
Setelah salat idul fitri kami langsung sungkem pada Bu nyai yang satu shof dengan kami. Minta maaf atas segala kesalahan yang telah kami perbuat selama menjadi santri. Mungkin kami selalu bikin kesal dan membuat Bu nyai mengusap dada saat melihat kelakuan kami yang kekanak-kanakan . Mungkin juga kami mengambil sesuatu yang bukan hak kami .
"Sedoyo kelepatan nyuwun Ngapunten buk nggeh"
"Yo podo-podo. ibuk Yo njaluk sepuro seng akeh" begitu jawaban beliau
Kami juga sungkem pada Mbah nyai Khusnul yang ikut berjamaah di masjid. kemudian kami bersalam-salaman dengan jamaah putri yang ada di masjid yang kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kampung.
Di sepanjang jalan kembali ke pondok kami, aku menyapa cacak-cacak maupun cowok-cowok kecil yang kukenal dan meminta maaf pada mereka.
"cak .... sepunten nggeh"
atau kalau ke anak-anak cowok
"lahir batin..,.., sepurane yo"
Brgitu kira-kira aku meminta maaf . Kalau bertemu dengan teman cowok sebayaku aku malah diam tak menyapa mereka. Gimana ya, rasanya aneh gitu. Mereka yang biasanya memanggil-manggil, godain aku saat mereka sedang bersama dengan segerombolan temannya kemudian ketika bertemu disaat mereka hanya sendirian jadi aneh kalau aku yang menyapa mereka duluan.
__ADS_1
Saat kami masuk ke pondok putri tak sengaja aku melihat cak Bibi mengintip lewat pintu kantor pondok putri.
"Cak Bibi lahir batin, sepuntene seng katah nggeh!" kataku dari jauh
Cak Bibi tak menjawab hanya menggerakkan telapak tangan nya dua kali seolah berkata nanti saja.
Mbak Yuli seolah mengerti kala aku mengernyitkan kening ku.
"Cak Bibi baru gelem sepuro-sepuroan nek wis mari njaluk ngapuro Nang Abah, ibu karo Mbah nyai."
ooh begitu....
Ada rasa takut sihh ... dikit. Tapi aku yakin mereka, cacak-cacak itu masih punya iman jadi nggak mungkin mereka akan mengganguku meski saat liburan mereka keluar masuk pondok putri.
Hari itu aku cukup sibuk karena tamunya Abah dan ibuk datang silih berganti. lungo teko lungo teko. Buat teh, kora-kora gelas dan peralatan makan yang digunakan oleh keluarga ndalem aku lakukan dengan riang. Senang bisa bantu-bantu keluarga ndalem.
Hari kedua idul Fitri di pondok aku bingung ketika harus memasak karena aku memang sama sekali tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Aku mencoba menyalakan api di tungku tapi tak bisa-bisa. Cak Halim yang bertugas menjaga kantin putra dan membuat pentol datang dan aku menyingkir dari depan perapian kemudian mengawasinya dari belakang . Bagaimana dia menyalakan api dengan kayu yang sudah dikasih gas dan menggunakan sedikit kertas yang dibakar kemudian ditaruh diatas kayu sehingga apinya bisa menyala .
Aku kemudian hanya kora-kora dan membuat teh saja karena tidak tahu apa yang harus ku perbuat di dapur. Setelah agak lama cak Halim kemudian masuk ke pondok putri. Aku melihat ke atas tungku ternyata cak Halim sudah adang, menanak nasi dalam satu dandang besar.
Aku mencicipinya sedikit ingin tahu apakah nasinya sudah matang atau belum tapi aku tidak tau bagaimana tanda-tandanya nasi yang sudah matang.
Aku masuk ke pondok Putri dan mendengar suara orang yang sedang mandi di kamar mandi. Aku yakin itu pasti Cak Halim karena belum ada yang masuk ke pondok putri selain dia .
Aku melewati paving suci menuju kamar mandi beberapa langkah agar cak Halim bisa mendengar suaraku dengan jelas
" Cak sekule niku pon mateng tah?" tanyaku.
"Pean keplok-keplok ambek entong. Nek wes muni bluk-bluk Yo wes mateng"
Aku pun kembali ke dapur dan menjalankan apa yang dikatakan cak Halim tadi tapi tak yakin dengan apa yang ku lakukan. Aku menyimpulkan bahwa nasinya belum matang dan aku membiarkan apinya tetap menyala.
Cak Halim kembali ke dapur dengan tergopoh-gopoh setelah aku memanggilnya karena nasinya bau gosong. Aku panik dan tak tau apa yang harus aku lakukan
__ADS_1
Cak Halim kemudian mematikan apinya dan mengambil daun pandan kemudian menaruhnya ke dalam dandang dan membolak-balikkan nasinya agar daun pandannya bisa meresap dan bau gosongnya bisa berkurang.
Duh malunya aku..... cewek tapi tak bisa masak kalah sama Cak Halim yang sudah terlihat lihai dalam masak memasak.