
Aku sudah menitipkan pesan pada mbak Indi untuk meminta Davic menemuiku saat jam sekolah. Aku tidak tahu bagaimana mereka mengatur waktunya tapi saat ada jam kosong di kelasku Davic sudah menungguku di dalam kantor. Kebetulan sekali tidak ada guru-guru dan pegawai TU yang biasanya duduk-duduk sambil menunggu pergantian jam.
Aku melangkah keluar menuju pintu kantor sekaligus pintu kelas dua A. Kami berada tepat di pintu masuk. Untuk pertama kalinya kami bertatap muka dan Aku bisa melihat wajah sedihnya meski ia mencoba tetap cool.
Tidak ada rasa dag dig dug, perasaan malu, ataupun salah tingkah yang aku rasakan. Aku hanya merasa khawatir padanya dan berharap dia tak melakukan hal-hal yang bodoh.
"Lihat tangan pean ya.....!" kataku to the point saat kami sudah berhadapan.
"Nggak ada kok An," jawabnya sambil menyingsingkan lengan baju pramukanya.
Memang terdapat sayatan yang yang banyak disepanjang lengan bagian depannya yang membuatku ngilu saat memandangnya tapi setelah aku mengamatinya tak kulihat ada namaku disitu.
"Kenapa sampai bisa begini?"
"Ehm..... itu". Davic belum menyelesaikan kalimatnya tapi teman-temannya yang menunggui kami di luar pintu memanggil Davic.
__ADS_1
" Onok pak Rodli cepetan," kata mereka.
Aku pun langsung masuk ke kelasku, begitupun dengan Davic. Kami tidak menyelesaikan pembicaraan kami yang masih ambigu. Perasaanku campur aduk. Aku tidak tahu Apa yang sebenarnya terjadi padanya sampai ia menyakiti dirinya sendiri.
.
.
Aku yang biasa tidur siang sepulang sekolah dan baru bangun saat sudah asar siang itu aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku bingung harus bagaimana. Haruskah aku menerimanya agar ia bisa menjadi cowok yang tangguh ataukah aku harus tetap menolaknya dengan resiko dia akan mengalami depresi atau yang semacamnya.
Santri-santri yang akas-akas itu sudah mulai mandi. Beberapa anak yang masih berada di depan kamar berteriak minta antri kamar mandi.
"mbak nurin...... antri"
" wes diantri jeng kar e"
__ADS_1
"kholifah..... antri ya".
"endi anduke?"
suara-suara semacam itu bersahut-sahutan. Mereka akan menaruh handuk temannya yang sudah mengantri di pintu kamar mandi setelah dia menyelesaikan mandinya. hal itu menandakan kalau pintu itu akan segera di pakai oleh sang pemilik handuk. Tapi seandainya si empunya handuk mengizinkan untuk diselat maka akan dipakai dulu oleh temannya yang lain.
Anak-anak MTS yang terlihat dominan diantara mereka. Sambil menunggu antrian kamar mandi mereka bercanda di pelataran depan kamar mandi sambil mengangkat roknya yang sebelah agar tidak kecipratan anak-anak yang sudah selesai mandi dan menyucikan kaki mereka diatas paving dengan cara membasuh kakinya dengan air dalam gayung yang tadi dibawanya dari kamar mandi kemudian mereka berjalan menuju ke lantai suci dengan melewati paving-paving yang sudah di tata satu arah.
Ciwik-ciwik itu selalu terlihat ceria menurutku. Mereka terlihat menikmati hidup tanpa beban. Mereka selalu saja punya sesuatu yang menurutku aneh tapi terkadang juga terlihat lucu.
"Tidak mungkin terjadi....." kata salah satu dari mereka setelah berhaha hihi. Kata-kata itu sekarang sering terdengar di pondok. Awalnya salah satu dari mereka mengatakannya dengan tidak sengaja tapi mbak-mbak yang menanggapinya dengan senewen "opone seng gak Mungkin terjadi?-" anak yang keceplosan itu malah menganggapnya lucu dan kemudian sering mengucapkannya untuk bercanda.
Setelah itu teman-temannya yang lain juga mengikutinya bahkan sampai mbak-mbak pun katutan latah dan mengucapkannya ditengah perbincangan mereka
Ada-ada saja tingkah mereka itu.
__ADS_1