Misteri Cinta

Misteri Cinta
surat


__ADS_3

Keseokan harinya, saat aku di rumah mbah aku menonton tv sendirian. aku duduk di lantai sambil menselonjorkan kaki dan Menyandarkan punggungku ke dinding. Aku sendirian dirumah karena Mak jah sedang njagong dengan mbah kaji kalimah di belakang rumah di bawah pohon yang rindang.


terdengar seseorang mengetuk dengan pelan


tuk tuk tuk,


aku menoleh ke arah jendela. Aku terkejut melihat sosok orang yang beberapa hari terakhir sering kami bicarakan. Imam memberikan dua bungkus kresek kepadaku. Rasa canggung itu menyelimuti kami hingga kami kekurangan kata. Dia berlalu begitu saja saat aku mengucapkan terima kasih.


Aku melihat isinya, bakso. Entah dia tahu atau tidak kalau aku yang melihat televisi dan sengaja memberi bakso untuk sekedar menyapaku atau mungkin mau berbincang-bincang denganku entahlah... aku tidak tahu.


Meski begitu mendapatkan bakso membuat hatiku senang. bakso bukanlah makanan faforitku seperti kebanyakan orang.


Aku mengambil satu bungkus dan memakannya tapi pentolnya tidak kuhabiskan. Saat makan bakso yang paling dahulu kumakan adalah kuahnya (yang sekarang baru kusadari rasanya itu micin tok) sedangkan mi, tahu, gorengan, dan pentol ,aku mau tapi tidak terlalu bersemangat. seandainyabada mi ayam dan bakso aku pasti akan lebih memilih mi ayam.


.


.


Hampir dua minggu sudah aku dirumah dan waktu kembali ke pondok sudah semakin dekat. Akupun sudah mulai berkemas karena besoknya aku harus berangkat pagi-pagi.


aku dudk di lantai ruang tengah sambil menata makanan yang disiapkan mak jah yang akan kubawa kepondok. Mak jah dan mbah Bardi duduk menemaniku di ruang tengah. Mak sudah menyiapkan mi, pia, dan sambal goreng kentang bikinan mbah rap setoples besar

__ADS_1


Mbak min tiba-tiba muncul di dapur melalui pintu belakang. Ia mendekat ke arahku kemudian menyalamiku.


"Mboten mbak min, mboten " kataku menolak amplop yang di berikan olehnya. Aku mengira mbak min memberiku uang saku karena mendengar aku akan balik ke pondok


"pon talah...." kata mbak min


"mboten mbak min, " kataku malu-malu tapi sebenarnya mau--hehehe---- aku mencoba melepaskan tanganku yang digenggam erat olehnya.


"mboten, iki mboten sangu kok" katanya.


Akupun melihat ke arah tanganku kemudian mbak min pun berlalu dari hadapan kami.


Aku membuka amplop yang ternyata berisi sebuah surat dan uang dua puluh lima ribu.


buat kamu


yang akan kembali ke pondok


sejak pertama kali melihatmu aku merasa jantungku berdetak dengan cepat, hatiku berbunga-bunga meski cuma melihatmu sekilas. Terkadang aku ingin bertemu denganmu dan berbincang tentang banyak hal tapi aku tak punya keberanian.


Sudah sejak setahun yang lalu aku memendam rasa ini padamu. Aku melihatmu pertama kali saat kau sedang liburan dan sedang duduk di teras dengan mbah. Aku bertanya pada kakakku,"siapa gadis manis itu?" dan kakakku mengatakan kalau kamu adalah cucunya mbah.

__ADS_1


Aku tahu aku orang miskin jadi aku menahan diri. Tapi seandainya kamu punya rasa yang sama untukku maukah kau membalas suratku ini.


Aku akan menunggu balasanmu


imam bukhori


Aku membaca surat itu sambil cekikikan.


Mak jah dan mbah bardi yang melihatku hanya menggelengkan kepala. Mereka tahu Imam adalah pria yang baik yang sering membantu mak maupun mbah jika ia sedang berkunjung ke kontrakan kakaknya yang tak lain adalah rumahnya mbah. Imam sering memberi uang pada mereka dan pernah juga memberi hiasan dinding hasil karyanya sendiri.


Aku membacanya lagi dikamar, rasanya seperti punya penggemar rahasia. Tapi aku tak berniat untuk membalasnya. Aku tak punya kata-kata untuk menolaknya. jadi aku membiarkannya begitu saja.


mak jah kemudian masuk ke kamar yang sempit itu sambil memberikan uang dua puluh ribu kepadaku.


" iki teko mbak min" kata mak


" kok dewe-dewe se mak?"


" wes trimoen ae! oleh rejeki gak oleh nolak!"


-----????---?????----?-??--------------------

__ADS_1


isi surat itu ku karang ya, aku benar-benar lupa isinya mungkin karena aku menganggapnya biasa saja, tak ada yang istimewa


.


__ADS_2