Misteri Cinta

Misteri Cinta
cilik


__ADS_3

"pean kelas pinten?" tanya pemuda itu padaku sambil menatapku


" kelas kale" jawabku tanpa memandangnya.


Dia adalah suharjo orang yang paling dekat dengan pamanku yang sering tidak bisa dimengerti dengan berbagai tindakannya terutama pada kami para keponakannya. Jadi kami malah memeilih menjauh karena acap kali perbuatan kami sering salah dimatanya dan kami pasti dimarahi.


" owalah jek cilik" katanya lagi


Ia kemudian hanya diam saja sambil sesekali melihatku. Aku dan mbak nurin juga diam saja. Aku bahkan tak berani menoleh untuk sekedar melihat wajahnya. Tapi aku masih bisa melihat setiap gerakannya karena jarak kami yang dekat. Mungkin hanya sekitar 60 cm.


Hanya ada suara musik yang menggema meski di tempat kami duduk saat itu suaranya tidak sampai memekakkan telinga.


Ia melepas kopyahnya hendak mengambil sebuah surat sepertinya. Aku sempat melirik dan mataku menangkap ada amplop putih yang terselip di kopyahnya. Tapi urung ditariknya.


Ia buru-buru pergi ketika mendengar seseorang seperti memanggilnya.


Mbak nurin yang dari tadi diam saja kini mulai menggodaku.

__ADS_1


" ciye mbak tuul...!"


"apaan sih mbak!" Tapi hatiku juga berbunga-bunga. Meski tak ada getar-getar di dalam hatiku tapi aku merasa bahagia karena dia adalah orang kesayangan pamanku, dia juga sudah bekerja, wajahnya juga lumayan, tidak terlalu mengecewakan.


.


Sampai keluarga pengiring pulang kami baru keluar dari persembunyian lewat dapurnya paman. Kami berjalan keluar untuk memecah kerumunan dan mencari tempat persembunyian lagi.


Saat sampai di teras aku berhenti karena SuHarjo memanggilku. Dia mengulurkan surat kepadaku dan saat aku masih mematung melihat surat dan wajahnya dia kemudian mengurungkan niatnya, " gak wes pean jek cilik ngunu". katanya


Alhasil malam itu aku berpindah tempat dari tempat persembunyian yang satu ke tempat persembunyian yang lain. Sama sekali tidak membantu orang-orang yang sedang sibuk melayani para tamu sampai tiba waktu malam. ---Dasar diriku---


Keesokan harinya kamipun langsung kembali ke pondok bertiga dengan naik len. Aku yang selalu heboh sendiri saat naik len mencari tempat terdepan disamping pak sopir. Kerudung kusibak kekanan dan kekiri untuk menutup hidungku agar tidak merasakan bau mobil yang akan membuat perutku seperti di kocok-kocok.


Sesampainya di pasar brangkal tempat pemberhentian len aku keluar dengan merasakan kelegaan yang luar biasa karena sudah bebas dari rasa yang menyiksaku selama di perjalanan. Huff....Aku bisa bernafas dengan lega. Kuhirup oksigen sebanyak-banyak untuk menghilangkan pusing di kepala yang menderaku tiba-tiba.


Mbak Nurin menceritakan kepada mbak ima tentang kejadian semalam , saat kami sudah tiba di pondok.Hal itu k membuatnya ikut-ikutan menggoda diriku. Apalah.....apalah...

__ADS_1


Benarlah kata orang-orang, meski lidah itu tak bertulang tapi kekuatannya bisa meruntuhkan dinding yang kokoh. Salah satu santriwati disitu ada yang berasal dari daerah yang sama dengan suharjo, Dawar blandong, namanya Qomariyah. Lagi-lagi mbak ima malah menyebarkan berita itu


" mbak kum...." teriak mbak ima yang ada di bawah sedang duduk-duduk di belakang kantor santriwati


" heee lapo im...?" jawab mbak kum yang juga sedang bersantai di lantai dua tepat diatas tangga


" iki lho kajange dadi tonggo pean mbak kum...." katanya sambil menunjukku


" mbak opo se....?" kataku karena malu. Mereka berbicara jarak jauh dengan suara yang keras dan sudah pasti seluruh pondok bisa mendengarnya dengan jelas


#############


Aku baru ingat kejadian ini adalah saat aku duduk di kelas dua. Tapi di cerita ini aku sudah kelas tiga. Jadi kedepannya aku juga bingung bagaimana mensiasatinya.


Harusnya mbak ku sudah boyong saat aku sudah kelas tiga dan aku sudah ikut ndalem.


piye.... iki aku maleh koyok mbujuk malihan

__ADS_1


__ADS_2