
Setelah itu mbak ima, alifah, dan beberapa temanku memberiku hadiah atau sekedar ucapan saja. Aku mendapatkan Bolpen dan beberapa tasbih.
sedangkan Hamid memberiku ucapan selamat dan memberiku gambar diriku yang berkaca mata, adik'adikanku, yang satunya lagi, Malik, memberiku gelang.
Aku memang tidak punya banyak teman dekat karena aku orangnya pemarah, jadi tidak mudah bergaul denganku. Aku menyadari itu dan selalu berharap bisa mengendalikannya tapi saat marah hilang semua akal sehatku. Bodohnya aku.... hawa nafsu yang harusnya kukendalikan malah menguasai pikiranku.
.
Ba'da maghrib setelah jama'ah, barokahan dan nariyahan kami semua yang tinggal dilantai bawah tergopoh-gopoh menuruni tangga agar bisa segera berganti pakaian karena gus pur sudah menggebrak-gebrak pintu. Bel masuk diniyah sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu tapi anak pondok putri utara belum ada yang muncul.
Maklum saja gus pur sebagai kepala sekolah diniyah marah-marah.
BRAK.....BRAK...BRAKKK....
"ayo ndang budal rek" Suara serak dan menggelegarnya gus pur membuat kami semua semakin kelabakan
Tak ada yang nyantai-nyantai, semua berganti pakaian dengan cepat dan berlarian menuju pintu dan berlari lagi menuju kelas masing-masing.
__ADS_1
Kelas diniyah tidak sama dengan kelas formal. Ketika pertama kali masuk pondok kami akan di test dulu baru kemudian akan ditentukan kelasnya. Ada kelas awaliyah 1,2,3 wustho dan aliyah.
Tahun pertamaku masuk ke pondok aku masuk kelas awaliyah. Itu kelas pertama untuk anak-anak yang baru belajarbilmu agama. Aku satu kelas dengan anak-anak MTS karena pengetahuanku tentang agama sangat minim. Hanya ada beberapa anak yang seumuran denganku.
Salah satu teman diniyahku bernama Nina. Ia anak MTS yang mondok di selatan. Anaknya hitam manis, hidungnya super mancung seperti orang arab dan suaranya saat qiroat sangat merdu, dia juga anak yang sangat alim. Tidak tau karena apa dia sangat menyayangiku. Dia bahkan menganggapku kakaknya.
Hari itu dia memberi kado kepadaku sambil berdoa banyak hal dalam suratnya. Diantara semuanya, aku paling terharu dengan sikap Titin, menurutku dia yang paling tulus.
"selamat ulang tahun mbak, barokallohu fi umrik" ucap titin sambil tersenyum
"terima kasih" balasku sambil memeluknya.-ukhibbuka fillah ukhti- batinku
Sungguh berbanding terbalik dengan kakaknya yang pernah sekelas denganku. Sebut saja namanya diyat, Cowok putih dengan hidung yang super lancip, suaranya merdu tapi sayangnya dia sok kecakepan. Dia berusaha menggodaku karena merasa tertantang oleh teman-teman cowok sekelas yang tidak bisa meluluhkanku. Tipe cowok macam ini yang paling kubenci. Pada dasarnya dia memang ....yah lumayan lah. Tapi lihat sikapnya aku jadi jutek sendiri. Cih.. sok kecakepan banget.
Pada Titin aku sangat sayang dan sangat menghormatinya. Ia gadis pendiam yang cerdas dan murah senyum. Bahkan aku bisa merasakan kalau hatinya senantiasa berdzikir.
.
__ADS_1
.
"Mbak lel, yok opo nek diniyahe kari terus iki? gus pur duko lho" kataku ketika sedang duduk-duduk setelah selesai makan malam
"iyo yok opo maneh, ibuk gak mau ngalah e" kata mbak lel frustasi
Masalah itu benar-benar diluar kendali kami. yo wes lah dijalani saja. kate gimana lagi, protes nang bu nyai iku su'ul adab e jal.... trus piye
"mbak lel ibuk mau koyoke ngutus tumbas slambu teko pring iku lho mbak, gawe musolla cek gak kepanasen nek wayah asar. opo se jenenge?" kataku
"iyo opo yo jenenge ngunu iku. terus pean jawab opo?"
"ngguyu tok aku"
" guyon tok ibuk iku...."
"panas lho ancen nek wayahe nariyahan asar mbak lel"
__ADS_1
" uang kase maringunu gawe tuku lemari kantor e...."