Misteri Cinta

Misteri Cinta
Boncengan


__ADS_3

Pagi itu aku belum siap saat cak Harjo menjemputku. Ia sudah menungguku di ruang tamu dan aku baru saja menyelesaikan sarapanku.


Teman-teman resekku pada menggodaku. Cuih.... dasar teman-teman kurang ajar, bisa-bisanya menjerumuskan ku untuk pulang berduaan dengan Harjo. Tapi aku bersyukur juga sih... karena aku nggak harus naik Len, jadi kali ini perutku aman terkendali bebas dari bau mobil yang ,., uwek..... membayangkannya saja aku langsung mual.


Aku pun berpamitan pada ibunya mbak Kum dan menyalami teman-teman ku sambil membawa kresek berisi pembalut. Aku bahkan sama sekali nggak bawa ganti baju. Nggak tau bagaimana bau badanku saat itu.


" ati-ati!"


"gecolan seng rapet!"


"prett....." jawabku


Aku pun mendatangi cak Harjo dan diberi helm olehnya.


" lewat mana ini enaknya?" tanyanya masih sambil berdiri di samping sepeda motor supranya.


" Sak kerso kulo mboten semerap dalane"


"lintang *** mawon nggeh?"


"nggeh...."


" pean ndamel jaket kulo a?"


"mboten..."


" Niki tak salape mriki!" katanya sambil meminta kresek yang kubawa agar ditaruh di cantolan di bawah stang sepeda motornya.

__ADS_1


"Mboten usah...." jawabku. Aku malulah kalau ketahuan isinya ternyata pembalut. Tapi dia menariknya dari tanganku dan menaruhnya di cantolan sepedanya.


"Ehem...ehem..." Kumariblek meledekku


Aku mengerucutkan bibir ku sambil naik ke atas sepeda motornya dan kamipun berangkat. Udara pagi itu dingin sekali apalagi kami melewati pegunungan dan lembah. sebenarnya cak Harjo menawariku jaketnya lagi tapi aku menolaknya. Malulah pakai baju cowok.


Harusnya tadi aku terima jaketnya kalau tahu hawanya dingin kayak gini, batinku.


Kresek ku yang ada di cantolan bergerak ke kanan dan ke kiri dengan riangnya karena angin yang berhembus cukup kencang. Beberapa kali dia menahannya agar tidak jatuh tapi aku diam saja tak hendak memintanya.


Dari awal berangkat dia mencoba bertanya banyak hal padaku. Herman....ada saja tema untuk mengajakku berbicara.


Di atas jalan setapak dia berhenti. Kemudian memberikan kresek milikku kepadaku.


"Oean beto mawon , kudu miber ae" katanya dan aku pun menerimanya. Makanya tadi nggak tak bolehin bawa, ngeyel sih ,batinku


ceilah.... diriku. Aku pun memakai jaket cowok untuk pertama kalinya. Yo wes lah dari pada kedinginan padahal perjalanannya masih jauh.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri ternyata kami berada di jalan setapak di antara semak belukar yang menjulang tinggi. Tak terlihat manusia lain selain kami. sepertinya kami masih berada di hutan jauh dari kawasan penduduk. aku pun naik ke atas sepeda motornya dan kami melanjutkan perjalanan lagi.


" Niki wau sakjane adik kulo kajange sareng" katanya


" Mboten liburan ta?" tanyaku merasa nggak enak.


"Pramuka an teng Mojokerto"


"Terus numpak nopo?"

__ADS_1


"Nggeh cek numpak len" katanya seperti ingin mengatakan kalau dia lebih memilihku dan mengorbankan perasaan adiknya.


Tangan kiriku memegang pegangan besi di belakang jok sedangkan tangan kananku memegang kresekku. Dari awal naik aku tak berpegangan padanya sama sekali. Jangan harap seperti di pilem-pilem yang berpegangan erat karena si pria membawa motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.


" lintang griyane Mbah kulo saget ta?" aku memintanya agar dia mau menurunkanku di depan rumah mbah agar kami tak menjadi perbincangan . Kalau aku di antar ke rumah ibuku bisa dipastikan para tetanggaku akan heboh membicarakan kami.


"Nopo o?" tanyanya


" isin ae," jawabku


Dia membawa sepeda dengan kecepatan sedang dan memilih jalan yang menuju ke arah rumah mbahku.


Aku bersyukur ketika kami sampai di rumah mbah tidak ada orang di sana dan para tetangga pun tidak ada yang melihat kami.


Aku turun dari sepeda dan melepas jaketnya dan langsung kukembalikan padanya. Entah bau atau tidak yang aku pikirkan adalah agar kami tak punya alasan untuk bertemu lagi.


"Kapan balik Ten pondok?"


"Kirangan..."


"Kulo tak dulen mriki nggeh kapan-kapan...."


"Lanopo? mboten usah" kataku


"Matur suwun nggeh" kataku kemudian langsung meninggalkannya tanpa mempersilahkan dia untuk masuk dulu.


Sepertinya dia kecewa. Semoga saja dia tidak tahu jika aku hanya memanfaatkannya

__ADS_1


__ADS_2