
Tiap hari sahabat-sahabatnya Davic mendekatiku dan mengatakan kalau Davic mengirimkan salam padaku. Setiap hari.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Sama sekali tak meresponnya dengan kata-kata. Mereka semakin gemas saja kepadaku dan merengek-rengek memintaku untuk menerimanya sebagai pacarku.
Menerima Davic apanya. Bahkan kami sama sekali tidak pernah ngobrol. Dia tidak seperti cowok-cowok lain yang kerap menggodaku, yang memanggil manggilku ketika aku lewat, mencoba mengambil fotoku dengan kamera, atau tiba-tiba memanggilku ketika aku duduk di kelas sehingga membuatku langsung menoleh dan mereka hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Bahkan mungkin ia termasuk cowok pemalu karena aku tak pernah melihatnya hilir mudik di depanku untuk mencari perhatianku.
Meskipun sudah tidak menjabat sebagai ketua kelas lagi tapi teman-temannya masih mendakwanya untuk berbagai macam kegiatan. Mereka terlihat sangat bergantung padanya.
Ia semakin sering menampakkan batang hidungnya di kelasku untuk meminjam buku, sapu atau urusan lain yang berhubungan dengan kelasnya. Mungkin berniat caper padaku. Tapi sikapnya sama sekali tak menampakkan kalau dia menyukaiku. Dia bahkan tidak menoleh padaku padahal ruangan kelasku sangat sempit. Cool banget sikapnya.
Hanya sahabat-sahabat ceweknya yang masih sering mendekatiku, entah benar atau tidak jika dia mengirimkan salam lewat teman-temannya kepadaku. Tapi itulah yang selalu dikatakan mereka padaku.
__ADS_1
Di akhir tahun saat ada acara akhirussanah dia tampil dengan grup solawatnya sebagai vocal. Suaranya sungguh merdu. Halus dan penuh penghayatan. Dan yang penting dia tidak jelalatan dan tidak mencari perhatian padaku dengan cara murahan.
Dia membawakan beberapa lagu dan diantaranya ada namaku,"ya Qurrota aini ya habibi salam alaika salam alaika....."
Aku tahu itu pujian untuk Nabi tapi karena ada namaku aku merasa sedikit baper dan tersanjung karenanya.
Saat kelas dua bukannya mundur teratur, Davic malah mengirimkan surat padaku. Lewat sahabatnya yang bernama Indi. Dia sepondok denganku dan kamarnya berada diatas lantai dua.
Aku cukup takut saat menerima surat itu dari mbak Indi karena pengurus pondok yang sekamar denganku sepertinya melihat gelagat aneh mbak Indi saat memberikan surat padaku. Aku takut kena takzir.
Di kamar mandi aku membacanya sambil senyum-senyum sendiri. Itu bukan surat pertama yang kudapat dari seorang cowok. Tapi kali ini aku merasa bahagia karena ada cowok yang menyukaiku secara diam-diam.
__ADS_1
Berhari-hari tak merespon dan menjawab surat Davic, teman-temannyalah yang merengek dan mencoba merayuku, memintaku untuk segera membalas surat nya.
Aku sendiri tidak ada keinginan untuk membalas suratnya karena aku tidak ada rasa suka yang sama padanya. Kami sama sekali belum pernah ngobrol. Lalu bagaimana aku akan menyukainya sedangkan kami sama sekali tidak saling mengenal.
Aku tidak tahu bagaimana harus menolak seseorang jadi aku tak berniat untuk membalasnya.
Sampai suatu hari sahabatnya yang bernama Ina,yang aktif mendekatiku mengatakan padaku kalau seandainya aku menerima Davic maka Davic akan bancaan donat. Aku yang amat menyukai makanan yang endul-endul empuk piye itu langsung gesrek. Ada keinginan untuk menerimanya agar bisa makan donat gratisan. hehe.... kejamnya diriku.
Suatu hari mereka mengatakan kalau Davic menyayat lengannya dan menuliskan namaku disana. Hatiku kaget bukan main saat itu. Tapi aku menyembunyikannya dengan mengulas senyum saat mendengar berita itu.
Hari itu aku hanya memikirkan Davic saja. Pikiranku berkecamuk. Apa memang benar dia melakukannya ? kenapa dia harus melakukan hal bodoh seperti itu? Apakah benar yang dikatakan teman-temannya kalau dia frustasi karena aku tak membalas perasaannya?Hatiku jadi bimbang. Apakah harus menerimanya agar dia tak bertindak bodoh? Malam itu gelisah tiada tara memikirkannya. Aku takut dia akan bertindak lebih jauh lagi.
__ADS_1
Keesokan harinya aku meyakinkan diriku untuk bertemu dengannya untuk memastikan dengan mata kepalaku sendiri. Apa yang dikatakan teman-temannya itu benar atau tidak