
Akhirnya bulan puasa ku lewati dengan doa-doa tentang keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Semoga aku bisa menjadi istri yang solehah seperti cerita-cerita yang sering kubaca. Semoga nanti aku bisa menjadi ibu yang baik, bijaksana dan sabar. Semoga kami bisa membimbing anak-anak kami menjadi anak-anak yang soleh dan solehah. Semoga anak-anak mempunyai perilaku yang akhlakul karimah, menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya.
Saat hari raya tiba agendaku beberapa hari kemudian adalah sowan bersama teman-teman ke bu nyai dan guru-guru yang rumahnya ada disekitar kedung maling kemudian ke Nggenuk watu, dan terakhir ke Gresik
Salah satu guru yang masih diwilayah Kedung maling adalah pak Zaini Zein yang masuk dalam list ku untuk kumintai doa restu. Pak Zein punya tempat yang biasanya beliau sebut gubuk untuk mengajar anak-anak yang tinggal di daerah sekitar situ.
Begitu memasuki gerbang kita akan melihat tiga kuburan. Yang pertama seperti kuburan orang dewasa, kemudian yang tengah seperti kuburannya seorang remaja dan yang terakhir seperti kuburan anak-anak.
Pak Zein pernah bercerita bahwa itu bukan kuburan sesungguhnya itu adalah upayanya untuk selalu mengingat bahwa kematian itu datangnya tak bisa direncanakan manusia. Ia bisa datang kapan saja. Terkadang tidak perlu menunggu tua bila waktu nya tiba entah ia masih bayi, anak-anak atau saat remaja malaikat Izrail akan datang tepat pada waktunya. Tanpa bertanya lebih dulu apakah kita sudah siap atau belum.
Saat itu pak Zein bercerita jika saat bulan puasa kemarin pak Zein dapat makanan dari surga. Alkisah Pak Zein makan buah mangga dan beberapa anak muridnya yang berada di situ melihatnya tapi mereka kompak diam saja. Baru setelah habis mangganya mereka baru mengingatkan pak Zein.
"Niku ..... siyam?" (Itu.... puasa...)
"aAstaghfirullahal adhim...... pon telas kawit diilingaken?" (Astaghfirullahal adzim.... sudah habis baru diingatkan?"
"Nggeh kersane telas rumiyen, kersane mboten sliliten...." (Iya biar nggak ada makanan yang nyelip...) Kata salah satu dari mereka.
__ADS_1
Gerrrrrr....,.!!!!! kami semua tertawa mendengarnya. Ada-ada saja ulah murid-murid Pak Zein.
Pak Zen kemudian melanjutkan, jika benar-benar lupa itu berkah dari surga. kalau dibuat-buat ya dapat dosa besar.
Saat kami berpamitan dan Pak Zein akan mendoakan kami, aku memberanikan diri mengutarakan maksudku kalau aku akan menikah dan mohon doa restu. Aku yakin teman-temanku terkejut dan saling berpandangan ketika mendengar perkataanku tapi mereka tidak akan berani menyela pembicaraan pak Zein.
Pak Zein kemudian bertanya kapan nikahnya, akupun menjawab dengan jujur
"29 Syawal, tanggal 2 januari mbenjang"
"Tahun baru nggeh...."
"Mugi-mugi pernikahannya dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat." Do'a pak Zein dengan tulus.
"Amiiin..... " Aku menadahkan tangan dan mengamini doa pak Zein dengan penuh harap sambil memejamkan mata. Dan
bukan hanya aku saja tapi teman-temanku juga ikut mengaminkan doa pak Zein untukku. Rasanya jadi terharu.
__ADS_1
Kemudian pak Zein berdo'a untuk kami semua dan kami menengadahkan tangan, mengamini doa-doa pak Zein sebelum kami pulang.
Begitu keluar dari area pondok pak Zein teman-temanku langsung heboh. Mereka tak henti-hentinya menggodaku. Jeng Kar yang saat itu ikut sowan ke guru-guru mendesak ku untuk mengatakan siapa calonku , orang mana.
Ku katakan padanya aku akan menjawabnya nanti kalau sudah sampai di rumah karena jeng Kar, mbak Ziyah dan mbak Nurin akan menginap di tempat kami.
Agenda selanjutnya adalah ke rumah pak Fatoni di nggenuk watu. Sebenarnya aku juga mau minta doa restu pada pak Toni tapi beliau sekeluarga sedang tidak berada di rumah. Maka kami pun melanjutkan ke guru-guru lain. Pak Abdul Kholiq, pak Anam, Pak Manaf dll.
.
.
.
Sorenya kami berada di rumah sepupuku,mbak Mun, kakaknya mbak Ima. Jeng Kar kemudian mendesak ku agar aku mengaku siapa calonku. Aku berbisik padanya agar ia mau berjanji dulu untuk merahasiakannya. Jeng Kar bersedia dan aku mengatakan padanya bahwa dia adalah sepupuku dan nanti malam habis Isyak kita akan kerumahnya karena ibunya mbak Ima dan ibuku menyuruh kami untuk bersilaturrahim ke rumah dia. Jeng Kar kemudian mengatakan padaku untuk mengundur tanggal pernikahanku karena ia juga akan menikah tanggal 27 Syawal dua hari sebelum hari pernikahanku.
Tentu saja aku menolaknya karena itu adalah hasil musyawarah keluarga dan tidak mungkin kami menundanya begitu saja tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Setelah salat isya kami berlima kerumah Cak Im dengan berjalan kaki karena jarak rumah kami hanya sekitar 400 meter saja.
Awalnya kedatangan kami di rumah itu biasa saja, seperti biasanya. Sambutan yang kami terima juga seperti biasa. Kami berbincang dengan santai dan hangat . sampai saat kami akan berpamitan sesuatu terjadi diluar dugaanku.