Misteri Cinta

Misteri Cinta
Malam pertama


__ADS_3

Semua orang di rumahku sepertinya sudah terlelap dalam tidurnya. Setelah seharian berjalan kesana kemari tanpa henti ketika malam datang semua makhluk menggunakannya untuk mengistirahatkan diri. Membebaskan penat dari kesibukan yang terjadi hari ini. Melepas lelah dan capek juga rasa pegal yang menggelayuti kaki.


Sunyi sepi rumahku.


Berbeda jauh dengan yang terjadi di dalam kamar pengantin kami yang tak ada hiasan apapun di dalamnya tapi baunya harum semerbak karena gelora di dalam hati. Tumbuh bunga-bunga yang entah darimana datangnya. Apakah itu karena kami selalu menjaga diri dan kini Alloh menerbitkan butiran-butiran rasa bernama cinta setelah kami mengikat janji menjadi suami istri. Rasa yang tak bisa digambarkan bagaimana wujudnya tapi bisa rasakan dengan panca indra.


Kami yang sedang berduaan di dalam kamar justru ingin menikmati malam disetiap detik yang berdetak. Rasa kantuk seakan pergi menjauhi kami tak ingin datang malam ini. Entah karena ada orang yang menemani tidurku atau karena perasaan berdebar yang tak kunjung normal mataku jadi terbuka lebar.


Aku tidur seperti posisiku yang tadi. Sedangkan suamiku , ia memakai lengannya sebagai bantal dan menghadap ke arahku. Aku sangat nervous karena posisi kami sekarang berhadap-hadapan.


Aku memulai bercerita untuk menghilangkan rasa canggung yang luar biasa. Apa saja kubicarakan untuk mengurangi debaran jantung yang bertalu-talu. Ditambah lagi dengan mata pria ku yang menatap penuh puja.


Berjam-jam aku bercerita dan dia hanya menanggapiku dengan beberapa pertanyaan saja. Suaraku memenuhi kamar pengantin kami. Aku menjadi pembicara yang tak lelah mengeluarkan kata sedangkan suamiku, dia hanya menjadi pendengar setia saja. Malam itu entah kenapa mata kami tak kunjung mengantuk padahal malam semakin larut.


Hampir jam tiga dia baru terlihat mengantuk dan mulai menguap.


"Ayo bubuk!" katanya sembari merentangkan tangannya dan meraih kepalaku. Ia menenggelamkan kepalaku di dadanya. Aku pun menurut saja. Tidur berbantalkan lengannya dengan pipi menempel didadanya. Aku merasa nyaman dan aman. Menghirup bau maskulin dari seorang pria pendiam sepertinya. Hati dan bibirku tersenyum dalam pelukannya.

__ADS_1


Baru beberapa jam kami memejamkan mata tapi harus segera bangun ketika adzan subuh menggema. Adzan subuh yang memaksa setiap jiwa untuk segera mengembalikan kesadarannya dan bergegas untuk menghadap kepada Tuhannya dengan jiwa dan raga yang bersih sebelum terkontaminasi berbagai kotoran dunia nanti.


Suamiku segera bangun kemudian mandi dan aku juga ikut bangun kemudian pergi ke dapur untuk mencuci muka.


Ibu menyuruhku membuatkan kopi untuk suamiku. Setelah berbagai teori bagaimana seorang istri harus mematuhi suami. Bagaimana bila ada situasi terdesak yang pertama kali adalah meminta izin suami. Sekarang saat Praktek langsung dan aku merasa kebingungan. Bagaimana cara melayani suami yang baik aku sama sekali tidak tahu.


Seharusnya ada bimbingan bagaimana cara menyenangkan hati suami, pikirku sambil mandi.


Aku menghidangkan kopi di kamar dan juga sarapan setelah ia pulang dari musholla. Kami makan sepiring berdua. Menikmati waktu bersama dengan bercerita. Lebih tepatnya aku yang banyak bicara dan bertanya karena suamiku ini benar-benar pendiam. Orangnya kalau tidak diajak bicara pasti diam saja. Kalau ditanya cuma sepatah dua patah jawabnya.


Mbak Nurin juga datang siang itu dengan membawa hadiah jam Beker untukku. Saat aku masih berbincang-bincang dengan mbak Nurin suamiku pamit untuk pergi jumatan di masjid besar. Aku dibuatnya terkesima. Ia memakai sarung, hem biru dan kopyah hitam. Di mataku ia terlihat sangat tampan . Aku tersenyum melihatnya sampai lupa kalau masih ada mbak Nurin disitu.


Beginikah rasanya cinta? Ugh ... berdebar-debar rasanya.


.


.

__ADS_1


.


Malam harinya sesudah Isyak aku membongkar kado dari teman-temanku. Duduk dilantai dengan nyaman kemudian ku buka satu persatu.


Suamiku masuk ke kamar sepulangnya dari jamaah Isyak di mushola. Kami saling melempar senyum saat saling bertatapan. Ia segera berganti baju dan duduk di atas tempat tidur tepat disampingku sambil membungkukkan badannya ke arahku. Seandainya aku menoleh pasti kulit kami bersentuhan. Menyadari hal itu aku tak berani menoleh kearahnya.


Aku terus membuka kado-kado yang ada dan membaca surat yang terselip diantaranya. Sesekali ia bertanya dan aku pun menjawab tanpa menengok ke arahnya.


Ada buku-buku, kaligrafi, kerudung, tas, handuk, jam Beker, kaca, tempat bumbu-bumbu beserta surat-surat nya yang mendoakan keberkahan untuk pernikahanku.


Suamiku tiba-tiba mengambil salah satu hadiah yang ada didepanku. Kitab Qurrotul Uyun . Ia kemudian membacanya. Kontan saja mukaku langsung memerah.


Haduh kenapa ada yang ngasih terjemahan Qurrotul Uyun bikin atiku seblak-seblak saja.


%%%%@@@@@


Menurut ku tempat ternyaman dan terindah di dunia ada dua yang pertama ketika bersujud dan hanya mengingatNya saja, melupakan seluruh alam semesta dan yang kedua adalah dalam pelukan suamiku tercinta. Entah sedang sedih atau marah di sanalah aku biasanya menyandarkan segala rasa hingga bahagia dan kenyamanan menggantikannya.

__ADS_1


__ADS_2