Misteri Cinta

Misteri Cinta
drama


__ADS_3

Aku kedepan, keruang tamu untuk meminta berfoto dengan ke empat adik-adikku dan pamanku, aba Yahya. Ada suamiku disitu tapi aku melewatinya begitu saja. Para tamu yang masih ada disitu menggodanya agar ia ikut berdiri di sampingku dan berfoto bersama tapi dia tak menanggapinya aku pun masih terlalu canggung jika harus mengajaknya ikut serta. Aku merasa sepertinya akulah yang lebih menyukainya sedang ia, entah bagaimana perasaannya kepadaku.


Tamu-tamu masih saja berdatangan meski hari sudah malam dan gerimis tak kunjung berhenti. Akupun ikut menyalami para tamu di ruang tengah karena di ruang tamu para tamu pria dan beberapa tetangga sedang asyik njagong dan mungkin saja akan melekan. Tradisi lama yang masih dilestarikan oleh warga desaku. jika ada orang yang punya hajat mereka akan ngobrol sepanjang malam disitu.


"Iki ta kemantene?" (Inikah pengantinnya ?)


Mereka menyapaku seperti itu dan entah kenapa itu membuatku tersenyum dan bahagia. Ada juga yang sebagian menggodaku seperti ini


"Seneng ngene iki kemantene. Udan-udan, hawane adem, enak" (Pengantinnya suka yang kayak gini. Hujan-hujanan, hawanya dingin, enak)


Diihh apaan cobak, emangnya mau ngapain? Aku kan masih polos belum tau apa-apa. Ehe


Salah seorang cowok yang sudah berumur tapi masih perjaka yang biasa kami panggil Cak Mat berkata kepada ibuku, "Jidin tak jak rewang mrene lho gak gelem....bek" (Jidin ku ajak membantu di sini lho nggak mau)

__ADS_1


"Babah gak gelem yo wis . Sampean ae rewangono nang kene" (Biar saja nggak mau ya sudah. Kamu saja yang bantu-bantu di sini) Jawab ibuku.


Meski aku sudah tak ada rasa lagi tapi mendengar namanya disebut hatiku seakan mencelos. Aku bisa memahami perasaannya. Pasti dia tidak nyaman kalau harus kemari. Bagaimanapun kami pernah punya rasa yang sama. Semoga saja dia sudah tak ada hati padaku. Sama seperti ku


Ibuku kemudian bercerita jika ibunya cak Jidin mendatangi ibuku ketika berita tentang pernikahanku sudah tersebar di daerahku saat aku masih berada di pondok beberapa saat lalu.


"Ket biyen areke dijaluk jarene jek mondok ae, Saiki moro-moro kajange dadi kemanten. sampeyan iku yok opo se bek?" (Dari dulu diminta katanya masih mondok. Sekarang tiba-tiba mau jadi pengantin. Sampeyan itu gimana sih?)


Untungnya meskipun penuh emosi saat melabrak ibuku akhirnya Bek Um juga tetap bisa menerima semuanya dan meyakini bahwa ini semua sudah digariskan takdir yang kita sebagai manusia tak bisa mengelaknya.


Setelah tamu agak sepi aku pun masuk kedalam kamar. Aku bingung harus apa. Harus pura-pura tidur atau duduk menunggu suamiku. Samar-samar aku mendengar para pria yang melekan menggoda suamiku.


"Wes ndang mlebu kamar.....!" (Sudah masuk kamar sana...!)

__ADS_1


"Wes dienteni ko loh!" (Sudah ditunggu loh)


Ya... menjadi pengantin di desa itu harus menebalkan telinga untuk digoda. Dari yang biasa saja sampai yang agak menjurus-menjurus keurusan kamar juga harus ditelan saja.


Waktu itu sku takut suamiku itu akan segera masuk kamar. Aku segera naik ranjang dan mengambil posisi diujung ranjang yang berbatasan langsung dengan dinding. Aku memilih pura -pura tidur saja daripada dia masuk dan aku masih terjaga pasti kami akan dilanda kecanggungan yang luar biasa.


Sudah diatas kasur pun aku masih bingung harus tidur terlentang atau miring. Kalau terlentang pasti tidak nyaman tapi kalau miring kearahnya sepertinya aku sedang menunggunya. Ih kenapa jadi bingung dan serba salah.


Akhirnya aku memilih tidur dengan posisi miring menghadapnya karena itu lebih menghormatinya dan akan lebih nyaman untukku untuk menutup kedua asetku.


Pintu terdengar dibuka oleh seseorang saat aku menutup mataku karena berpura-pura tidur.


Aku merasa sedikit agak aneh tapi aku takut jika mengintip aku akan ketahuan jika aku sedang berpura-pura tapi aku merasa yang tidur di sebelahku bukanlah suamiku.

__ADS_1


__ADS_2