
Mbah Bardi yang duduk di sampingnya mak Jah sedari tadi hanya sesekali menyahut obrolan kami. Mbah ku ini sangat pengertian dan mereka adalah pasangan yang romantis, setidaknya menurutku.
Usia Mak Jah lebih tua dari mbah Bardi. Mak jah sudah menjanda tiga kali saat bertemu dengan mbah. Mereka bertemu karena bekerja di sebuah rumah makan yang ada di Surabaya.
Mak jah adalah sosok yang cantik wajahnya putih, hidungnya mancung, tubuhnya tinggi, langsing dan kecantikannya itu masih terlihat sampai usianya sudah lanjut. Mak Jah adalah sosok yang banyak omong, galak tapi pekerja keras dan giat bekerja dan sangat hemat. Dengan pekerjaan mbah yang hanya buruh pabrik mereka bahkan bisa membeli tanah dan membuat rumah diatasnya.
Dulunya mamakku ini pernah menikah dengan guru ngaji orang Gresik, tukang becak juga dari Gresik dan saudagar kaya dari Mojokerto, tapi tak bertahan lama. Yang pertama dan kedua mak Jah lah yang meminta cerai karena katanya sudah nggak suka lagi. Meski suami dan mertuanya mencoba membujuknya tapi Mak Jah tetap kekeh pada pendiriannya.
Sedangkan dengan saudagar yang statusnya duda banyak anak mak Jah Sebenarnya nggak patut(nggak suka, nggak cinta ) tapi tetap menikah dengannya. Meski setelah menikah mereka tidak tidur seranjang.
__ADS_1
Sampai suatu saat ketika malam hari ada suara-suara yang mirip seperti pencuri dan mak Jah ketakutan kemudian mendekat ke tempat tidur suaminya.
Saudagar yang sudah tertidur itu kaget karena istrinya tiba-tiba ndungsel-ndungsel padanya. Kemudian dia bertanya, "lapo?"
"Shutt, menengo wong!. onok maling" kata mak Jah kemudian memeluk tubuh suami kayanya. Sejak itulah mak jah patut pada suaminya dan mau tidur seranjang dengan suaminya. Tapi tak lama setelah itu saudagar kaya itu meninggal dunia. Anehnya mak jah tidak mau menerima bagian warisan untuknya sebagai seorang istri. Ia berkata"kulo mriki gak nggowo nopo-nopo metu yo gak nggowo nopo-opo."
Sedangkan mbah Bardi adalah sosok yang sabar, tenang, baik hati dan penyayang. Dan sangat enak masakannya. Masak apapun itu terasa sangat lezat, bikin sambal goreng tahu, nasi goreng, sambal kecap, soto, sate rasanya mak nyus. Padahal bumbunya tak seberapa banyak dan nggak pakai micin juga tapi rasanya nggak pernah bohong (kalau sekarang siapapun bisa ahli memasak karena bumbu tiap masakan sudah ada dalam bentuk kemasan, jadi tinggal masukin saja. jaman know mah so easy semua)
Tak terhitung banyaknya aku menyakiti mbah ku itu tapi beliau tetap sabar. Aku bahkan selalu manja padanya tentang banyak hal. Ketika ada tugas untuk memfoto copy, membuat kerajinan tangan seperti irus, membuat bunga, atau menggambar aku pasti minta tolong pada mbah.
__ADS_1
Mak Jah kepincut sama mbah Bardi yang masih muda dan bening. Usianya jauh dibawah mak jah, mungkin janda cantik ini jatuh cinta dan terpana pada brondong. Meski kata mak Jah ia menerima mbah Bardi karena mbah adalah anak yatim yang hidupnya menyedihkan.
Memang sejak kecil mbah Bardi ikut orang menjadi pembantu dengan upah diberi makan dan disekolahkan. Tapi majikan wanitanya itu sangat jahat. Bila ia menemukan baju yang sudah di cuci dan sedang di jemur masih terlihat ada yang kotor maka baju-baju yang ada di jemuran itu akan ditarik semua dan dijatuhkan ke tanah kemudian di injak-injak olehnya.
Kalau versi mbah Bardi kenapa mau menerima mak Jah karena katanya dia di goda-goda terus oleh mak Jah. Entahlah mana yang benar mana yang salah.
Tapi suatu ketika mbah marah pada mak Jah kemudian mbah curhat padaku. "mak pean iku njengkelno, pacarku tak tinggalno, belani deweke saiki koyok te*lek" katanya dengan kesal. seumur-umur hanya sekali itu saja aku melihat mbah Bardi marah. Aku tidak tahu apa yang sudah diperbuat mak Jah sampai mbah merasa jengkel seperti itu.
"Nate nggadah pacar tah mbah, tiyang pudi?" tanyaku penasaran suatu saat.
__ADS_1
"Anak malang, areke ayu, kalem, nurut" kata mbah sedih.