Misteri Cinta

Misteri Cinta
sisipan


__ADS_3

Setelah dua minggu lebih aku berada di rumah, kondisiku sudah sangat membaik. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasa meskipun tubuhku masih terasa sedikit lemas.


Aku sudah memutuskan untuk kembali ke pondok hari Minggu dan semua keperluanku pun sudah dipersiapkan dengan baik.


Pagi harinya ibu cak Jidin datang menjengukku. Beliau mungkin tahu kalau aku akan kembali ke pondok hari itu, dan memberiku oleh-oleh buah mangga kesukaanku. Aku senang, terlebih lagi karena cak jidin tidak ikut. Pasti akan sangat canggung kalau bertemu dengannya dan ibunya sekaligus. Terlihat sekali kalau ibu cak Jidin itu menyangiku.


Aku berpamitan pada seluruh keluargaku dan mereka tak berhenti mendoakanku dengan tulus ikhlas.


.


.


Sesampainya aku di pondok, aku langsung sowan pada bu nyai. Bu nyai pun menyambutku dengan senyum bahagia.


" Tiba e sakit apa?"


"Mboten buk"

__ADS_1


"Arek-arek iku kangen mulih ae sampe loro koyok ngunu!" kata bu nyai sewot seperti biasanya.


Aku tidak mengatakan kalau aku sakit radang paru-paru pada bu nyai, nggak enak aja kalau mengatakan yang sejujurnya.


"Yo wes ndang melbu!" kata bu nyai padaku.


Aku salim lagi sambil mencium punggung tangan beliau untuk berpamitan masuk ke dalam pondok.


Di pondok teman-temanku menyambutku dengan bahagia. Mereka ramai menyambutku. Hal ini membuatku terharu karena aku adalah orang yang sering menyendiri dan kurang ramah pada seluruh anak-anak pondok. Tapi mereka menyambutku dengan antusias dan wajah yang bahagia.


"Lho mbak Aini sudah balik....?"


" Wajah pean masih sedikit pucat mbak!"


"Pean sakit apa mbak?"


"Mbak Aini....! kangen...!"

__ADS_1


Mereka menyerangku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Dan aku hanya menjawab beberapa pertanyaan dari mereka sambil tersenyum.


.


.


Keesokan harinya adalah Hari senin. Aku masuk sekolah setelah libur panjangku. Teman-teman sekelasku memberiku roti. Mereka mengatakan bahwa kemarin saat aku kembali ke pondok, beberapa teman dan wali kelasku datang ke rumahku untuk menjenguk karena aku izin masuk sekolah cukup lama. Ternyata kami bersisipan jalan. Aku balik ke pondok mereka datang ke rumah.


Kehidupan di pondok dan sekolah ku setelah itu berjalan seperti biasa.


Sampao suatu saat banyak anak-anak dari kelas 1B mengatakan kalau aku dapat salam dari seseorang yang bernama Davic dari kelas B. Dari gosip-gosip yang beredar terkuaklah kalau Davic ini adalah seorang vokalis grup solawatan dan yang biasa menyebut namaku sambil berdendang ketika aku sedang berjalan di pagi hari menuju ke sekolah.


Dia anak rumahan kata mereka. Dia dulu ketika di bangku MTS selalu menjadi ketua kelas maka saat ini dia menolak menjabat sebagai ketua kelas lagi. Saat MTS juga, katanya dia berpacaran dengan bintang sekolahan. Namanya Ana, dia yang selalu menjadi juara satu sejak kelas satu Mts sampai kelas 3 MTS. Tapi, masih kata gosip, kini mereka sudah putus.


Ana memang terkenal di sekolahan tapi saat Aliyah nilainya kerap bersaing dengan teman sekamarku, namanya Laili.


Aku sendiri ingin melihat dengan jelas yang namanya Davic, cowok yang sering kudengar suaranya tapi aku belum tahu wajahnya. Karena setiap kali berjalan aku menundukkan kepalaku dan ketika cowok-cowok yang berjongkok berjejer di depan kelas mencoba menggodaku dengan memanggil namaku aku tak menghiraukannya apalagi melihatnya.

__ADS_1


Siang itu beberapa anak dari kelas B datang dan salah satu anak yang memiliki postur tinggi, tegap, berkulit coklat matang dan rambutnya dibelah tengah meminta izin pada pak Guru untuk meminjam buku paket pelajaran bahasa Inggris dengan suara yang menurutku sangat berwibawa dan dewasa.


Dari percakapan pak guru dan cowok itu aku baru tahu dialah yang bernama Davic. tapi panggilan teman-temannya lebih sering Da o'.


__ADS_2