Misteri Cinta

Misteri Cinta
banjir


__ADS_3

Mbah Bardi sedari kecil tidak mendapatkan ilmu agama yang mumpuni, berbeda dengan mak Jah yang latar belakang keluarganya adalah orang-orang yang dekat dengan para kyai. Meski begitu mbah selalu menjadi kebanggaan kami.


Obrolan kami melantur kemana-mana sampai berujung ngrasani wong-membicarakan aib orang lain. Mbah paling tidak suka kalau mak Jah ngrasani dan beliau pasti marah, "wes mandek-mandek. awakmu iku ngerti ngaji tapi ngrasani wong ae Jah... Jah"


"ALLOHUMMASHILLI ALA.... MUHAMMAD"teriak mak jah menanggapi ucapannya mbah


"Allohumma sholli wasallim alaih..... " jawab kami yang mendengar nama nabi disebut.


"Wes buyar-buyar...!" kataku. Kemudian kamipun bubar agar emosi mereka sama-sama menghilang tergerus waktu.


.


.


Hari itu hujan turun sangat deras dari malam sampai siang hari hingga membuat rumah-rumah di daerah situ tergenang banjir. Termasuk dapurnya mak jah yang tempatnya dibelakang dan lebih rendah dari ruangan bagian depan, juga ikut tergenang air. Seingatku hanya sekali itu saja kami mengalaminya.

__ADS_1


Begitu hujan reda kami bekerja bersama mengeluarkan air dari dapur yang tingginya hampir selututku. Kami menggunakan ember dan timba untuk mengurasnya agar air tidak sampai masuk ke dalam rumah.


Aku, mak jah, ibuku dan dua orang yang ngekos di rumah yang dulu ditempati ibuku bekerja bersama menguras air dan membuangnya ke arah selokan


Ibu dan mak Jah berada di luar pintu dapur. disitu terdapat sumur dan disitu biasanya kami gunakan untuk mencuci. sedangkan posisiku berdiri membelakangi mereka, seorang anak lelaki yang mungkin tiga tahun lebih muda dariku dan ibunya. Aku terus saja menguras air dengan bersemangat agar airnya cepat surut dan dapur bisa digunakan seperti biasanya.


byur.... byur..... byur.... byur.....


Tangan-tangan kami berlomba menciduk air sebanyak-banyaknya kemudian mengarahkannya ke luar ke arah selokan.


"pean ndek wingkeng kulo mawon mbak" katanya


Aku pun mengambil posisi di belakangnya dan Agus putranya mengambil alih tempat ku berdiri tadi. Kami terus menguras airnya sampai tak bisa kami ambil lagi. Kemudian kami menggunakan kain untuk menyerap sisa-sisa air yang ada sampai habis, Meski tidak sampai benar - benar kering.


.

__ADS_1


Mak jah yang pertama kali masuk ke kamar setelah kami selesai menguras airnya karena sebentar lagi mbah akan pulang. Kami harus bergantian menggunakan kamar mandi karena kami hanya punya satu kamar mandi untuk seluruh penghuni rumah.


Aku masuk ke ruang tengah untuk menunggu antrian kamar mandi.


"klambi pean bolong ilo...." tunjuk ibuku pada baju bagian belakangku.


Aku mencoba melihatnya tapi tak bisa. kemudian Aku berdiri membelakangi kaca almari dan melihatnya di kaca. Aku membungkukkan badanku seperti ketika tadi waktu aku menguras air, "ya Alloh" aku memekik pelan sambil menutup mulutku.


Baju ku sobek dari panjang dari bawah pundak ke bawah kira-kira 20 cm. 'pasti agus tadi melihatku hu huhu....., malunya aku' batinku. Meski dia lebih muda dariku tapi dia tergolong remaja. Pantas saja mbak Min menyuruhku pindah ke belakangnya, pasti tadi mereka melihatnya. Ya sudahlah kan nggak sengaja, pikirku.


.


.


Hiruk pikuk sudah terdengar sejak pagi di rumah sebelah. Mbak Min dan keluarganya adalah pedagang bakso yang berasal dari Malang.

__ADS_1


__ADS_2