Misteri Cinta

Misteri Cinta
setelah lamaran


__ADS_3

.


.


.


Cak Imron..... setiap malam sebelum tidur nama itu menggema di telingaku sejak ibuku mengutarakan tentang lamarannya di kamar mandi kala itu. Setelah seharian aku beraktifitas dan berkutat di dapur barulah malam harinya setelah solat isyak nama itu seakan berputar-putar lagi di kepalaku.


Rasanya aku ingin menceritakannya pada salah satu temanku agar aku tak dilanda kegelisahan yang menegangkan saat memikirkannya.


Aku mencoba mengingat wajahnya , berapa kali aku bertemu dengannya. Ibunya adalah kakaknya bapakku. Dengan kata lain dia adalah kakak sepupu ku. Karena itu sewaktu aku masih kecil bapak sering mengajak aku dan kedua adikku untuk menginap di rumahnya ketika hari Sabtu malam Minggu. Kami sangat senang karena kami tidur di kamar tidur susun yang bagian atas. Tapi setelah kuingat-ingat lagi aku tak pernah melihat wajahnya atau bertemu dengannya kala itu.


Aku juga sering datang kerumahnya untuk mengantar makanan ketika mau puasa atau mau lebaran, kami menyebutnya megengan. Tapi dia tak pernah kelihatan hanya kakak-kakaknya yang menyambutku. Cak Hanafi atau cak Hambali biasanya yang menyapaku dengan ramah. Kalau aku ke sana bisa dipastikan aku tak bisa langsung pulang karena aku akan dipaksa untuk makan terlebih dahulu.


"Ayo dek santap!"


"ayo dek sikat ae"


"Ayo dek gak usah isin-isin!"


Cak fi dan Cak Mbali sangat ramah dengan kami. Terutama Cak Hambali yang biasanya kami panggil Cak Mbali selalu bersemangat saat menyuruh kami makan di rumahnya.


Rasanya sangat canggung ketika kami berada di rumah itu karena semua orang bersemangat menyambut tamu terutama saudara-saudaranya seperti kami. Karenanya kalau mau ater-ater ke rumah budeku yang satu itu aku dan adik-adikku pasti rebutan tidak mau. Keluarganya terlalu baik menurut kami, membuat kami merasa sungkan dan malu.


Oh ya aku ingat , aku melihatnya saat cak Hanafi menikah dan aku ikut mbiodo /rewang /berkumpul untuk membantu keluarga pengantin dalam menyelenggarakan pesta.


Waktu itu ia keluar dari kamar dengan membawa pisang yang sudah diberi hiasan seperti topi diujung tiap pisang kepada ibunya,


"Ngeten ta mak?" (Begini kah mak?) tanyanya dengan membuka hiasan yang mirip topi diujung pisang dengan suara yang pelan tanpa melihat orang-orang yang sedang berada disitu


"Lho alah nak...., nek digawe kemantenan pucuke gak usah diketoki, ngene iki biasane digawe wong mati"(Lho nak.... kalau seperti ini pucuknya nggak usah dipotong.... kalau yang seperti ini biasanya buat selamatan orang meninggal) kata budeku yang tak lain adalah ibunya.


"Terus yok nopo mak?" (Terus gimana mak)


"Wes kadung arep dikapakno? wes gak Popo, wes kadong e yok opo kate" (Sudah terlanjur mau diapakan lagi? Sudah nggak papa. Sudah terlanjur gimana lagi?)


Mungkin karena merasa malu ia langsung masuk ke kamarnya lagi, kamar yang dulu sering kutempati tidur bersama adik-adikku.


Aku sempat meliriknya, pemuda yang manis ditambah lagi dengan karakternya yang pendiam dan pemalu membuatku tersenyum saat membayangkannya. Tipe cowokku banget. Cool. Dingin dan pendiam.


Malam itu bersama rasa penat yang menggelayut di tubuhku akhirnya aku bisa terlelap setelah menyebut namanya dalam hati sambil mengingat bagaimana wajah dan perangainya.

__ADS_1


Sambil menunggu jawaban dari pamanku setiap malam aku juga mencoba solat istikharah dengan Al Qur'an sebagai wasilah seperti yang diajarkan oleh mbak-mbak.


Niat solat isthikhoroh karena Alloh ta'ala


Allohu Akbar.....


Setelah salam aku langsung mengambil Al-Qur'an yang sudah ku persiapkan. Membuka halaman secara acak dan langsung ku baca ayat sebelah kanan atas setelah itu kulihat terjemahannya dan ternyata artinya baik.


Kata mbak-mbak jika artinya baik insya Alloh baik juga apa yang kita maksudkan dan insya Allah diridloi oleh Alloh.


Aku mengulanginya tiap malam karena kurang percaya dengan tanganku, jangan-jangan itu hanya kebetulan saja. Tapi setelah ku ulang lagi besok malamnya ternyata asilnya sama saja, selalu ayat yang memberikan arti yang baik dan bahkan ada yang bercerita tentang surga.


Beberapa hari setelah itu ibuku datang lagi ke pondok sampai-sampai teman-teman ku mulai hafal wajah ibuku dan sedikit heran karena seminggu ibuku bisa sampai dua kali nyambang aku. Mereka bahkan ada yang menebak kalau aku dilamar orang.


"Mbak Aini lamaran paling ya..... hayo ngaku....!"


Aku mencebikkan bibirku tak menyanggah maupun membenarkannya.


Setelah ibuku duduk di kamar ndalem dan disitu hanya ada aku dan ibuku, aku langsung bertanya karena rasa penasaran yang sudah mengganggu tidurku beberapa hari ini.


"Dos pundi terose aba ya?" (Bagaimana katanya aba Ya?)


Mulutku terbuka saking terkejutnya mendengar jawaban dari pamanku itu. Bismillah berarti .,... berarti......


Mukaku langsung terasa hangat.... jadi.... jadi aku bakalan menikah betulan ini..., hatiku ribut sendiri. Aku tak tahu apa aku sedang bahagia atau terlalu panik mendengar berita ini. Yang jelas ada sesuatu yang menggelitik dalam hati.


Cak Im.... nama itu yang berseliweran dalam benakku. Malam itu aku mencoba mencarinya lagi dalam memoriku. Aku mencoba mengingat-ingat lagi. Kapan aku pernah bertemu dengan si pendiam itu.


Aku ingat, dia pernah datang ke pondok dengan cak Imam dan seperti biasa dia diam saja saat berada di antara kami. Padahal di kantor tempat menerima tamu ada aku, mbak Ima dan sepupuku. Entah mengapa dia ikut ke pondok padahal tak bawa apa-apa juga tak bicara apa-apa. Menyapaku pun tidak. Dasar es batu....


Aku ingat lagi.... aku pernah bertemu dengannya saat aku mau ke warung uwak. Dia berjalan menuntun sepedanya menuju majelis taklim. Mata kami bersitatap sekejap dan dia langsung memalingkan mukanya. Diam saja. Hiih.... awas lu ya.


Sebenarnya jiwaku meronta-ronta menolak untuk menyapa cowok duluan. Gengsiku sangat tinggi tetapi di depan cowok pendiam sekaligus sepupuku itu aku tak berkutik. Aku kalah tua darinya. Maka dengan segenap jiwa ku tekan egoku dan aku pun menyapanya terlebih dahulu.


"Cak Im....."


"Nggeh..h" dia menjawab sapaan ku tanpa melirik sedikitpun ke arahku malahan justru aku yang melihatnya agak lama. Sedangkan ia berlalu begitu saja. Rasanya aku merendahkan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku menyapanya duluan kayak cewek kegatelan. Waktu itu hatiku bener-bener dongkol karena aku tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari lawan jenis. Huuuh... Rasanya sangat malu.


Tapi kini setelah kuingat-ingat lagi aku tersenyum karena bagaimanapun aku suka tipe cowok seperti dia. Pendiam dan nggak murahan. Nggak suka tebar pesona apalagi kepedean.


Mataku tertutup rapat dengan pikiranku yang melayang ke belakang. Aku terlelap dengan senyum terkulum mengingatnya, Cak Imron.... Kenapa mukaku jadi menghangat saat mengingatnya.

__ADS_1


.


.


.


Pagi itu seperti biasa aku langsung menuju ruang tengah keluarga ndalem untuk mengambil tong yang berisi baju-baju yang harus dicuci. Hanya ada dua tong hari ini. Kubawa baju-baju itu lalu kurendam di dalam kamar mandi anak-anak ndalem yang berada di dalam dapur.


Setelah selesai merendamnya aku bergegas membantu mbak-mbak di dapur. Mencuci beras, mengambil panci magic jar yang ada di ndalem untuk dibersihkan kemudian nantinya akan diisi dengan nasi yang baru.


Cacak-cacak yang sudah pergi ke pasar sejak subuh telah kembali dengan becak yang terisi penuh dengan sayur-sayuran dan segala kebutuhan dapur untuk hari ini. Menu hari ini sepertinya kangkung-kangkungan. Baik untuk keluarga ndalem maupun untuk para santri. Kami pun mengangkutnya satu persatu ke dalam dapur.


"Mbak Aini.... sarung BHS iku Ojo di kom...." neng Ninis berteriak kepadaku.


deg.... kenapa tadi aku tak memilah-milah dulu, kenapa tadi aku tak melihat sarung BHS. alamak..... bisa berabe nih.


"Nggeh neng..... nggeh.... kulo pindahe, sepuntene neng wau mboten kulo pilihi, supe neng!" (Ya neng... ya ..... Ini biar saya pindah. Maaf neng .. tadi nggak saya pilah-pilah). Aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan tiga sarung BHS itu milik Gus Nafik, Gus Syafik dan mas Wafi.


Jantungku berdebar-debar nggak karuan karena ketakutan , kenapa pagi ini aku oon banget. Tiga sarung BHS tadi kuperas agar hilang air sabunnya kemudian ku taruh di tong lain.


"Kene mbak sarunge diumbah dewe Karo mas....!" ( Mana mbak sarungnya, dicuci sendiri sama mas....) Kata neng Ninis.


"Kulo umbahe neng.... pon kulo dewekno kok neng...." (Biar saya cuci neng.... Sudah saya pisah dengan yang lain kok...) aku takut membuat marah keluarga ndalem.


"Kene kok... dijaluk mas.....!" (Mana... diminta sama mas...!) Neng Ninis berkata dengan sewot.


Dengan berat hati akhirnya kuberikan juga tong yang berisi sarung-sarung BHS tadi.


"Sepuntene nggeh neng...." (Maaf ya neng..)


Neng Ninis tak menjawab dan langsung berlalu dari hadapanku.


Hais.... bagaimana tadi gus-gus bisa tahu kalau sarung bhs nya kurendam dengan sabun?


Menjadi anak ndalem itu seneng-seneng takut gimana... gitu. Tapi yang paling kami rasakan adalah kebahagiaan saat mendengar keluarga ndalem sedang di ruang makan saling bercanda dan nggak pernah ada ribut-ributnya padahal putra putri Abah ada 10 orang. Paling cuma si bungsu yang sering merengek dan digodain oleh kakak-kakaknya


Dulu sewaktu aku belum ikut ndalem aku mencuci bajuku sendiri tiga hari sekali atau paling banyak dua hari sekali dan kakiku selalu gatal-gatal karena terkena kutu air dan juga ada kadas di bawah tungkai kakiku. Tapi semenjak aku ikut ndalem kakiku sudah tidak pernah rangen lagi, kadas kurap kutu air semua hilang begitu saja. Padahal aku mencuci setiap hari dua atau bahkan bisa sampai tiga tong, setiap hari.


Tapi anehnya kakiku tidak pernah lagi terkena kutu air padahal setiap hari aku berkutat dengan air belum lagi ketika di dapur mencuci ini itu . dan kakiku mulus tak seperti dulu.


Mungkinkah itu berkah karena ikut keluarkan ndalem?

__ADS_1


__ADS_2