
Waktu pun terus merayap. Suara adzan mulai terdengar berkumandang dari berbagai penjuru sehingga mau tak mau kami harus melaksanakan solat subuh. Aku pun melangkahkan kaki ke kamar mandi meskipun hatiku terasa sedih.
Saat bebersih di dalam kamar mandi aku mendapati darah keluar dari daerah kewanitaan ku padahal waktu suciku belum genap lima belas hari. Besok isyak adalah batas paling minimal suciku. Harusnya waktu haidku adalah besok ba'da Isyak. Itu artinya aku sedang istihadloh sekarang.
Aku mendengus sebal, kenapa datangnya lebih cepat dan disaat yang tidak tepat. Kalau sudah seperti itu berarti aku harus bersuci dengan ekstra.
Membersihkan bagian pribadiku sampai bersih kemudian menyelipkan kapas di tempat keluarnya darah baru memakai pembalut dan cd.
Aku pun keluar dari kamar mandi untuk minta bantuan.
"Khollll......!! Tulung ya pean jupukno kapas, pembalut sama CD" Kataku pada Kholifah yang baru mau masuk ke kamar karena kakiku kotor di tempat yang tidak suci.
Istihadhah adalah darah yang keluar di selain hari-hari haid dan nifas. Di antara kasusnya adalah ketika darah terus-menerus keluar melebihi batas maksimal haid, yaitu 15 hari.
Perempuan yang mengalaminya disebut dengan mustahadhah. Mustahadhah dihukumi sebagai orang yang suci. Ia tetap diwajibkan puasa dan shalat, boleh membaca Al-Qur’an, i’tikaf dan hal-hal lain yang dilarang bagi perempuan haid.
Ada perbedaan tata cara shalat dan bersuci bagi mustahadhah dibandingkan dengan orang yang normal. Setiap hendak shalat, ia wajib membasuh bagian kewanitaannya dan menyumbatnya dengan semisal kapas atau jenis pembalut wanita lain yang dapat menghentikan darah atau setidaknya bisa meminimalisasi.
Kemudian ia berwudhu dengan niat memperbolehkan shalat, bukan dengan niat menghilangkan hadas.
Nawaitu listibahatissolati fardhol lillahi taala
__ADS_1
Niat wudlu ini hanya bisa digunakan untuk satu solat wajib saja sedangkan untuk solat Sunnah tidak ada batasan.
Wudhu nya pun harus dilakukan setelah masuk waktu shalat, tidak sah sebelum masuk waktu. Setelah berwudhu ia diwajibkan untuk langsung melaksanakan shalat, tidak boleh diselingi dengan aktivitas lainnya, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan kemaslahatan shalat seperti menanti jamaah, menutup aurat dan lain sebagainya.
Setiap kali shalat fardhu, ia berkewajiban mengulangi wudhu dan mengganti pembalutnya.
Al-Imam al-Nawawi mengatakan,
Istihadhah adalah hadats yang permanen seperti orang beser, maka ia tidak mencegah puasa dan shalat. Maka mustahadhah (diwajibkan) membasuh vag**anya dan membalutnya. Ia (wajib) berwudhu pada waktu shalat, ia (wajib) segera melaksanakan shalat. Bila mengakhirkannya karena kemaslahatan shalat, seperti menutup (aurat), menanti jamaah, maka tidak bermasalah. Bila bukan karena demikian, maka bermasalah menurut pendapat al-shahih. Wajib berwudhu untuk setiap fardlu, demikian pula memperbarui balutan menurut pendapat al-ashah. (Imam al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, juz 1, halaman: 19).
Problem muncul ketika mustahadhah tengah berpuasa Ramadhan. Satu sisi ia diwajibkan menyumbat bagian *********** dengan sejenis kapas sebagai bagian dari tata cara bersuci dan shalatnya. Namun, di sisi yang lain, ia diwajibkan untuk menjaga puasanya dari hal-hal yang membatalkan.
Seperti diketahui, memasukan benda sejenis kapas ke bagian dalam ***ina dapat membatalkan puasa. Pertanyaannya kemudian, apa yang seharusnya dilakukan mustahadhah yang tengah berpuasa ketika ia hendak shalat? Manakah yang lebih didahulukan antara kepentingan puasa dan shalatnya?
Setelah salam, aku menyenderkan tubuhku yang masih terbalut mukena ke dunding. Kepalaku terasa berat karena pikiran yang mengganjal di dalamnya. Rasanya aku belum bisa menerima kenyataan kalau Abah sudah meninggalkan kami. Kali ini Abah pergi bukan sehari dua hari tapi selama-lamanya untuk menghadap pada Yang Maha Kuasa pencipta alam semesta.
"ya Alloh ya Robb, aku yang mengusulkan pada mbak Leli agar membaca surat Ar ro'd dan sekarang Abah meninggal. Ya Alloh ampuni aku..... ampuni aku ya Alloh jika semua itu gara-gara aku" doaku lirih dengan air mata yang berderai tak kunjung usai.
Di dapur terlihat para santri putri sudah siap dengan memakai mukena masing-masing untuk mensolatkan Abah dan menunggu giliran karena harus bergantian.
Cak Yubi dan Cak Noto kemudian datang dan mengabarkan kalau anak putri tidak perlu mensolatkan Abah karena para pelayat terus berdatangan dan mensolatkan jenazah Abah sampai tempatnya tak muat. Maka para santri putri pun kembali ke pondok dengan sedikit kecewa karena tak bisa melihat Abah secara langsung disaat terakhirnya.
__ADS_1
Para pelayat berdatangan dari berbagai penjuru kota. Mereka berbondong-bondong datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Abah putra kyai Ismail ibrahim yang terkenal di seluruh kota karena karomahnya di jaman penjajahan.
Karung-karung yang sudah kami siapkan tidak cukup untuk menampung beras dari para pelayat. Kami memindahkannya ke dalam musolla ndalem karena kantin santri putra sudah tidak muat menampung bawaan para pelayat. Mie, beras, gula dan minyak datang membludak tanpa bisa di tolak.
Akhirnya jenazah Abah diberangkatkan ke makam keluarga yang berada di belakang pondok putri pondok lor. Para pelayat berjajar di sepanjang jalan menuju makam menyaksikan jenazah Abah.
Guru-guru, para ustadz, wali santri maupun wali murid dan para alumni menangisi seseorang yang selama ini menjadi panutan kami, seseorang yang sangat kami sayangi dan sangat kami hormati. Kami menangis dalam diam sambil menyaksikan keranda yang membawa jenazah Abah untuk disemayamkan di tempat peristirahatan terakhir.
Selamat jalan Abah Basyaruddin Ismail , semoga semua amal abah di terima dan diampuni semua dosa-dosanya. Semoga kelak kita bisa berjumpa kembali di surga Nya.
Meskipun dalam suasana kami tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. Dan malam harinya kami mengadakan tahlilan selama tujuh hari tujuh malam di ndalem maupun di pondok. Orang-orang yang hadir bukan hanya para tetangga tapi juga dari berbagai penjuru wilayah Mojokerto.
Keesokan paginya saat menyapu ndalem aku melihat Bu nyai yang sedang duduk di kursi single melihat ke kursi yang biasanya di duduki oleh Abah. Mata beliau terlihat sembab seperti habis menangis.
Ternyata ibu juga sedih dan mencoba menyembunyikannya dari kami. Sejak Abah meninggal ibu tetap mengimami kami solat berjamaah dan tak terlihat kesedihan yang mendalam dari mata beliau. Seperti sudah siap kehilangan Abah tetapi sekarang aku baru menyadari kalau ternyata ibuk lah orang yang paling bersedih ketika Abah meninggal.
"Biasane Abah lungguh-lungguh nang kunu....." kata ibu ketika merasa ada orang yang masuk ke ruang tengah tanpa menoleh ke arahku. Beliau kemudian mengusap matanya.
"Kangen ambek abah tapi mungguho Nang omah Yo gak lapo-lapo lho " (Rindu sama abah tapi meskipun beliau di rumah juga nggak ngapa-ngapain lho) kata ibuk lagi.
Aku pun diam saja mendengar curhatan Bu nyai ku ini.
__ADS_1
Setiap hari ibuk pergi ke makam Abah untuk mengurangi rasa rindunya. Setelah bertahun-tahun bersama, mengarungi bahtera rumah tangga dalam luka dan gembira kemudian ditinggal pergi . Entah bagaimana perasaan ibu ditinggalkan selama-lamanya oleh Abah yang sangat sabar dan baik hati.