
Aku memutuskan untuk menerima Davic dan sudah menulis surat untuknya tinggal menitipkannya pada mbak Indi saja. Pikiranku buntu, hanya ada kekhawatiran yang kurasakan. Khawatir dia berbuat yang lebih buruk lagi. Semoga tidak ketahuan pengurus dan nggak ketakzir. kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keesokan paginya Saat sekolah aku merasa mataku semakin hari semakin buram. Aku tidak dapat melihat dengan jelas tulisan yang ada di papan tulis karena jarak bangku tempat dudukku agak lumayan jauh dari papan. Sedangkan saat diniyah aku duduk di bangku paling depan sehingga aku masih bisa membacanya meski sedikit buram.
Aku merasa itu karena kebiasaan burukku yang sering membaca terlalu dekat saat hendak tidur. Tapi aku tak menghiraukannya dan lama kelamaan mataku makin buram sehingga membuatku sering bertanya pada mbak Inun yang ada di sebelahku, tulisan apa yang ada di papan tulis. Dan seringkali aku meminjam catatannya untuk kusalin di pondok.
Mbak Inun kemudian menyarankan padaku agar aku memeriksakan mataku dan hal itu terdengar oleh wali kelasku.
Beliau mengajakku ke kota untuk periksa mata. Dari hasil test itu diketahui bahwa mataku kananku minus 3 dan mata kananku 1,25. Pak guru menawarkanku untuk membelikan kaca mata tapi aku menolaknya.
Akhirnya aku minta izin pulang pada gus Zaki Karena ibuk sedang tinda'an ketika ibuku sudah menjemputku, dengan alasan mau membeli kaca mata. Dan memang kami langsung menuju optik untuk memeriksa mata lagi, test lagi yang hampir sama dengan yang test yang kulakukan sebelumnya. Kemudian ibuku memesan kaca mata dengan sedikit negoisasi masalah harganya.
__ADS_1
Aku hanya menginap semalam dirumah dan keesokan harinya sudah langsung balik ke pondok. Karena fobiaku ketika naik mobil jarang sekali aku balik ke pondok naik angkutan umum. Lebih sering aku minta diantarkan naik sepeda motor oleh kakak-kakak sepupuku terutama anak-anaknya bude.
.
Akhirnya aku menjadi si mata empat setelah kaca mata yang di pesan ibu telah siap dan ibu mengantarkannya kepadaku di pondok
.
.
"An....!"panggilnya. Aku menoleh padanya dan dia tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya dan langsung menuju ke kelas sedangkan dia langsung berjalan ke kelasnya. Hanya seperti itu interaksi kami.
__ADS_1
.
.
Hari minggu setelah ro'an, kamarku yang hari itu mendapat giliran membersihkan kamar mandi. kami bekerja lebih cepat agar bisa ikut pengajian pak Zein, ustadz faforitku.
Kami mandi dengan terburu-buru dan panik karena air yang masih sedikit belum sampai 2 kolah membuat kami kalang kabut. Untungnya aku di kamar mandi nomer 2 yang terdapat saluran air diesel dari luar pondok tepatnya di sebelah makam mbah yai Ismail.
Aku mandi dengan menadahkan gayungku di bawah kran besar yang aliran airnya sangat besar istilah kami ' gembrajak' membantuku mempercepat waktu mandiku.
Aku lega saat sampai disekolahan pak Zein belum rawuh. Aku menoleh keluar jendela melihat sekolahan yang tampak lengang karena hari minggu aktifitas sekolah sedang libur. Hanya terlihat beberapa anak ke makam
__ADS_1