
Sebelum hari H ada seorang temanku yang datang ke rumah. Sebut saja namanya Baba. Ia adalah teman sekolah Aliyah. Rumahnya berada di sekitar pondok dan dia sekolahnya satu almamater dengan ku. Bahkan pernah duduk satu meja dulu.
Kami menyebutnya arek kampung karena mereka anak-anak yang berdomisili di sekitar pondok dan hanya sekolah saja disana tidak ikut diniyah.
Awalnya aku bingung kenapa dia datang padahal teman-teman sekolah tidak ada yang ku undang. Apalagi kami juga lama tidak pernah berkomunikasi. Handphone pada masa itu masih belum ada.
Baba yang membawa dua tas membuatku sedikit curiga dan akhirnya dia bercerita kalau dia kabur dari rumah karena orang tuanya menjodohkan dia dengan seseorang yang tidak disukainya. Berbekal alamat dari buku memory dia pergi ke rumahku dan sudah beberapa rumah teman kami.
Aku sedikit khawatir karena esok aku akan menikah dan kini menampung anak yang sedang kabur dari rumah. Takut saja kalau-kalau orang tuanya datang dan marah-marah padahal sedang banyak tamu dan para tetangga di rumahku. Apa kabar dunia?
Untungnya dia tak lama karena memang semua orang sedang sibuk di rumahku. Memasak dan mempersiapkan yang lainnya untuk acara sakral yang digelar esok hari. Seingatku Baba cuma ikut membantu madahi jajan madu mongso waktu itu. Sorenya ia berpamitan pada ibuku dan rencananya mau ke rumah teman yang lainnya lagi. Aku tak mencegahnya justru bersyukur karena takut kena masalah padahal besok sudah hari H.
.
.
.
__ADS_1
Keesokan harinya aku masih ikut membantu madahi jajan di ruang tengah karena tidak diperbolehkan membantu di dapur. Takut kena sawan katanya orang-orang. Aku hanya membantu sebentar saja kemudian lebih banyak menyalami tamu yang tak henti datang. Selebihnya aku beristirahat di dalam kamar karena malamnya aku akan menjadi pusat perhatian semua orang jadi jangan sampai kelelahan. Bukannya tak mau menemui tamu tapi aku punya darah rendah dan mudah kecapekan.
Tidak ada konsep pernikahan. Hanya akad nikah saja. Melalui adiknya Cak Im yang bernama Khuzaimah kami saling mengirimkan pesan. Dia sudah mewanti-wanti tidak mau didudukkan diatas pelaminan apalagi dikarak terbang atau diiringi hadroh saat datang.
Meski sebenarnya aku ingin duduk di pelaminan dan inginnya ketika kami dipertemukan diiringi pembacaan sholawat tapi aku ikut saja. Tak mempermasalahkan yang penting ijab kabul nya sah. Itu nggak masalah.
Ibu dan bapakku ikut keputusan kami. Sebenarnya kalau aku mau pakai pelaminan ibu juga tak masalah karena aku anak pertama dan ibu belum pernah punya hajatan. Secara kelima anaknya perempuan semua jadi sama sekali belum pernah menggelar pesta.
Tamu berdatangan sejak pagi sampai-sampai ibuku kewalahan. Baru bisa Solat dhuhur menjelang ashar kurang sepuluh menitan dan para tamu diminta untuk menunggu karena ibu langsung solat ashar begitu adzan berkumandang.
Sore harinya aku bersitegang dengan tetanggaku yang ikut membantu di dapur. Gerimis mulai datang dan mereka mau melakukan antisipasi dengan meminta celana dalamku untuk dilempar ke atas genting. Tujuannya agar hujan berhenti sampai esok hari. Tentu saja aku menolak dengan keras keinginan mereka ini. Filosofi darimana itu? Nggak kaidah yang mendasari perbuatan semacam itu.
Tak percaya dengan kepercayaan yang tidak ada ilmunya itu aku pun ikut mandi di rumah sepupuku, di rumah mbak Muntadhiroh yang rumahnya ada di depan rumah ibuku. Kalau memang waktunya hujan ya hujan saja. Memang lagi musimnya. .
********
Percakapanku dengan pak suami kalau lagi mengenang masa lalu
__ADS_1
me : yah terose tiyang-tiyang mbiyen pas kemantenan pean mblayu disiki nggeh? pengiringe tasek Ten mburi pean pon teng mbale. Nopo o yah. pean pon kebelet ta? (yah katanya orang-orang dulu pas pernikahan pean lari duluan padahal pengiringnya masih di belakang. Pean sudah sampai di ruang tamu kenapa yah? Ayah sudah pingin tah)
bebeb : he e kebelet malam pertama. Pean tambah nemen ngunu....(iya ngebet pingin malam pertama. Pean malah lebih parah gitu...)
me : maksute? (maksudnya)
bebeb : pas aku mriku pean lak wes siap se. Berarti seng luwih kebelet iku pean. Ketoro ae pean wes ngenteni aku suwe lak Yo...? (Waktu aku datang pean kan sudah siap? Itu berarti yang lebih ngebet itu pean. Kelihatan kamu sudah nungguin aku lama. iya kan?)
me : diiihh mboten ngoten yah.... (Dih.... enggak ya yah)
bebeb : lha pean wes paesan Iku ngenteni sopo hayo, pean ngomong lak ngunu nek ngesir aku ket mbiyen aku cek e gak ndolek adoh-adoh. jbus kono-kono pungkasane nggletek .... Nang kene ae (lha pean sudah dandan itu nunguin siapa hayo, pean bilang dong kalau sudah naksir aku dari dulu biar aku tidak mencari jodoh jauh-jauh sampai kemana-mana ternyata dapat yang dekat.
me : dihhh nggilani.
bebeb : ngomong lak ngunu Ket mbiyen, cak im aku padamu (Bilang dong dari dulu, Cak Im aku padamu)
me : sorry ya , hiiii ........gemes aku ambek pean yah. Tak gigit lho nggeh...! (Sorry yah hiii gemes aku sama pean)
__ADS_1
bebeb : nyoh pean milih seng endi?(Nih pilih saja yang mana?
ayah.......... tak habiskan kau hari ini yah.........