yang rewang. mereka menyambutku dengan bahagia.
"Lahh Iki calon kemantene kawit moleh....." (Lah ini calon pengantin nya baru pulang...)
Padahal masih kurang semingguan tapi para tetangga sudah sibuk saja. Menggoreng kerupuk, pertulo, rengginang dan lain-lain. Meski tidak dirame-rame pakai kuwade dan terop tetapi suasananya seperti mau mantu geden-geden. Maklum karena aku anak pertama dan ibuku belum pernah punya gawe jadi suasananya seperti orang yang punya hajat besar.
Malam harinya Cak Im datang lagi ke rumah . Entah tahu dari mana dia kalau aku sudah pulang ke rumah. Ia mengajak aku dan bapakku ke rumah pamannya yang menjadi mudin di desa kami untuk rapak. seharusnya kami rapak di KUA tetapi karena kemarin-kemarin aku masih di pondok jadi kami melewatkannya.
Kami berkumpul di rumah pak Mudin dan kami mendapatkan wejangan apa saja yang harus dikatakan saat pak penghulu nanti bertanya ini dan itu. memberi tahu pada bapakku apa yang harus diucapkannya nanti saat menikahkan ku dan sebaiknya diwakilkan saja kepada pak penghulu agar akad nikah bisa berjalan lancar karena bapakku orang yang grogian.
%%%%%----????-----?????-------????----------%%%%%
huft... deg-degan aku mau menulis akad nikahku
tarik nafas......
hembuskan.....
huft.....
Aaaaa..... rasanya kenapa jadi deg-degan begini.... membayangkan akad nikahku
padahal itu sudah dua puluh tahun berlalu.
__ADS_1