
Setelah dirias aku duduk di kursi menunggu pengantin putra dan menyalami para tamu yang selalu menyanjungku. Mereka bilang aku cantik dan manglingi. Entah itu jujur dari hati atau cuma pesi-pesi.
Aku meminta tolong kepada periasnya agar mengalungkan untaian kalung melati ke lehernya Cak Im saat ia datang karena ia sudah berpesan tidak mau memakainya. Tapi aku bersikeras memesannya dan akan memastikan kalau dia mau memakainya meski dengan sedikit paksaan dan muslihat karena aku ingin melihatnya memakai kalung bunga melati di foto pernikahan kami.
Ruang tamu sudah digelari kambal dan disana sudah dihadiri oleh keluarga dekat. Paman, pakde dan saudara-saudara sepupu sebagai saksi, Wak Mudin, pak penghulu dan juga bapakku. Aku kemudian ke ruang tamu didampingi budeku karena akad nikah akan segera dilaksanakan.
Calon suamiku dikasih beberapa pertanyaan oleh pak penghulu. Mas kawinnya utang atau dibayar tunai, akadnya memakai bahasa apa dll. Pak penghulu juga bertanya padanya
"jek Joko tir a iki?" (Masih perjaka tir nggak ini?)
"Thor " jawab Cak Im dan sukses membuat pak penghulu dan orang-orang yang ada disitu tertawa sejenak diantara suasana yang sakral dan menegangkan.
Kemudian Cak Im disuruh membaca sighat taklik atau sumpah jika ia meninggalkanku atau tidak menafkahiku lahir dan batin selama tiga bulan maka jatuh sudah talak satu.
Setelah Cak Im kemudian ganti aku yang diberi beberapa pertanyaan juga untuk memastikan apakah pernikahan ini karena dipaksa atau dengan keikhlasan hati sendiri, umurku berapa, minta mahar berapa dan beberapa pertanyaan lainnya.
Pak penghulu kemudian bertanya kepada bapakku Apakah akan menikahkan sendiri atau akan diwakilkan?
"Kulo wakilaken dateng jenengan mawon" (Saya wakilkan pada pak penghulu saja) kata bapakku kepada pak penghulu.
__ADS_1
Setelah kami semua membaca syahadatain kemudian pak penghulu menjabat tangan calon suamiku dan mengucapkan ijab dalam bahasa Arab
"Ankahtuka wa zawwajtuka bi Qurrotul aini bil mahri sab atu miati Alfi rubiyyatin ha...lan"
Aku mendengar dengan seksama dengan dada yang berdebar. Dari ujung mata aku bisa melihat dia memejamkan matanya sambil menjawab,
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur......!!!!"
"Bagaimana para saksi?"
"sah..... sah...."
Maka penghulu pun kemudian berdoa dan kami semua mengaminkan bersama.
Setelah itu kami diminta untuk menandatangani berkas-berkas yang diperlukan KUA kemudian disuruh bersalaman.
Kucium tangan suamiku dengan jantung yang berdetak cepat karena itu adalah pengalaman pertamaku mencium tangan seorang lelaki yang bukan mahromku. Dengan kedua tanganku aku menggenggam tangannya dengan erat. Aku menggunakan lututku untuk tumpuan berdiri dan mencium tangannya cukup lama karena aku membaca surat Al qodr sebelas kali seperti yang dipesankan pak Zain ketika pertama kali bersalaman dengan suami. Sedangkan suamiku menempelkan telapak tangannya pada keningku sambil membaca doa.
Orang-orangpun kemudian berdiri sambil membaca sholawat badar ketika melihat posisi kami seperti itu dalam waktu lama.
__ADS_1
Aku berdoa memohon keberkahan atas pernikahan kami hingga akhir nanti, sampai dibangkitkan kembali dan semoga bersama sampai di surganya nanti.
Seperti doanya pak Fatoni beberapa hari yang lalu saat aku menelponnya ke kantor sekolah untuk meminta doa restu karena aku akan segera menikah. Beliau kemudian berdoa
Barokallahu laka wabaroka alaika wajama'a bainakuma Fi Khoir
Kini tanggung jawabku sepenuhnya berpindah dari bapakku kepada suamiku.
jika kemarin aku menyalaminya masih berdosa tapi kini sudah halal dan berpahala
Kini resmi sudah aku menjadi Nyonya Imron Rosadi.
*********************
Suamiku .....saat kau mengucapkan qobiltu akupun ikut memejamkan mata dan meresapi maknanya.
Maka Arsy pun bergoncang saat mendengarmu mengucap sumpah di hadapan Tuhan Mu untuk menghalalkanku.
Sumpah yang setara dengan sumpah para nabi dan sumpah yang setara dengan sumpahnya nabi Musa dengan Bani Israil yang dengan itu beliau mengangkat bukit Tursina.
__ADS_1
Sumpah yang hanya disebut tiga kali dalam Al-Qur'an sebagai mitsaqon gholidzo.