Misteri Cinta

Misteri Cinta
Sengaja


__ADS_3

Siang itu setelah mencuci dan bersih-bersih di rumah ibu aku pergi ke rumah mbah. Begitulah aktifitasku ketika liburan di rumah. Aku harus membagi waktu untuk ibu dan mak karena bila aku terus di rumah ibu, mak Jah akan menjemputku dan itu hanya akan membuatku malu karena sepanjang jalan mak Jah akan menyapa semua orang yang malah akan membuat orang bertanya banyak hal tentangku. Aku merasa seolah-olah seperti sedang dipamerkan.


"Kapan arek ayu iku mulih?"


"Putune mbah Jah tambah muanis e"


" Ayune prawane bek Tin"


Deperti itulah komentar mereka yang semakin membuatku malu dan malas jika harus bertemu para tetangga karena aku bukan orang yang grapyak.


Jadi untuk menghindari hal itu, setelah menyelesaikan tugasku di rumah ibu, aku akan bergegas menuju rumah mbah lewat jalan belakang, melewati sawah. Sebenarnya aku takut lewat situ karena zaman dulu jalan setapak yang ada di sawah itu sangat sepi tidak seperti saat ini. Sekarang sudah banyak rumah yang menghadap ke sawah, sawah yang dulu hijau kini sudah di petak-petak dan sebagiannya sudah dijadikan perumahan.


Jalannya pun sekarang lebih lebar dan juga sudah diaspal. Bahkan saat malam hari kini sudah tidak asing lagi orang lalu lalang dan berkendara di situ karena sudah ada lampu jalannya.


.

__ADS_1


Aku tidur tengkurap sambil membaca di ruang tamu sedangkan mak Jah duduk santai di teras. Aku membaca buku yang kubawa dari pondok, buku tentang tauhid.


Alloh itu punya sifat jaiz atau wenang yang artinya, Alloh punya hak atas segala sesuatu yang terjadi pada manusia. Apakah Alloh akan mengampuninya atau menghukumnya, itu adalah hak Alloh.


Kemudian ada pertanyaan di buku itu, Lalu untuk apa kita bersusah payah melaksanakan ketaatan jika akhir kehidupan kita sudah ditentukan, apakah kita akan berakhir khusnul khotimah atau su'ul khotimah.


Jawabannya karena manusia diciptakan oleh Alloh untuk beribadah kepada Nya. Sebagai manusia kita wajib beribadah kepada Alloh, apakah ibadah kita diterima atau tidak itu rahasia dan urusan Alloh. Kita juga harus berprasangka baik kepada Alloh berharap pada akhirnya kita termasuk orang-orang yang dikasihaninya.


Aku hanya membacanya saja dan kurang mengerti maknanya, entahlah. Pikiranku belum sampai sana.


Mak Jah yang sedang duduk-duduk diteras tiba-tiba berbicara. Akupun spontan melongok lewat jendela, mengira aku yang sedang diajak berbicara. Aku melihat tiga pemuda yang berjalan dari arah utara. Sekilas aku melihat diantara mereka ada yang bertahi lalat di wajahnya dan berambut gondrong.


"Kapan oleh teko?" tanya mak Jah.


" Dek dalu mbah!?"

__ADS_1


Mereka pun menyalami mak Jah dan ikut duduk di teras.


" Lujeng a mbah?" tanya salah seorang cowok tadi.


" alhamdulillah pangestu. Sampeyan prei an ta?" tanya mak Jah lagi.


" Nggeh mbah"


Aku memang melihat tv tapi tak sepenuhnya menikmati karena aku mendengarkan perbincangan mak Jah dengan para cowok tadi. Hatiku kebat kebit takut jika mak Jah akan memanggilku ke teras agar bisa berbicara dengan Imam. Tapi untunglah mak jah asyik berbincang dengan mereka.


Aku masuk ke dalam tanpa mematikan tivi terlebih dahulu. Aku merangkak pelan-pelan agar mereka tak melihatku karena posisi kursi panjang di teras berada didepan jendela. Jadi seandainya mereka menoleh dan melihat ke bawah pasti akan bisa melihatku yang duduk di lantai.


Aku tiduran di kamar yang ranjangnya susun. Aku biasanya tidur di bawah sedangkan adikku tidur diatas. Mak Jah kemudian masuk dan memberitahuku kalau Imam sengaja pulang karena tahu aku sedang liburan dan pulang ke rumah.


.

__ADS_1


__ADS_2