
Suara musik bergema di sekitar rumah mbak ima. Salon besar didepan terop sudah menutupi jalan kampung kami. Meja kursi juga sudah tertata rapi di bawah terop yang didirikan persis di tengah jalan.
Orang-orang yang hendak melewati jalan itu terlihat kecewa karena mereka harus memutar kendaraan mereka dan berpindah haluan.
Acara pernikahan cak qowi ini termasuk dirame-rame menurut pandangan keluarga besar kami karena biasanya pernikahan laki-laki di keluarga kami hanya tasyakuran menjelang akad nikah selepasnya pestanya hanya akan diadakan di rumah mempelai putri.
Ini karena keluarga mempelai putri adalah keluarga kaya yang mempunyai toko-toko dipasar yang selalu dipadati para pembeli.
Aku tidak ikut membantu sama sekali karena kekuranganku ini, tidak bisa beradaptasi dengan baik.
Umi jannah yang melihatku kemudian menghampiriku untuk membujukku agar mau ikut menyambut kedatangan tamu keluarga mempelai putri.
" mbak..... mbak rotul.... engken pean ndamel seragam fatayat mbak nggeh ce e seragam...."
" isin mik.."
" cek pantes mbak.... mriko wonge biasae sragaman mbak"
__ADS_1
aku hanya senyum-senyum saja tanpa berniat melakukan apa yang dimintanya. Yang benar saja. nyuguhi tamu? diliatin orang? oh no.... itu hal yang sulit untukku dan aku tidak bisa melakukannya.
Satu-satunya yang bisa kulakukan saat itu adalah bersembunyi.
.
Semua orang sudah bersiap-siap karena mendengar keluarga pengiring pengantin sudah dekat. Aku mengajak mbak nurin bersembunyi untuk sementara waktu sampai namanya dipanggil untul qiroah.
Musik yang memekakkan telinga dari sound system besar yang diletakkan di ujung jalan itu dimatikan saat rombongan pengiring datang kemudian diganti dengan lantunan solawat sebagai ungkapan selamat datang dari tuan rumah.
Cak qowi dan istrinya mencium tangan kedua orang tuanya bergantian. Kemudian pak de ku memberi minum pada keduanya dengan air minum yang sudah disediakan sebagai syarat dan simbol bahwa mereka menerima pengantin putri sebagai anak mereka juga dan akan memeperlakukan keduanya seperti anak sendiri.
Patah yang berdiri di sebelah mereka kemudian membuka selendang dan menaruhnya di punggung kedua mempelai dan kedua orang tua. Pak de dan bude diminta memegang ujung-ujungnya kemudian berjalan berempat dalam satu selendang menuju tempat duduk yang sudah disediakan ( yang ini cuma prediksiku ya coz aku kan lagi sembunyi jadi aku nggak tau apa yang terjadi di depan)
Tak berapa lama kemudian pembawa acara mulai naik ke podium membuka acara dengan bacaan bismillah kemudian membacakan susunan acara dari awal sampai akhir.
lahumul fatihah........
__ADS_1
acara yang kedua yakni pembacaan ayat suci Alqur'an yang akan dibacakan oleh ananda nurin sayyidah, kepadanya kami persilahkan....
Mbak nurin berjalan malu-malu menuju podium kemudian mengucap salam dan mulai membaca ayat-ayat Al qur'an. Suaranya sangat syahdu memenuhi relung kalbu, halus selembut salju.
setiap jiwa mendengarkannya dengan hati berdebar seakan sedang berdialog dengan sang pemberi kehidupan sampai terdengar
"Sodaqollohul adzim.... wassalamualaikum qarohmatullohibarokatuh"
Mbak nurin berjalan meret-meret ( nggak tahu bhs indonya apa ya) berjalan meninggalkan podium lewat belakang panggung dan aku menyambutnya.
Aku mengajaknya ke rumah pamanku ,aba yahya. Melalui pintu belakang kami masuk ke rumah paman dan kami duduk dilorong di belakang kamar mandi.
Mbak nurin seperti biasa kalau sedang nervous pasti badannya dingiin sekali. Aku mengajaknya bercakap-cakap mencoba untuk mencairkan suasana hatinya.
Tiba-tiba ada seorang cowok yang masuk lalu ikut duduk tak jauh dariku
" pean kelas pinten?"
__ADS_1