Misteri Cinta

Misteri Cinta
mood


__ADS_3

Begitu baunya sampai di hidungku, akupun tak bisa menolak untuk tidak makan. Mood boster pokoknya.


Setelah aku selesai makan, obat sudah disediakan oleh mak jah di samping gelas yang berisi air putih.


"Ndang di ombe obate lo yo" kata mak jah sambil pergi ke depan, mungkin ke teras.


Akupun menuruti perintahnya. Aku minum air tapi ku tahan di rongga mulut kemudian ku masukkan obat ke dalam mulutku dan ku telan dengan segenap upaya tapi obat itu tersangkut di pangkal lidahku. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku hanya sedang menelan air. Tapi tak berhasil juga, obat itu tak mau masuk ke dalam perut dan masih bergentayangan didalam mulut.


Rasa pahit yang menguasai lidahku membuat perutku mual sehingga memaksaku untuk berlari menuju ke belakang dan memuntahkannya di area sumur. Tempat kami menimba air , tempat mencuci pakaian juga peralatan masak kami.


"huwwek....." aku membungkukkan tubuhku ke bawah di dekat kran, tempat yang biasanya kami pakai untuk wudlu. Bukan hanya obat yang keluar tapi juga makanan yang baru saja kumakan ikut keluar dengan bau yang bercampur-campur antara bau anyir juga pahit.


Ku buka krannya agar muntahanku terbawa arus masuk ke dalam selokan.


Aku kembali ke kamar dengan terseok-seok. Lemas sekali tubuhku.

__ADS_1


Mak jah dan mbah Bardi berada di depan saat aku muntah sehingga mereka mengira bahwa aku sudah meminum obatnya.


Sampai beberapa hari mereka tidak mengetahui kalau aku tidak pernah meminum obatnya. Saat mereka menyuruhku minum obat aku hanya diam saja tak menjawab. Dan kalau mereka bertanya apa obatnya sudah kuminum aku berbohong dengan menjawab iya. Padahal aku menyembunyikan obatnya di bawah bantal.


Sehari sekali mak jah memberiku minuman herbal daun pepaya yang diambil dari daun pepaya yang ditumbuk kemudian ditambah sedikit air, kemudian diperas. Jangan tanyakan bau dan rasanya. Sungguh terlalu nggak enak di hidung maupun di mulut.


Tapi aku masih bisa meminumnya.


Hari berlalu sampai satu minggu lebih tapi keadaanku tidak banyak berubah. Hal ini membuat mak jah curiga.


Akupun harus menerima ceramah agama selama beberapa menit dari mak jah ku yang cerewet dan mendapatkan sanksi tegas yakni harus minum obat di depan mak jah sampai obat itu tertelan dan benar-benar masuk ke dalam perut.


Alhamdulillah, sekitar 10 hari di rumah kondisiku semakin membaik. meski badanku masih lemah tapi aku sudah bisa ke kamar mandi sendiri, sudah bisa berhaha hihi dengan adik-adikku, batukku juga sudah hampir hilang dan sudah doyan makan.


.

__ADS_1


.


Malam setelah semuanya solat isya, mbah, mak jah dan adik-adikku menonton televisi di ruang tamu. sedangkan aku hanya tiduran di kamar karena kondisiku masih lemah.


"Gedebuk gedebuk gedebuk....!" Adik-adikku tiba-tiba berlari ke belakang ke arah dapur seperti sedang dikejar-kejar setan.


Aku mencoba mendengarkan dengan seksama, ada siapa di ruang tamu sehingga membuat adik-adikku berlarian.


Matakupun membulat sempurna ketika aku mendengar suara seseorang yang sangat kukenal. Akupun ikut berlari ke belakang. Tujuan ku adalah ke wc kecil kami yang berada di samping kamar mandi.


Ternyata kedua adikku sudah ada disana dan mengunci pintunya dari dalam.


"Buka!!!" teriakku


"Gak amot nang kene. nango ngarep ae pean. lak pean seng didoleki se!" (nggak muat disini, pean ke depan saja. kan pean yang dicari).

__ADS_1


__ADS_2